Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #4

Blank Spot

Tika adalah bukti nyata bahwa manusia modern bisa mengalami kecanduan hebat hanya karena kehilangan bar sinyal di layar ponsel.

Duduk di kursi penumpang depan, perempuan itu tampak seperti seseorang yang sedang memperebutkan detak jantung terakhir di ruang ICU. Matanya liar, berpindah-pindah dari kaca depan ke spion samping dengan kecepatan yang tidak wajar. Jempol kanannya terus bergerak gelisah, mengetuk-ngetuk paha atasnya seperti sedang menekan tombol refresh pada permukaan kulit. Setiap beberapa detik, ia menoleh ke arah dasbor kosong, menatap celah laci yang terbuka seolah berharap sebuah keajaiban digital, sebuah sinyal Wi-Fi liar atau satelit yang tersesat, akan muncul di sana.

Rambut Tika yang biasanya terurai indah dengan tatanan blow-out ala salon kini digelung tinggi ke atas. Itu adalah sebuah sanggul darurat yang dibuat terburu-buru sebelum keluar rumah tadi. Namun, entah mengapa tampak terlalu kokoh, terlalu rapi, dan terlalu berat untuk ukuran seorang anak yang sedang berduka di dalam mobil tua yang pengap.

"Tika, berhenti melakukan itu. Saya pusing ngelihatnya," gumam Rendra.

Ia mencengkeram kemudi Si Biru dengan kedua tangan yang memutih di bagian buku jari. Ia sedang berjuang habis-habisan menyeimbangkan setir yang terus-menerus menarik ke kiri, seolah mobil ini memiliki keinginan terpendam untuk terjun ke parit sawah.

"Melakukan apa? Gue nggak melakukan apa-apa!" sahut Tika dengan nada tinggi yang sangat defensif.

Ia segera membetulkan posisi sanggulnya dengan gerakan tangan yang kaku, menekan-nekan tumpukan rambut itu ke arah tengkoraknya seakan-akan takut tatanan itu akan meledak. "Gue cuma lagi memijat kepala. Kepala gue pening gegara bau bensin di mobil rongsokan ini, Rendra! Ini polusi!"

"Itu bukan pening karena bensin, itu gejala putus dengan sosial media," celetuk Dika dari kursi belakang.

Pemuda itu duduk bersila, dikelilingi oleh tas ransel dan kotak perkakas tua. Ia sedang asyik membolak-balik foto polaroid jendela biru, mencoba mencocokkan tekstur kayu yang mengelupas di foto itu dengan bangunan-bangunan yang mereka lewati di pinggiran kota Jakarta yang semakin menjauh. "Kamu merindukan notifikasi Instagram, kan? Ngaku aja. Aku bisa melihat jempolmu gemetar mencari tombol like."

"Diam lo, bocah ingusan! Urusi saja foto-foto kusam itu!" Tika mendelik, tetapi tangannya kembali naik untuk mengamankan sanggulnya yang tampak sedikit miring.

Rendra mendesah panjang. Helaan napasnya seperti pertanda sarat akan beban hidup. Jalan raya di depan mereka mulai menyempit, bertransisi dari aspal mulus kota menuju beton bergelombang yang menandakan mereka sudah mendekati perbatasan provinsi. Si Biru mulai bergetar hebat saat jarum speedometer yang angkanya sudah banyak yang hilang, menyentuh angka enam puluh kilometer per jam. Bunyi angin yang masuk dari celah jendela yang tidak bisa tertutup rapat menciptakan musik latar yang menyakitkan telinga, menyerupai siulan hantu yang kelaparan.

"Kita hampir sampai di gerbang perbatasan," kata Rendra, melirik ke arah papan penunjuk jalan yang mulai berkarat dan tertutup lumut. "Siapkan uang tunai yang Pak Handoko berikan tadi. Saya harus menghitung ulang. Pokoknya kita harus sangat berhemat. Uang ini harus cukup sampai Semarang. Jangan sampai ada yang jajan sembarangan."

Akan tetapi, saat mereka mendekati sebuah tikungan tajam yang menjorok ke hutan jati, sebuah pemandangan aneh menyambut mereka. Di bahu jalan yang berdebu, sebuah sedan hitam mewah terparkir dengan lampu hazard yang berkedip malas, seperti tengah mengejek keberadaan Si Biru. Di samping mobil itu, berdiri seorang pria dengan setelan safari abu-abu yang sangat mereka kenal. Tegak, kaku, dan tidak tersentuh oleh debu jalanan.

"Sial," umpat Rendra di bawah napasnya. Ia menginjak pedal rem perlahan. Si Biru mencicit panjang, mengeluarkan suara gesekan logam yang memilukan sebelum akhirnya berhenti tepat di samping pria tua itu.

Pak Handoko berjalan mendekat dengan langkah yang terukur. Pria itu tak tersenyum, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang intimidatif. Ia mengetuk kaca jendela manual di samping Tika. Dengan gerutuan yang terdengar seperti mantra kutukan, Tika memutar tuas jendela, sebuah gerakan mekanis yang memaksanya mengeluarkan tenaga ekstra sampai urat lehernya menonjol dan wajahnya memerah.

"Siang, Pak Handoko. Ada apa lagi? Saya rasa kami sudah menjalankan semua wasiat gila itu dengan benar, 'kan?" tanya Rendra dari balik kemudi.

Pak Handoko tak langsung menjawab. Matanya yang tajam di balik kacamata tebal menyisir kabin mobil yang berantakan, bergantian menatap satu per satu wajah ketiga bersaudara itu, lalu berhenti tepat pada puncak kepala Tika.

"Mbak Tika, sanggul Anda tampak sangat kokoh dan ..., masif hari ini. Apakah itu tren baru para pesohor di Jakarta?"

Wajah Tika memucat seketika. "I-iya, Pak. Ini gaya ..., classic high-bun. Sangat vintage. Kenapa? Bapak mau belajar menata rambut juga buat mengisi kegiatan pensiun nanti?"

Lihat selengkapnya