Ban lebar Si Biru melindas ranting-ranting kering dengan bunyi gemeretak yang memicu kecemasan di dalam kabin. Di depan mereka, aspal yang tadinya tipis kini benar-benar habis, berganti dengan jalan setapak berbatu yang lebarnya nyaris pas dengan bodi Holden itu. Di sisi kiri, jurang dangkal yang dipenuhi semak berduri menganga, sementara di sisi kanan, tebing tanah merah mengawasi dengan bisu.
"Mas, ini beneran jalannya? Gue nggak lihat ada tanda-tanda kehidupan di depan." Tika mencengkeram erat sabuk pengaman. Matanya terpaku pada layar dasbor yang kini hanya menampilkan kursor biru berputar-putar di atas peta digital yang kosong. "GPS-nya mati total. Dead zone."
"GPS memang nggak bakal bantu di sini, Tika," sahut Rendra. Ia mengatur napasnya, mencoba menenangkan debar jantung yang lebih kencang dari putaran mesin V8-nya.
"Bapak sengaja. Dia nggak mau koordinat ini ditemukan orang yang cuma modal teknologi dan aplikasi."
Dika yang bajunya masih menyisakan noda lumpur kering dari kejadian di kolong mobil tadi, sibuk membolak-balik polaroid kedua. Foto itu memperlihatkan sebuah gapura kayu sederhana yang hampir tertutup lumut, dengan latar belakang deretan pohon melati gambir yang rimbun. Di balik foto itu, hanya ada tulisan singkat: 'Ikuti penciumanmu, Rendra'.
"Mas ingat sesuatu?" tanya Dika. Matanya menyipit memperhatikan bayangan pohon-pohon besar di luar. "Aku sudah coba hitung manual lewat odometer, kita harusnya sudah masuk wilayah koordinat itu lima menit lalu. Tapi di sini cuma ada hutan."
Rendra tidak menjawab. Ia menurunkan kaca jendela di sisi sopir. Seketika, udara dingin pegunungan merangsek masuk, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran mesin. Rendra memejamkan mata sesaat, membiarkan angin membelai wajahnya.
"Mas... lo nggak lagi mau semedi kan?" seloroh Tika, meski suaranya terdengar bergetar ngeri.
"Diem dulu, Tika."
Rendra menarik napas dalam-dalam. Memori itu samar, terkubur di bawah tumpukan laporan keuangan dan strategi bisnis bertahun-tahun. Namun, ada satu aroma yang tidak pernah bisa ia lupakan dari masa kecilnya—saat ia masih sering diajak Bapak 'jalan-jalan jauh' sebelum Ibu jatuh sakit. Bukan wangi parfum mahal, melainkan bau manis yang tajam, hampir memabukkan.
"Kayaknya ke sebelah kiri, Dika. Di depan ada percabangan tertutup semak. Mas yakin di sana," ujar Rendra mantap.
Ia membelokkan kemudi dengan paksa. Si Biru menerjang semak belukar yang menyabet bodi mobil dengan bunyi srek-srek yang menyakitkan telinga. Tika memekik pelan saat ranting-ranting itu mencakar kaca mobil. Tiba-tiba, jalan itu terbuka. Sebuah desa kecil yang tampak seperti terjepit di antara dua bukit muncul di depan mata.
Desa itu sunyi. Tidak ada suara televisi, tidak ada deru motor. Hanya suara angin yang menggesek daun-daun melati yang tumbuh liar di setiap jengkal tanah. Namun, ada yang aneh. Hampir seluruh rumah di sana tampak kosong, dengan pintu yang dirantai atau jendela yang dipaku papan kayu.
"Ini desa mati?" bisik Dika. Ia turun dari mobil. Kakinya gemetar menyentuh tanah yang empuk oleh guguran bunga.
Seorang pria tua dengan caping lebar dan cangkul di bahu berjalan mendekat dari balik bayang-bayang pohon beringin besar. Ia berhenti sekitar lima meter dari Si Biru, menatap mobil itu seperti sedang melihat artefak yang bangkit dari kubur.
"Siapa yang izinkan kalian masuk ke wilayah genangan?" tanya pria itu. Suaranya berat, berwibawa meski ia hanya mengenakan celana komprong hitam yang sudah pudar.
Rendra melangkah maju, tangannya sedikit terangkat untuk menunjukkan bahwa mereka tidak berbahaya. "Maaf, Pak. Kami mencari lokasi di foto ini. Kami tidak tahu kalau ini wilayah terlarang."
Pria itu menyipitkan mata, lalu pandangannya beralih ke emblem melati besi di kap mobil. Ia berjalan mendekat, mengabaikan Rendra, lalu mengetuk-ngetuk bodi baja Si Biru dengan jempolnya yang kapalan. "Cuma satu orang yang keras kepala tetap pakai mesin V8 di tanjakan begini. Dan cuma satu orang yang cat mobilnya nggak pernah diganti selama tiga puluh tahun."
Ia mendongak, menatap Rendra dengan tajam. "Kamu punya sorot mata yang sama galaknya dengan Broto. Jadi, dia benar-benar mengirim kalian ke sini?"
"Bapak sudah meninggal, Pak," sahut Dika pelan.
Pria itu tertegun sejenak. Ia menurunkan cangkulnya ke tanah, lalu melepaskan capingnya. "Jadi si tua itu sudah jalan duluan, ya?" Ia menghela napas panjang, menatap ke arah lembah di bawah desa yang kini mulai tertutup kabut. "Sepuluh tahun lalu, orang-orang pindah karena proyek waduk di bawah sana. Desa ini harusnya sudah tenggelam, tapi entah kenapa, airnya tidak pernah sampai ke sini. Saya tetap di sini, menjaga makam dan, ini sebagai janji saya pada Bapakmu."
"Nama Bapak siapa?" tanya Tika penasaran.