Desa itu tidak tertera dalam aplikasi navigasi mana pun yang sempat Dika cek sebelum ponselnya disita Pak Handoko. Jalannya hanya berupa aspal tipis yang pinggirannya sudah retak serta sedikit terangkat dimakan akar pohon besar. Wangi melati mulai menusuk indra penciuman, pekat dan dingin, seirama dengan kabut tipis yang merayap turun dari perbukitan Jawa Tengah.
Di ujung jalan buntu yang ditumbuhi pohon kamboja tua, berdiri sebuah rumah kecil dengan dinding gedek yang sudah diperkuat semen. Dan di sana, jendela itu menyala di tengah temaram sore—biru elektrik yang kontras, dengan ukiran bunga matahari yang tampak seperti mata yang mengawasi kedatangan mereka.
Rendra menghentikan Si Biru sekitar sepuluh meter dari pagar bambu. Jantungnya berdegup kencang. Namun, pemandangan di depan sana membuat darahnya mendadak dingin. Sebuah sedan hitam—yang sangat Rendra kenali sebagai mobil yang membuntuti mereka sejak Jakarta—sudah terparkir manis di bawah pohon beringin, tepat di samping rumah tersebut.
"Mas ..., itu mobil Ambon," bisik Tika. Suaranya bergetar, ia merosot rendah di jok belakang hingga hanya matanya yang terlihat di batas jendela. "Gue nggak mau turun. Kita balik aja, Mas. Gue mohon."
"Nggak bisa, Tika. Bensin kita nggak bakal nyampe ke jalan raya lagi," sahut Rendra. Matanya terpaku pada sosok pria bertubuh tegap dengan kemeja safari hitam yang sedang duduk santai di teras rumah. Pria itu—Ambon—sedang menyesap teh dari gelas seng, berbincang akrab dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya kumal.
Rendra bertanya-tanya dalam hati, Bagaimana bisa dia sampai lebih dulu Namun, ia teringat jalur provinsi yang ia hindari atas saran Mbah Darmo. Ambon pasti menggunakan jalur utama yang lebih mulus sementara mereka meliuk-liuk di jalan tikus.
"Dika, Mas butuh kamu tetap tenang," ujar Rendra.
Dika tak menjawab. Tangannya gemetar hebat saat pemuda itu mencoba merapikan peta di pangkuannya. Dika bukan Rendra yang pandai bernegosiasi, bukan pula Tika yang bisa berteriak menuntut hak. Ia hanyalah mahasiswa yang lebih suka berhadapan dengan algoritma daripada moncong ancaman preman.
"Aku ..., aku coba cek sensor lagi," gumam Dika pelan. Suaranya nyaris hilang.
Ketiga bersaudara itu terpaksa turun. Ambon berdiri, meletakkan gelas tehnya dengan bunyi denting yang provokatif. Wanita berkebaya itu berdiri di sampingnya, menatap ketiga 'orang kota' itu dengan tatapan curiga yang amat sangat.
"Permisi." Rendra mulai menyapa, mencoba memasang tameng otoritasnya. "Kami mencari pemilik rumah ini."
Wanita itu melipat tangan di depan dada. Matanya menyipit memperhatikan Si Biru, lalu beralih ke pakaian mewah mereka yang kini sudah kusam oleh debu. "Mau apa kalian ke sini? Ini rumah pribadi. Pak Ambon ini tadi bilang dia teman kerjanya almarhum bibi saya, makanya saya kasih minum. Kalian siapa?"
Ambon tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Sabar, Bu. Mereka ini, tamu yang saya ceritakan tadi. Anak-anaknya si pemilik mobil biru itu." Ia menoleh ke arah Rendra, senyumnya menyeringai. "Ternyata tebakan saya benar. Kalian pasti mampir ke warung kopi dulu, makanya saya sampai duluan lewat jalur lingkar."
Rendra mengabaikan sindiran Ambon. Ia menatap wanita itu. "Nama saya Rendra. Saya membawa foto ini." Ia menunjukkan polaroid jendela biru. "Bapak saya, Pak Broto, yang mengirim kami."
Mendengar nama yang disebutkan barusan, raut wajah wanita itu melembut seketika. Ia menatap intens lawan bicaranya, seolah mencari kemiripan wajah Rendra dengan sosok yang ia kenal di masa lalu. "Broto? Jadi ini ..., bayi yang dulu lahir di kamar depan?"
"Bayi?" Tika melongo di belakang Rendra.
"Masuklah." Wanita itu akhirnya membuka pintu. "Saya Lastri. Saya yang merawat rumah ini sejak Bibi meninggal. Pak Ambon, silakan lanjut minumnya di luar saja. Ini urusan keluarga."
Ambon tidak membantah. Namun, pria berwajah sangar itu berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya sore, memberikan isyarat bahwa ia akan mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Di dalam rumah, aroma minyak kayu putih dan kayu tua menyambut mereka. Lastri mengajak mereka ke sebuah kamar di bagian depan. Kamar itu sangat sederhana, hanya ada tempat tidur besi tua dan sebuah lemari kayu. Namun, perhatian mereka tersedot sepenuhnya pada jendela biru yang ada di sana.
"Dulu, Bibi saya, bidan di desa ini, sering cerita." Lastri mulai buka percakapan. Suaranya melembut, matanya menerawang ke langit-langit kamar. "Malam itu badai besar. Pak Broto datang menggendong istrinya, kakinya berlumuran lumpur karena mobil birunya mogok di depan warung. Dia tidak punya uang sepeser pun, tapi dia bersujud di depan Bibi, memohon agar nyawa istrinya dan bayinya diselamatkan."
Lastri mengusap bingkai jendela biru itu dengan penuh kasih. "Setelah bayi itu lahir—itu kamu kan, Mas Rendra?—Pak Broto tidak pergi begitu saja. Dia bekerja di sini selama seminggu, membantu Bibi membetulkan atap yang bocor dan terakhir, dia mengecat jendela ini dengan warna biru yang paling terang yang bisa dia beli. Dia bilang, jendela ini adalah matanya yang akan selalu menjaga tempat ini."