ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #9

TEMARAM

Sang surya kembali menyambut pagi, aku menatap langit biru, dihiasi awan yang bergerak perlahan, semilir angin menelisik dedaunan hijau, kali ini aku tidak merasakan semilir anginnya ataupun panas yang membakar kulit secara langsung, aku menatapnya di balik jendela kamar. Aku menghela napas membuka komputer lipatku, kembali meneguhkan diri untuk melakukannya, aku memberanikan diri untuk kembali menulis. Setelah bapak pergi, menulis adalah hal yang paling mengingatkanku pada bapak, karena sibuk menulislah aku lalai merawat bapak dihari terakhirnya, sehingga hanya penyesalan yang kurasakan, sejak saat itu aku tak ingin lagi menulis.

Namun pendakian kemarin membuatku menemukan banyak makna. Salah satunya, mengenang adalah anugerah dari Tuhan agar sesuatu yang hilang tetap ada, aku tak ingin lagi takut untuk mengenang, aku akan membiarkan ia hidup. Aku ingin kembali menulis ada banyak kata-kata yang ingin ku tuangkan, Aku tau tak seharusnya berlarut-larut dalam kesedihan, hidup akan terus berjalan, dan aku tidak akan pernah menemukan kebahagiaan jika hanya sibuk mengenang kesedihan di masa lalu, maka kali ini aku akan menghadapi apapun rasa takutku, perlahan aku memberanikan diri untuk menuliskan kata-kata dalam benakku. Suara tanda pesan masuk kembali berbunyi dari dunia dalam genggamanku, aku membuka layar handphone-ku dan kudapati beberapa pesan dari Siska yang ternyata berisi berbagai foto kami saat dipuncak gunung aku tersenyum memandangi foto tersebut satu persatu, merasa duniaku kembali terbawa pada masa-masa saat mendaki, menyenangkan kala itu duniaku terasa lebih hidup.

Aku menghela napas sejenak berpikir, foto-foto ini tentu berasal dari Farhan aku ingat pernah meminta foto-foto ini darinya, dan hatiku seketika Bergeming kenapa ia tidak mengirimkan foto ini secara langsung padaku kenapa harus melalui Siska.

“Bodoh.” Aku menepuk jidat.

“Kan aku yang minta dia buat kirim lewat Siska.” Ternyata secara tidak langsung aku berharap Farhan menghubungiku. Dua minggu setelah pendakian itu aku masih sering bertukar pesan dengan Siska, Rani, dan Fanny sesekali Jimmy, Rama, dan Dani pun menyapaku di dunia maya, hanya satu orang yang menghilang yaitu Farhan, aku memang menahan diri untuk tidak mencari info tentangnya baik dalam dunia maya atau nyata, aku tau beberapa pertemuan mungkin hadir hanya sebagai cerita pelengkap, anggap saja sebuah iklan yang tak lama akan terlupakan. Aku kembali mengalihkan pikiranku melihat foto-foto tersebut, sejenak menemukan ide yang baru, hidup adalah sebuah perjalan. Yah aku akan menulis tentang perjalananku, dari pendakian kemarin aku menemukan bahwa tidak ada ketakutan dan impian yang tidak terselesaikan, seketika semangatku meng gebu aku ingin menjelajahi dunia yang lebih luas aku percaya aku bisa aku akan menunjukan keindahan Indonesia pada orang orang dengan tulisanku. “Sen keluar dong, di kamar mulu, lagi pemutihan?” ucap seseorang mengetuk pintu kamar.

“Masuk aja gak dikunci,” ucapku, seketika pintu kamarku terbuka seorang perempuan berhijab terlihat menyembul masuk.

“Yaelah maenan komputer mulu, gak punya temen lo ntar,” ucap Dwi lalu melemparkan tubuhnya ke atas kasur.

“Kan ada kamu,” ucapku.

“Sejak kapan kita temenan,” ucap Dwi memicingkan matanya. Aku balas menatapnya, lalu kulempari Dwi dengan bantal seketika kami tertawa. Dwi adalah salah satu sahabatku kami telah bersahabat sejak kecil dia sebenarnya sama sepertiku suka traveling dan sebelumnya pun kami sering melakukan beberapa perjalanan dia adalah partner ke mana pun aku pergi.

“Eh gimana rasanya naik gunung sendirian?” tanya Dwi.

“Mau tau aja atau mau tau banget,” ucapku. Arsip Penerbit Gemala “Basi deh,” ucap Dwi, membuatku tersenyum.

Lihat selengkapnya