ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #8

Mangata

 “Maaf,” ucapku singkat.

Ibu menatapku sayu, malam itu aku menerima konsekuensi dari apa yang telah kulakukan, aku tau ini akan terjadi, Sebelumnya saat aku memutuskan untuk pergi mendaki aku memang tidak meminta izin kepada ibu secara langsung, bukan bermaksud sengaja aku sudah mencobanya berulang kali, namun aku selalu kalah di hadapan ibu, ibu selalu melarangku tiap kali aku mengutarakan keinginanku untuk mendaki, wajar saja jika ibu demikian, gunung tentu merupakan tempat dengan segudang bahaya. Namun keinginanku untuk mendaki tak pernah hilang, setiap kali aku melihat alam hasratku selalu menggebu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar pergi.

“De kasihin ini ke Ibu, yah,” ucapku dua hari lalu pada Ayya, si bungsu berusia 16 tahun. “Idih masih zaman maen surat-suratan,” jawab Ayya.

“Udah deh pokoknya kasihin aja,” ucapku

“Emang Mbak mau ke mana, mau kabur yah?” tanyanya. “Kalau Mbak kabur gak akan nitipin surat ke kamu, nanti juga kamu tau, awas jangan dibaca duluan,” ucapku mengancam. Aku memutuskan untuk meminta izin pada Ibu dengan cara lain, ku tuliskan semua kata yang tak dapat ku utarakan dalam secarik kertas, lalu aku pergi saat Ibu tak ada di rumah, Aku berharap dengan cara ini Ibu akan mengerti bahwa aku sudah dewasa sesekali aku perlu mengambil keputusanku sendiri, sengaja selama pendakian aku mematikan handphone-ku agar aku tidak terpengaruhi untuk kembali, karena aku tau saat Ibu meminta aku untuk pulang aku tak akan bisa menolaknya, aku ingin sejenak membiasakan ibu jika kelak aku tidak ada .

Sepanjang jalan menuju pulang aku mempersiapkan diri menghadapi ibu yang ku pikir mungkin akan marah, namun saat sampai di rumah, ternyata Ibu hanya diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Aku tidak tau Ibu diam karena marah atau memang ia sudah memahami isi suratku. Tapi diamnya Ibu lebih mengkhawatirkan, aku pun memberanikan diri untuk meminta maaf, aku tau tindakanku salah dan demikianlah ajaran Ibu sejak kecil jika salah aku harus berani meminta maaf.

Lihat selengkapnya