“Aku kelingan bapakmu, Ndok.”
Aku terdiam mendengar perkatan nenek yang mengatakan ia teringat akan anaknya, terlihat jelas diraut wajahnya bertapa nenek merindukan bapak nenek sedikit berkaca-kaca. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari kehilangan kecuali ibu pada anaknya apalagi di hari terakhir nenek bahkan tidak bisa melihat jasad bapak untuk yang terakhir kali. “Njeh uti, sempurane Bapak, mang do’a ne wae mudah mudahan husnul khotimah.” (iyah, Nek, maafkan Bapak, mohon doanya mudah-mudahan husnul khotimah.)
“Iyo ndok, dino-dino yo tak do’a ne, aku yo wes ikhlas.” Selain bapak, nenek sebenarnya memiliki 5 anak lain namun mereka semua memutuskan merantau kekota, ada yang pergi ke Bandung, sumatera, jakarta bahkan menjadi TKW di negara tetangga, hanya satu anak yang tersisa yaitu bude ku yang dekat dengannya walau itupun ia tak tinggal bersama nenek, biasanya mereka yang merantau hanya pulang saat musim mudik baik itu libur sekolah atau saat lebaran. Bukan karena tega, anak-anaknya sudah berusaha membujuk nenek agar ikut bersama mereka, termasuk bapakku setiap pulang ia selalu membujuk nenek untuk ikut, tapi tekad nenek bulat ia tak ingin meninggalkan kampung halamannya terlebih lagi ia tak ingin meninggalkan rumah kenangannya bersama alm. Kakek, baginya hidup dan matinya berada di rumah ini. Anak-anaknya pun bukan tak ingin tinggal namun beginilah kehidupan desa, memang cukup sulit untuk mencari sumber kehidupan. Beberapa tahun ini bapak dan ibu memang belum mendapat kesempatan untuk pulang, mungkin karena memang finansial kami yang sedang berkurang, belum lagi kondisi bapak yang terus menurun membuat situasi kami tidak memungkinkan. Sejenak aku merasa bersalah mengingat betapa egoisnya diriku, aku selalu punya mimpi untuk traveling bahkan mampu mengeluarkan banyak uang untuk pergi ke tempat yang aku mau, tanpa memperhatikan finansial keluargaku, aku kembali teringat bapak yang sakit karena bekerja keras dan kali ini ibu yang harus bekerja keras.
Waktu terus bergulir, dua hari sudah kami berada dirumah nenek, nenek dan Dwi kini pun sudah semakin akrab meski seringkali bahasa mereka tidak nyambung tapi mereka mulai bisa mengerti satu sama lain, menangkap ayam di sore hari adalah kegiatan yang secara tidak langsung yang mendekatkan Dwi pada nenek.
Dulu semasa masih kuat nenek pun memelihara kambing ia pun kerap mengajakku menggembalanya dibukit dekat rumah nenek, namun sayangnya saat ini kaki nenek sudah tak sekuat dulu ayam-ayam lah yang akhirnya menjadi pengganti sekaligus menjadi teman untuk nenek yang tinggal seorang diri.
“Gimana seru nangkap ayamnya,” sahutku, napas Dwi sedikit terengah-engah karena membantu nenek menangkap ayam. “Lumayan,” ucap Dwi.
“Sebagai hadiah, besok pagi aku mau ajak kamu liat sunrise, di sini ada tempat yang keren lo buat liat matahari terbit,” sahutku pada Dwi.
“Oh iyah, di mana?” ucap Dwi.