Mesin itu tak menderu, ia terbatuk, meludah, lalu memuntahkan asap pekat yang aromanya mengingatkan pada perpaduan kaus kaki basah Bapak dan karat besi yang terpanggang.
Rendra terbatuk-batuk, mengibaskan tangan dengan gerakan kalap di depan wajahnya yang mulai dibanjiri peluh. Jas slim-fit seharga dua puluh juta rupiah yang biasanya membalut tubuhnya dengan angkuh kini tampak menyedihkan. Siku kanannya ternoda oli hitam pekat. Sebuah pemandangan yang dalam kondisi normal akan membuat Rendra memaki asisten kantornya habis-habisan selama satu jam penuh. Namun, di garasi berukuran empat kali enam meter yang pengap ini, tak ada ada asisten yang dapat ia maki dengan seenak perutnya. Tidak ada juga sekretaris yang bisa ia salahkan sebagai pelampiasan luapan emosi. Hanya ada dua adiknya yang tampak sama mengenaskannya, terjepit di antara tumpukan kardus tua dan debu yang menari di bawah lampu neon yang berkedip sekarat.
"Rendra, demi Tuhan! Matikan mesinnya! Gue bisa mati lemas karena kanker paru-paru sebelum kita sempat keluar dari pagar rumah ini!" Tika memekik dari kursi tengah.
Tangannya yang lentur dengan kuku cantik hasil manicure mengilat sibuk mengibas-ngibas udara menggunakan kipas tangan berbahan anyaman bambu yang ia temukan di laci dapur. Wajah Tika yang biasanya glowing sempurna berkat lapisan skincare mahal kini mulai luntur. Foundation tebal di wajahnya kini tampak pecah-pecah karena keringat yang merembes. "Dan kenapa, AC-nya nggak dingin? Ini mobil atau oven roti, sih? Lipstik gue bisa meleleh!"
Rendra mengabaikan rentetan keluhan itu. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Ia kembali memutar kunci kontak dengan sentakan kasar.
Cek-cek-cek-grek.
Si Biru, sosok Toyota Corolla Station Wagon tahun 80-an yang warnanya sudah lebih mirip biru pudar celana jins buruh cuci, hanya memberikan respons berupa getaran hebat yang mengguncang seluruh bodi kalengnya. Suara baut-baut yang melonggar terdengar seperti gemeretak gigi orang yang kedinginan.
"Jangan dipaksa, Mas. Dia butuh diperlakukan sepenuh perasaan," celetuk Dika dari kursi belakang.
Si bungsu itu duduk paling santai di antara mereka, meski kakinya harus tertekuk tajam karena ruang kabin yang sempit seolah-olah sedang menunjukkan keegoisannya karena tak menyisakan sedikit pun ruang untuk Dika bergerak bebas. Sejak ponselnya disita Pak Handoko di dalam rumah tadi, Dika adalah satu-satunya yang terlihat tidak mengalami kecanduan digital. Ia justru tampak menikmati aroma apak jok beludru yang mulai terkelupas itu.
"Perasaan itu nggak bisa buat busi berkerak seketika jadi bersih, Dika!" bentak Rendra. "Saya tidak punya waktu untuk filosofi bengkelmu," batinnya sembari mendengkus kesal.
Rendra memutuskan untuk keluar dari kursi pengemudi, membanting pintu yang mengeluarkan suara klontang ringkih, bunyi besi bertemu besi yang tidak lagi presisi, lalu menghampiri moncong mobil untuk membuka kap mesin.
Asap tipis kelabu mengepul, membawa aroma sangit yang menusuk hidung. Rendra menatap jeroan mesin itu dengan tatapan kosong. Di matanya, deretan kabel dan selang kusam itu tampak seperti tumpukan mi instan semrawut yang sudah kedaluwarsa.
Seumur hidupnya, Rendra hanya tahu cara menginjak pedal gas mobil Eropa otomatis yang selalu dirawat rutin oleh montir berseragam necis di bengkel resmi. Memperbaiki mobil tua ini baginya sama saja dengan mencoba memecahkan kode hieroglif Mesir kuno tanpa kamus.
"AC-nya, Rendra! Gue bersumpah, kalau dalam lima menit gue nggak merasakan udara dingin, gue bakalan pingsan dan kalian kudu tanggung jawab menggendong gue sampai Semarang!" Tika ikut turun, menghentakkan kaki dengan sepatu stiletto sepuluh sentimeter yang sama sekali tidak berjodoh dengan lantai garasi yang berlumur sisa oli dan tanah kering. "Ini gila. Bapak benar-benar sakit jiwa. Dia punya deposito miliaran, ruko di mana-mana, tapi menyuruh kita naik peti mati berjalan ini? Ini namanya penghinaan! Kayak mencabut privilege kita perlahan-lahan!"
"Diamlah, Tika! Kamu pikir saya juga senang melakukan lelucon ini?" Rendra menyeka dahi dengan punggung tangan, tanpa sadar meninggalkan corengan hitam panjang di dahinya yang membuat dia tampak seperti prajurit yang kalah perang. "Kalau bukan karena utang perusahaan yang harus lunas minggu ini, saya sudah membakar mobil ini sekarang juga! Saya butuh warisan itu lebih dari siapa pun di sini!"
Tika terdiam sejenak, napasnya memburu, lalu ia mendengus sinis. "Oh, jadi ini cuma soal uang? Gue juga butuh uang itu untuk membayar biaya pengacara papan atas agar nama gue bersih dari skandal investasi bodoh itu, tahu! Reputasi gue di ujung tanduk!"
"Sudah, sudah!" Dika menyela, keluar dari mobil sambil membawa sebuah obeng tua yang gagangnya sudah pecah, tetapi sorot matanya masih tetap terlihat tajam. "Mas Rendra, coba masuk lagi. Tika, kamu juga. Masuk ke kursi depan, di samping Mas Rendra."
"Buat apa? Mau pamer ilmu sulap?" tanya Rendra curiga.
"Masuk saja, Mas. Ikuti saja dulu," ujar Dika tenang.
Rendra dan Tika bertukar pandang penuh kebencian sebelum akhirnya masuk ke kabin dengan enggan. Dika tidak langsung menyusul masuk. Ia justru berlutut di lantai garasi yang kotor, merangkak sedikit ke bawah pintu mobil. Tubuhnya yang kurus menghilang sebagian di bawah kolong kursi penumpang depan. Terdengar bunyi denting logam yang beradu, diikuti gumaman pendek dari bibir Dika yang dipenuhi debu.
"Coba nyalakan sekarang, Mas!" teriak Dika dari luar.