Aspal tol Cipularang yang bergelombang menyambut ban-ban lebar Si Biru dengan gumaman rendah. Lampu-lampu jalan menyambar kabin bergantian, menciptakan ritme cahaya yang menghantam wajah Rendra setiap beberapa detik. Di tangannya, kemudi Holden itu terasa hidup, memberikan umpan balik dari setiap kerikil yang dilindasnya. Namun, ketenangan mesin V8 restomod itu tidak menular ke barisan kursi di dalamnya.
"Mas, gue serius. Ini panasnya nggak masuk akal!" Tika menghentakkan punggungnya ke sandaran jok belakang berkali-kali. Suara pegas yang berderit memicu bunyi tit-tit-tit pendek dari arah dashboard. "Gue bisa dehidrasi sebelum sampai ke Purwakarta. Masa mobil sekeren ini nggak ada AC-nya? Bapak beneran pelit atau gimana sih?"
Rendra melirik lampu indikator merah di dekat lensa kamera. Lampu itu berkedip setiap kali Tika bergerak gelisah. Otot di rahang Rendra mengeras. Ia membetulkan posisi duduknya, mencoba tetap tegak meski punggungnya sendiri mulai lembap oleh keringat yang meresap ke kemeja flanelnya.
"Tika, dengerin Mas," ujar Rendra dengan nada bariton yang ditekan. "Mas nggak mau kita mogok di jalan tol cuma karena kamu nggak bisa berhenti goyang-goyangin kursi. Sensornya sensitif! Sekali lagi kamu angkat pantat atau guncang sandaran itu terlalu keras, sistem pengapiannya bakal menganggap posisi kita nggak aman, dan mobil ini bakal mati total. Kamu mau kita berhenti di bahu jalan yang gelap ini sementara Ambon mungkin cuma berjarak satu kilometer di belakang?"
Tika mendengkus kesal, menyilangkan tangan di depan dada. "Ya tapi masa gue harus duduk mematung kayak manekin, Mas? Gue gerah! Rose water gue di tas aja udah mulai anget!"
"Sabar sedikit, Mbak," seloroh Dika dari kursi penumpang depan. Ia sibuk membolak-balik peta tua yang lebar itu, mencoba mencocokkan garis-garis merah Bapak dengan petunjuk jalan yang melintas cepat. "Aku lagi cari rest area yang nggak mencolok. Bapak nulis di catatan pinggir peta: 'Jangan percaya pada lampu yang terlalu terang'. Aku rasa kita harus cari pom bensin kecil di jalur keluar tol, bukan yang besar."
"Mas setuju sama Dika," timpal Rendra. Ia melirik spion tengah, memantau kegelapan di belakang mereka. "Kita butuh bensin, tapi kita nggak boleh jadi sasaran empuk."
Tepat saat mereka melewati Kilometer 72, mesin Si Biru memberikan peringatan. Jarum bensin turun lebih cepat dari yang diperkirakan—mungkin karena torsi besar yang dipaksakan Rendra saat lari dari Jakarta tadi. Mesin mulai tersedak sedikit.
"Mas, bensinnya!" seru Dika panik.
"Mas tahu!" Rendra membanting setir ke jalur keluar tol terdekat.
Mereka terlempar keluar dari arus utama Jakarta menuju jalur provinsi yang sepi dan minim penerangan. Di pinggir jalan raya yang dikelilingi pohon-pohon jati tinggi, sebuah pom bensin tua dengan papan neon yang berkedip setengah mati menyambut mereka. Namanya hampir terhapus, hanya menyisakan tulisan 'Jaya' yang kusam.
Rendra mengarahkan moncong Si Biru ke satu-satunya pompa yang masih menyala. Di sana, seorang pria tua dengan seragam yang warnanya sudah memudar menjadi merah pucat sedang duduk di bangku kayu, asyik melinting tembakau. Namanya tertulis di saku bajunya: Mbah Darmo.
"Isi berapa, Mas?" tanya Mbah Darmo datar. Matanya tidak menatap Rendra, melainkan menyapu seluruh bodi mobil, berhenti cukup lama pada stiker kecil bergambar melati yang menempel di sudut kaca depan, tetapi raut wajah pria itu masih tampak ragu.
"Full, Pak. Pertamax ada?" tanya Rendra, mencoba terdengar sopan meski napasnya masih memburu.
Mbah Darmo terkekeh. Suara tawanya mirip gesekan amplas. "Di sini cuma ada solar sama bensin biasa. Tapi buat mobil ini, saya rasa saya punya stok khusus di belakang."
Tika menurunkan kaca jendela belakang, wajahnya yang penuh keringat menyembul keluar. "Pak, ada air mineral yang dingin banget nggak? Atau es batu sekalian? Gue beneran mau pingsan."
Mbah Darmo menatap Tika, lalu beralih ke Dika yang memegang peta tua. Tiba-tiba, pria tua itu berdiri tegak. Ia mendekati kap mesin Si Biru, meraba cat birunya dengan telapak tangan yang kasar. Tatapannya berhenti cukup lama pada sudut kiri bawah kaca depan. Di sana, tertempel sebuah hiasan kecil yang aneh, bunga melati yang ditempa dari lempengan besi tipis. Bunga itu sudah sangat karatan, warnanya cokelat kemerahan memudar, menyatu dengan debu jalanan yang menempel erat. Bentuknya kaku, tidak rapi, seolah dibuat dengan tangan kosong oleh seseorang yang bukan ahli pandai besi.
"Pelat nomor ini ...." Mbah Darmo bergumam. "B-1214-BT. Cuma Broto yang punya pelat nomor cantik tapi bodinya dibiarin butut begini."
Rendra tertegun. Ia membuka pintu mobil perlahan, memastikan sensor tidak mengamuk karena ia bergerak dalam posisi gigi netral dan rem tangan ditarik maksimal.
"Bapak kenal Bapak saya?"
Mbah Darmo menatap Rendra dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia tersenyum getir melihat jam tangan Rolex di pergelangan Rendra. "Kamu anaknya, ya? Galaknya persis. Tapi Broto nggak pernah pakai jam tangan emas buat jalan-jalan ke hutan."
Mbah Darmo meletakkan lintingan tembakaunya. Ia berdiri dengan tumpuan lutut yang berderit, lalu berjalan mendekati kap mesin Si Biru. Jarinya yang hitam oleh oli menahun meraba stiker melati besi di sudut kaca.
​"Saya hafal semuanya karena saya yang masang baut-baut ini, Nak," ujar Mbah Darmo seolah membaca kebingungan di wajah Rendra. "Dua puluh tahun lalu, di bengkel saya di Jakarta, Bapak kalian datang membawa Holden rongsok ini. Dia bilang, 'Darmo, bikin mobil ini jadi satu-satunya tempat yang paling aman buat anak-anakku'. Kami begadang berbulan-bulan cuma buat nanem kabel sensor di bawah jok itu."