Panas Jakarta merambat masuk melalui celah kaca jendela Si Biru yang hanya bisa terbuka separuh. Rendra memutar kunci kontak untuk ketiga kalinya. Suara starter yang serak menyalak, mencoba memancing percikan api di ruang bakar, tetapi mesin Holden Kingswood itu tetap bungkam. Hening yang mencekam mulai menyergap, hanya menyisakan deru napas Tika yang mulai memburu di jok belakang.
"Ayo, nyala, ayo dong!" Rendra menggeram. Ia menghantam kemudi dengan telapak tangannya. Buku jarinya memutih, kontras dengan kulit kemudi yang mulai mengelupas.
"Mas, jangan dipaksa! Kalau as-nya patah gimana?" teriak Tika. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, enggan melihat sedan hitam Ambon yang kini terparkir tepat di mulut gang ruko, menghalangi cahaya matahari sore. "Gue nggak mau mati konyol di garasi ini cuma gara-gara mobil tua ini nggak mau jalan!"
Rendra tidak menjawab. Matanya tertuju pada lensa kamera kecil di dashboard yang berkedip merah. Lampu indikator itu seperti mata Bapak yang sedang mengawasi kegagalan mereka dari alam kubur.
"Bukan mesinnya yang rusak, Mas," sela Dika tiba-tiba.
Si bungsu itu sudah melorot dari joknya, berlutut di atas karpet mobil yang berbau apak. Tangan Dika meraba-raba ke kolong kursi penumpang depan. Wajahnya yang biasanya apatis kini dipenuhi peluh, tapi ada binar fokus yang jarang terlihat.
"Dika, jangan main-main! Mas butuh mobil ini jalan sekarang juga sebelum Ambon turun dari sedannya!" Rendra membentak, suaranya naik satu oktav.
"Sabar, Mas! Ini masalah sensor," sahut Dika. Ia menarik sebuah kabel kecil yang tersembunyi di balik tumpukan busa jok. "Ini dia. Sakelar tekanan pegas. Bapak nggak cuma pakai sensor berat digital, tapi pakai sistem mekanis hidrolik di bawah tiap kursi."
Dika merangkak ke jok belakang, membuat Tika memekik karena kaki sang kakak nyaris menginjak tas jinjingnya. "Mbak Tika, geser pantatnya dikit! Mbak kurang nekan ke tengah, makanya sirkuit pengapiannya nggak mau nyambung ke kamera!"
"Gue udah duduk di tengah, Dika! Masa gue harus jadi gendut dulu biar mobil ini mau jalan?" balas Tika sengit.
"Bukan gendut, Mbak! Tapi posisi!" Dika menarik sebuah tuas kecil di bawah jok Tika. Terdengar bunyi klek yang solid. "Bapak pintar banget. Ini timbangan presisi. Kalau berat kita bertiga nggak terdistribusi sesuai titik tumpu yang Bapak atur, sistem immobilizer-nya nggak bakal lepas."
Rendra tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan menyakitkan. "Jadi sekarang kita beneran jadi tawanan timbangan Bapak? Mas nggak habis pikir, bahkan setelah meninggal pun, Bapak masih mau mendikte posisi duduk kita."
"Ini sistem keamanan, Mas. Biar kita nggak bisa gantiin orang lain di tengah jalan." Dika kembali ke jok depan, wajahnya memerah karena menahan napas. "Sekarang coba lagi. Pelan-pelan, Mas."
Rendra menarik napas panjang, menatap kamera di dashboard sampai lampu indikatornya berubah menjadi hijau stabil. Ia memutar kunci sekali lagi.
Vroom!
Bukan suara batuk mesin tua yang keluar. Mesin itu menderu dengan bariton yang dalam, padat, dan sangat berwibawa. Getarannya terasa halus di telapak tangan Rendra, menunjukkan bahwa di balik bodi biru yang kusam dan penuh baret itu, tertanam mesin V8 restomod yang sudah dikalibrasi sempurna. Si Biru bukan lagi rongsokan; ia adalah serigala yang selama ini bersembunyi di balik bulu domba.
"Gila ..., suaranya kayak mobil balap," bisik Dika takjub.
"Jangan bengong! Pegangan!"