ARUNIKA

Asih Ati
Chapter #10

ASA

“Bu Sena pengen nengokin Nenek, boleh?” kataku, ibu terlihat tenang.

“Iyah Bu Ayya juga kangen Nenek.” Ayya menimpal, aku melirik Ayya sedikit cemas kata-kata Ayya akan menggagalkan rencanaku. Dalam hal ini aku berharap ibu mengizinkan untuk pulang ke rumah nenek sendiri, sehingga aku bisa mengajak Dwi.

“Ayya kan sekolah,” kata Ibu pada Ayya, Ibu lalu menatapku sejenak,

“memangnya kamu punya ongkos?”

“Sena masih ada tabungan sih bu, cukup kalau untuk sendiri. Sena keingetan bapak dulu pas sakit bapak pengen pulang, Sena merasa bersalah karena gak bisa nemenin bapak buat pulang dulu,” ucapku, sedikit merasa bersalah menjadikan bapak sebagai alasan. Aku mengingat kembali wajah bapak, dulu bapak memang ingin pulang bertemu nenek, dan memintaku untuk mengantarnya namun aku menolak karena memikirkan kesehatan bapak, aku berjanji akan mengantar bapak pulang jika sudah sembuh, bapak memang pulang tapi tidak untuk bertemu nenek melainkan bertemu pemilik-Nya.

Keadaan hening untuk beberapa saat, Ayya dan ibu sibuk dalam pikiran mereka masing-masing, aku terdiam kaku merasa bersalah sepertinya ucapanku pun kembali mengingatkan mereka pada bapak. “Ya sudah kamu pulang duluan aja,” ucap Ibu. “Memangnya boleh Sena pulang sendiri?” tanyaku, Ibu menghela napas. “Boleh, kamu kan udah besar kamu juga punya banyak waktu luang jadi kamu bisa pulang duluan,” ucap ibu membuatku tak percaya ternyata ibu tidak melarangku. Arsip Penerbit Gemala “Terus Ibu sama Ayya?” tanyaku. 

“Iyah, nanti kalau Ayya libur gantian kita yang pulang,” ucap Ibu. “Biar ibu gak khawatir, Sena ajak Dwi yah. Kemarin dia bilang pengen liburan juga,” ucapku, ibu mengangguk setuju. Aku tersenyum senang mendapat secerca harapan untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh, Aku memang tidak memiliki cara untuk mewujudkan impianku, tapi Allah tentu punya dan sekali lagi Ia mewujudkan impianku dengan cara-Nya.

***

Langkahku terhenti kala menatap bangunan candi tepat di hadapanku, Dieng Perjalananku selanjutnya. Bukan di sini tujuanku sebenarnya hanya saja Dieng adalah bagian dari impianku maka sebelum mengunjungi rumah nenek aku memutuskan untuk sejenak melihat indahnya salah satu dataran tinggi di Jawa Tengah ini. Aku ingat saat usiaku 7 tahun bapak pernah memberikan sebuah gambar kepadaku, di dalam gambar tersebut terdapat sebuah pedesaan yang indah, dikelilingi oleh perbukitan hijau ada yang menarik di sana sebuah candi yang berdiri kokoh dikelilingi oleh tumbuhan hijau serta bunga-bunga yang menawan, itu hanya sebuah gambar tapi gambar itu mampu menghipnotisku untuk berada di sana, dan seketika tempat tersebut menjadi impian yang terus tumbuh dalam benakku, meski kala itu aku bahkan tak yakin apakah tempat itu nyata atau tidak. Beranjak dewasa, aku seperti menemukan sebuah tempat yang mendefinisikan gambar tersebut, dan tempat itu berada di dataran tinggi Dieng. Candi itu bernama Candi Arjuna, dilihat suasana, pedesaan, dan bukit-bukit yang mengelilinginya aku meyakini bahwa ini adalah tempat yang kuimpikan dulu, meski banyak yang telah berubah namun aku masih mengenalinya dengan jelas, aku tertegun kembali terkesima dengan kebesaran Ilahi, bagai sebuah konspirasi alam bapak telah memberi impian pertamaku sayangnya gambar itu telah hilang seperti juga bapak yang telah pergi tapi keduanya tidak pernah pergi dari benakku.

Lihat selengkapnya