Sopir truk ayam itu, seorang pria tambun dengan handuk kecil melingkar di leher, berdiri bersedekap di depan moncong Si Biru yang masih "mencium" bak belakang kendaraannya. Bau kotoran unggas yang menyengat terasa kian pekat saat matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang memuakkan di langit Alas Roban.
"Jadi bagaimana, Mas? Ini keranjang saya hancur tiga, ayam saya ada yang lepas, ada yang... ya Mas lihat sendiri, jadi geprek sebelum waktunya," ujar sopir itu. Nada bicaranya tak membentak, tapi menuntut kepastian.
Rendra keluar dari kabin dengan bulu ayam masih menempel di rambut klimisnya. Ia mencoba merogoh saku, tetapi tangannya hanya menemukan kekosongan. "Pak, saya benar-benar minta maaf. Rem mobil saya blong. Saya janji akan ganti rugi, tapi ...." Rendra menggantung kalimatnya, menelan ludah yang terasa pahit. "Saya tidak punya uang tunai sekarang. Kartu kredit saya juga, tertinggal."
"Nggak punya uang?" Sopir itu tertawa hambar. "Mas, gaya sampeyan (1) ini kayak bos besar di Jakarta. Masa ganti rugi keranjang sama ayam saja nggak mampu?"
Tika keluar dari mobil. Wajahnya yang penuh bekas air mata dan bulu ayam tampak menyedihkan. "Pak, beneran. Kita lagi kena musibah. Bapak lihat sendiri mobil rongsokan ini. Tolonglah, Pak."
Setelah negosiasi yang alot dan penuh permohonan, Dika akhirnya memberikan kunci inggris set dan beberapa perkakas bagus dari bagasi sebagai jaminan sementara, ditambah sisa uang ratusan ribu yang mereka punya. Sebagai gantinya, sopir itu setuju membantu menarik Si Biru sampai ke bengkel terdekat di kaki bukit sebelum ia melanjutkan perjalanannya. Hal inilah yang membawa mereka ke sini, ke sebuah bangunan tua di pinggir jalan raya yang terlihat seperti peninggalan masa lalu yang terlupakan.
Kedatangan trio bersaudara itu disambut oleh bau kecoa yang menjadi parfum resmi di tempat persinggahan mereka kali ini. Aroma apak dan pengap itu menyerang indra penciuman Rendra bahkan sebelum ia benar-benar melangkahkan kaki melewati pintu kayu penginapan Melati yang sudah keropos dimakan rayap. Cahaya lampu neon di lobi berkedip-kedip tidak stabil, mengeluarkan bunyi nging yang sinkron dengan denyut di pelipis Rendra. Kondisi ini hanya kalah menyeramkan dari tumpukan bulu ayam yang masih tersisa di kerah kemeja Tika.
"Gue nggak mungkin tidur di sini." Tika berbisik. Suaranya gemetar saat melihat seekor cicak raksasa merayap tenang di atas meja resepsionis yang berdebu. "Rendra, gue lebih baik tidur di mobil bersama sisa-sisa kotoran ayam tadi daripada di tempat yang kelihatan kayak lokasi syuting film pembunuhan berantai ini."
"Mobil kita lagi diderek ke bengkel bawah, Tika. Remnya baru bisa dikerjakan besok pagi karena mekaniknya sedang ikut pengajian," sahut Rendra dengan nada datar yang dipaksakan. Ia meletakkan beberapa lembar uang terakhir di kantongnya ke atas meja kayu yang lengket. "Dan uang kita hanya cukup untuk tempat ini. Kamu cuma punya dua pilihan, tidur di sini atau tidur di emperan toko sambil memeluk ban serep. Kamu pilih yang mana?"
Seorang pria tua dengan sarung tersampir di bahu muncul dari balik tirai kumal di belakang meja. Ia menatap mereka bertiga dengan pandangan malas, matanya merah karena mengantuk atau mungkin kebanyakan terpapar asap rokok. "Satu kamar saja yang sisa. Kamar nomor enam. Seratus ribu."
"Tiga orang dalam satu kamar?" Rendra memastikan, mencoba mencari celah untuk harga yang lebih murah, tetapi sia-sia.
"Terserah. Mau bersepuluh juga boleh, asal muat. Tapi ranjangnya cuma satu," jawab pria itu sambil melemparkan kunci dengan gantungan kayu berbentuk hati yang sudah patah setengah.
Mereka berjalan menyusuri lorong yang lembap, di mana cat dindingnya mengelupas membentuk pola-pola aneh. Begitu pintu nomor enam dibuka, pemandangan di dalamnya membuat Tika hampir menjerit tanpa suara. Sebuah ranjang kayu berukuran queen dengan kasur kapuk yang permukaannya bergelombang seperti bukit dan lembah mendominasi ruangan yang sempit. Spreinya berwarna kuning pudar, meninggalkan tanda tanya besar apakah warna itu hasil desain atau akumulasi noda yang tak dibersihkan selama puluhan tahun.
"Aku rasa, kuman-kuman di sini sedang melakukan pesta pora menyambut kedatangan kita," gumam Dika sambil meletakkan tasnya di sudut ruangan yang ia anggap paling aman dari jangkauan rayap.
Lantas, perang ego dimulai tepat saat mereka harus memutuskan posisi tidur di atas satu-satunya wilayah kekuasaan yang tersedia.
"Gue tidur di pinggir kiri dekat jendela," ujar Tika dengan cepat. "Gue butuh akses oksigen kalau-kalau bau ruangan ini membuat gue pingsan mendadak."
"Jendela itu dipaku mati, Tika. Tidak ada oksigen di sana, yang ada hanya debu berusia kurang lebih sekitar sepuluh tahun," bantah Rendra. Ia melepas jas mahalnya dengan gerakan jijik dan menggantungnya di sebuah paku yang menancap sembarangan di dinding. "Saya yang tidur di pinggir. Saya yang paling tua, dan saya butuh ruang gerak kalau ada keadaan darurat."