Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #2

Surat Wasiat Bapak

Dunia tidak berakhir dengan dentuman besar bagi Rendra, melainkan dengan dering telepon yang tak kunjung berhenti di lantai empat puluh dua. Pagi itu, ia menatap surat sita jaminan yang tergeletak di atas meja jati mahalnya, sementara di luar sana, bayangan sosok Ambon yang kejam mulai mengepung lobi gedung. Rendra, sang CEO yang selama ini dikenal sebagai pengambil keputusan dingin, kini hanyalah seorang pria yang hampir menyerah pada hidupnya sendiri.

"Mas, kita benar-benar harus di sini? Debunya bikin sesak, tahu."

Suara manja Tika memecah keheningan ruko tua milik Bapak yang pengap. Ia berdiri di sudut ruangan, sibuk menyeka butiran keringat di dahi dengan tisu basah bermerek. Tangannya bergerak lincah, berusaha keras menjaga riasan wajahnya agar tetap terlihat "sempurna" untuk jutaan pengikutnya di media sosial. Padahal, kolom komentarnya tengah dipenuhi hujatan akibat skandal endorsement palsu yang baru saja meledak.

Di sudut lain, Dika, si bungsu yang apatis, hanya duduk di lantai semen yang dingin. Matanya terpaku pada layar ponsel, menatap grafik mata uang kripto yang menukik tajam ke arah nol.

"Duduk, Tika. Bapak baru saja dikubur kemarin, setidaknya tunjukkan sedikit rasa hormat," ujar Rendra dengan suara bariton yang berat. Ia sengaja menyebut dirinya Mas untuk menegaskan posisinya—sebuah upaya kecil untuk mempertahankan sisa-sisa wibawa yang ia miliki.

"Ya gue hormat, Mas. Tapi ruko ini beneran nggak manusiawi panasnya. Kenapa notarisnya lama banget, sih?" Tika mengipasi wajahnya dengan tangan, lalu melirik Dika. "Dika, aku pinjam powerbank dong, ponsel gue hampir mati."

"Nggak ada. Mati ya mati saja," sahut Dika tanpa menoleh. "Punya aku juga tinggal tiga persen. Lagian, buat apa sih? Mau pamer foto di depan foto almarhum Bapak?"

"Dika! Mulut lo, ya!"

"Sudah! Diam kalian berdua!" bentak Rendra.

Tepat saat itu, pintu ruko yang berderit terbuka. Pak Handoko, notaris kepercayaan Bapak yang sudah terlihat sangat tua namun tetap berwibawa, melangkah masuk. Ia membawa sebuah laptop tua dan sebuah amplop cokelat yang tersegel lilin merah. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan barang-barang itu di atas meja kayu yang sudah goyah.

"Bapak kalian, Pak Broto, adalah pria yang sangat visioner," Pak Handoko memulai pembicaraan dengan nada tenang. "Beliau tahu kalian bertiga sedang berada di titik nadir. Dan beliau sudah menyiapkan 'jalan pulang' untuk kalian."

Pak Handoko menekan tombol play pada laptop. Layar menampilkan sosok Bapak yang duduk di kursi goyangnya. Wajahnya tampak kaku, tetapi sorot matanya hangat di balik kacamata tebal.

"Rendra, Tika, Dika. Jika kalian menonton ini, artinya Bapak sudah tidak ada. Bapak tahu kalian saling benci, dan Bapak tahu kalian sedang hancur. Warisan sepuluh miliar rupiah berupa asuransi jiwa dan ruko ini hanya akan cair jika kalian sampai di Rumah Cahaya dalam waktu tujuh hari. Syaratnya mutlak: kalian harus menggunakan Si Biru, mobil tua Bapak. Tanpa smartphone, tanpa dompet, dan tanpa GPS."

"Sepuluh miliar?" Tika mendongak, matanya berbinar sesaat. "Tapi pakai mobil rongsokan itu? Mas Rendra, bilang ke Pak Notaris kalau ini bercanda! Masa gue harus naik rongsokan tanpa AC?"

Bapak di dalam video tersenyum tipis, seolah-olah bisa mendengar keluhan putrinya.

"Bapak sudah memodifikasi Si Biru. Di bawah setiap jok, Bapak sudah memasang sensor tekanan mekanis yang sangat presisi. Jika salah satu dari kalian turun dari mobil saat perjalanan atau berat badan yang terdeteksi tidak sesuai dengan profil kalian, alarm akan berbunyi dan wasiat ini batal seketika. Dan untuk memastikan tidak ada joki, Bapak memasang lensa kamera kecil di dashboard yang terhubung langsung ke sistem pengapian mesin. Mobil tidak akan menyala jika wajah kalian bertiga tidak terdeteksi di posisi masing-masing."

Dika tiba-tiba berdiri. Rasa apatisnya mulai terkikis oleh rasa ingin tahu secara teknis. "Sensor tekanan? Itu artinya kita tidak bisa saling meninggalkan walau sedetik pun?"

"Tepat, Dika." Pak Handoko menimpali. "Bapak kalian ingin kalian kembali menjadi satu tim. Beliau bahkan meminta saya menyita semua perangkat digital kalian sekarang juga."

Lihat selengkapnya