Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #6

Rem Blong

Kematian memiliki aroma yang sangat dekat, dan sore itu, ia berbau seperti kampas rem yang terbakar hebat.

Bau menyengat itu menyeruak masuk melalui ventilasi AC yang mati, memenuhi kabin Si Biru yang sedang meluncur tanpa ampun di jalur menurun curam Alas Roban. Rendra mencoba menginjak pedal rem untuk mengurangi kecepatan saat mereka mendekati tikungan tajam yang mengarah langsung ke jurang dangkal berbatu di sisi kiri jalan. Namun, alih-alih merasakan perlawanan cakram rem yang solid, kaki kanannya justru amblas ke lantai mobil tanpa beban.

Blos.

"Mas?" Dika yang duduk di belakang menyadari perubahan drastis pada gestur kakaknya.

Punggung Rendra menegang kaku, sementara wajahnya yang semula merah karena amarah, kini memucat seputih kertas.

"Remnya ...." Rendra menggumam. Suaranya bergetar di pangkal tenggorokan. Ia mencoba mengocok pedal itu berkali-kali dengan gerakan kalap.

Blos. Blos. Blos.

"Remnya blong! Sialan, remnya hilang!"

"Apa?! Jangan bercanda, Rendra! Ini bukan waktunya nge-prank!" Tika menjerit. Tangannya mencengkeram pegangan di atas pintu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan menonjol. "Injak lagi! Injak yang keras, pakai tenaga!"

"Saya sudah tekan sampai mentok ke lantai, Tika! Nggak ada tekanan sama sekali! Mobil ini nggak mau berhenti!" Rendra mulai berteriak panik.

Ia mencoba memindahkan gigi ke posisi lebih rendah, berharap pada engine brake, tapi transmisi tua itu hanya mengeluarkan bunyi krak yang memilukan telinga tanpa memberikan efek engine brake yang berarti. Gir-gir di dalam sana seakan menolak untuk saling mengunci.

Si Biru semakin melaju kencang, ditarik oleh gravitasi bumi yang seperti tak punya belas kasihan. Jarum speedometer bergoyang liar di angka delapan puluh kilometer per jam, sebuah kecepatan yang terasa seperti menembus batas suara bagi mobil berumur empat puluh tahun itu. Bodi kalengnya berderit hebat, memberikan sensasi seakan baut-bautnya akan lepas satu per satu dan membiarkan mereka terbang di aspal tanpa pelindung.

"Kita bakal mati! Kita bakal mati!" Tika histeris.

Dalam kepanikan yang luar biasa itu, insting seorang influencer ternyata masih menguasai alam bawah sadarnya. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan cermin kecil, satu-satunya benda pemantul yang tersisa setelah ponselnya disita.

Perempuan itu mulai berbicara pada pantulan dirinya sendiri yang tampak berantakan. "Hai Guys, kalau kalian melihat ini ..., eh, maksud gue, kalau siapa pun menemukan cermin ini di reruntuhan mobil, ketahuilah kalau gue memakai lipstik merek ....."

"Tika! Berhenti bicara pada cermin! Bantu saya fokus ke jalan!" raung Rendra sambil banting setir ke kiri untuk menghindari sebuah bus antarkota yang menyalip dengan ugal-ugalan dari arah belakang. Klakson bus itu meraung panjang, menambah bising yang menyiksa.

"Dika! Lakukan sesuatu! Katanya lo yang paling tahu soal mobil ini!" Tika beralih memaki adiknya yang ada di belakang.

Dika tak segera menjawab. Ia mencondongkan tubuh ke depan. Matanya menatap tajam ke arah konsol tengah, tepatnya pada tuas rem tangan yang sudah berkarat. Pemuda itu tahu persis risikonya, jika Rendra menarik rem tangan itu sekaligus dalam kecepatan tinggi, kabelnya akan putus seketika atau mobil akan melintir lalu terbalik di tengah jalan.

Lihat selengkapnya