Bapak meninggal menyisakan senyum, seperti tahu bahwa ketiga buah hatinya akan menderita setelah ini.
Wajahnya yang kaku di dalam peti kayu jati itu tampak sangat tenang, kontras dengan suasana di ruang tamu yang pengap oleh aroma bunga sedap malam yang mulai membusuk. Di luar, hujan rintik-rintik memperparah hawa lembap yang membuat kemeja flanel mahal Rendra menempel tak nyaman di punggungnya.
Rendra melirik jam tangan Rolex-nya untuk kesepuluh kali dalam satu jam. "Pak Handoko, bisa kita percepat? Saya ada meeting penting dengan investor jam dua siang nanti." Suaranya berat, penuh otoritas yang dipaksakan untuk menutupi fakta bahwa perusahaannya sebenarnya sedang di ambang pailit.
Di sudut lain, Tika sedang sibuk mengatur pencahayaan di wajahnya. Ia memegang ponsel dengan posisi high-angle, bibirnya mengerucut sedikit. Cekrek!
"Tika! Kamu gila, ya? Selfie di depan peti mati Bapak? Aku nggak habis pikir, deh," tegur Dika, si bungsu, yang duduk lesu di lantai sambil memainkan kabel headphone-nya yang tidak tersambung ke mana pun.
"Ini namanya tribute, Dika! Followers gue perlu tahu kalau gue tetap tegar meski sedang berduka," sahut Tika tanpa mengalihkan pandangan dari layar, jarinya lincah mengetik caption penuh emoji hati retak. "Lagipula, baju hitam ini harganya lima juta, rugi kalau nggak diposting."
Pak Handoko, pria tua dengan setelan safari abu-abu yang tampak lebih tua dari rumah ini, berdeham. Ia berdiri, lalu berjalan perlahan menuju pintu utama. Tanpa sepatah kata pun, ia memutar kunci ganda, mencabutnya, dan memasukkannya ke dalam saku.
Klik!
"Maaf, Pak Rendra, Mbak Tika. Atas instruksi almarhum Pak Broto, tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini sampai wasiat selesai dibacakan dan syarat pertama dipenuhi," ucap Pak Handoko tenang, meski Rendra sudah berdiri dengan wajah merah padam.
"Apa-apaan ini? Ini kayak penculikan di saat kita semua lagi beraktivitas!" seru Rendra.