Mencari satu jendela spesifik di hamparan Jawa Tengah sama saja dengan mencoba menemukan sebutir beras silsilah di dalam karung logistik nasional. Mustahil, melelahkan, dan cenderung membuat gila.
Setidaknya itulah yang terus berputar di kepala Rendra saat ia memarkir Si Biru di depan sebuah warung kopi reyot bertajuk "Sido Muncul". Warung itu berdiri merana di pinggir jalur Pantura yang berdebu, terjepit di antara bengkel tambal ban yang dipenuhi ban dalam bekas dan hamparan sawah meranggas yang baru saja selesai dipanen.
Aroma solar yang menyengat dari truk-truk gandeng yang melintas beradu dengan bau minyak jelantah dari gorengan dingin di etalase kaca yang buram.
Rendra turun dari mobil, gerakannya kaku seperti engsel pintu yang berkarat. Ia meregangkan punggungnya, membiarkan bunyi krek terdengar dari tulang belakangnya yang terbiasa bersandar di kursi ergonomis kantor. Di tangan kanannya, ia menggenggam foto polaroid pertama dengan sangat hati-hati, seakan-akan benda itu adalah cek senilai miliaran rupiah. Foto itu menampilkan sebuah jendela kayu biru dengan cat yang sudah mengelupas parah. Namun, bila diamati dengan saksama, ada satu detail yang mencolok, sebuah ukiran kecil berbentuk bunga matahari di sudut bingkainya.
"Saya yakin ini bangunan komersial tua," tebak Rendra dengan nada penuh percaya diri yang biasa ia gunakan untuk meyakinkan investor. Ia mengetukkan telunjuknya ke permukaan Polaroid. "Lihat profil ukirannya. Ini gaya kolonial yang disederhanakan. Bapak pasti punya simpanan aset di sekitar sini, mungkin hotel melati atau wisma tua yang luput dari catatan pajak karena letaknya yang terpencil."
Tika turun dari pintu penumpang, segera mengenakan kacamata hitam oversized-nya. Penampilannya tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar, seperti model yang tersesat di pasar loak.
"Kalau itu hotel, kenapa fotonya sepi banget, Mas? Nggak ada nomor kamar, nggak ada papan nama. Menurut gue, ini lebih mirip gudang angker tempat orang buang mayat. Sumpah, bau di sini bikin gue mual." Tika spontan menutup hidungnya.
Dika, yang sedari tadi hanya diam di kursi belakang sambil mengamati tumpukan barang, akhirnya keluar. Tanpa permisi, ia merebut foto itu dari tangan Rendra. Ia membawanya ke bawah sinar matahari yang terik, menyipitkan mata, lalu meraba permukaan foto seolah-olah ia bisa mengekstraksi data digital dari sana.
"Ini bukan hotel, Mas," gumam Dika pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi klakson truk di kejauhan. "Lihat serat kayunya. Ini kayu jati desa, tipe yang ditebang manual, bukan kayu olahan pabrik. Dan ukiran bunga matahari ini bukan dekorasi kolonial. Itu gaya ukir rakyat. Kasar, nggak simetris, tapi terasa personal. Aku yakin ini jendela rumah tinggal biasa."
"Rumah tinggal siapa? Rumah Bapak? Kita 'kan nggak punya riwayat properti di daerah antah-berantah ini, Dika," sergah Rendra tidak sabar. Matanya terus melirik jam tangan, lupa bahwa Rolex-nya sudah tersita di dalam kotak kayu Pak Handoko.
"Makanya kita tanya." Dika menunjuk ke arah warung dengan dagunya.
Di dalam warung, seorang pria tua dengan kaus singlet putih yang sudah berubah warna menjadi krem kecokelatan sedang sibuk mengelap meja. Tangannya bergerak ritmis dengan kain yang warnanya sulit didefinisikan. Namanya Mbah Darmo, sesuai nama yang tertera di kalender dinding tahun 1998 yang masih dipaku di tiang kayu warung.
"Permisi, Mbah." Rendra mulai menyapa dengan nada ramah yang terdengar dibuat-buat. Ia berdiri tegak, membusungkan dada, menggunakan suara bariton terbaiknya. "Bisa saya minta waktunya sebentar? Saya ingin menanyakan sebuah lokasi."
Mbah Darmo tetap mengelap meja. Kepalanya tertunduk, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Rendra.
"Mbah? Saya mau tanya alamat!" Rendra menaikkan volumenya satu oktav, membuat seorang supir truk di pojokan berhenti mengunyah tahu isinya.
Masih tetap tak ada respons. Mbah Darmo kini malah beralih menyusun botol-botol kecap plastik dengan sangat perlahan, seakan-akan itu adalah pekerjaan paling krusial di dunia.
"Mbah! Halo! Permisi, Kek!" Tika ikut berteriak di samping Rendra. Suaranya melengking tajam. "Duh, ini kakeknya budek atau gimana, sih?"
"Percuma," bisik Dika sambil menepuk bahu Tika. Ia menunjuk ke arah toples peyek di atas etalase. Di sana tergeletak sebuah alat bantu dengar tua yang baterainya tampak sudah dilepas. "Beliau nggak bakal dengar biarpun kamu pakai toa masjid. Mundur, biar aku saja."
Dika melangkah maju, melewati meja-meja panjang yang lengket. Dengan gerakan yang sangat sopan, ia menyentuh bahu pria tua itu. Mbah Darmo terlonjak kaget, matanya yang mulai diselimuti selaput katarak menatap Dika dengan bingung. Tanpa membuang kata-kata yang tidak akan terdengar, Dika meletakkan foto Polaroid itu tepat di depan hidung Mbah Darmo.