Raungan mesin V8 Si Biru membelah kesunyian puncak bukit. Suaranya memantul di antara tebing batu yang lembap. Di depan sana, lampu depan yang kekuningan menyorot ujung aspal yang putus, menyisakan kerangka jembatan kayu tua yang tampak seperti tulang belulang raksasa. Bagian tengahnya menganga lebar, sekitar tiga meter kayu yang sudah runtuh ke dasar jurang.
"Mas! Berhenti, Mas! Itu bolong!" Tika menjerit, kedua tangannya mencengkeram dasbor hingga buku-buku jarinya memutih. "Gue nggak mau mati konyol di sini! Mas, denger nggak sih?!"
Rendra tidak menjawab. Rahangnya mengatup rapat, matanya terpaku pada speedometer yang merangkak naik. 60 .... 70.... Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya yang sudah tak lagi licin. Di telinganya, suara Bapak dari radio terus berbisik, statis, tetapi tegas: "...jangan injak rem apa pun yang terjadi."
"Aku sudah hitung jaraknya, Mas!" Dika berteriak dari kursi penumpang depan. Suaranya pecah antara ngeri dan adrenalin. Ia memegang erat kotak pemancar tua di pangkuannya. "Kalau kecepatan kita stabil di 80, momentumnya cukup untuk mendarat di balok tumpu seberang! Tapi Mas harus lurus, jangan goyang sedikit pun!"
"Dika, lo gila ya?! Lo berdua gila!" Tika terisak di belakang, menutup wajahnya dengan tas mewah yang kini sudah lecet di sana-sini. "Gue belum kawin, Mas! Gue belum hapus skandal gue!"
"Tika, kamu pegang pegangan pintu! Merunduk!" perintah Rendra telak.
Ban depan Si Biru menyentuh kayu jembatan yang mulai mengerang. Bunyi krak-krak-krak terdengar seperti rentetan tembakan. Rendra menginjak gas hingga mentok ke lantai. Mobil itu melesat. Saat roda depan mencapai tepian lubang, gravitasi seolah menghilang sesaat. Si Biru melayang di udara, sebuah bongkahan baja biru yang menantang maut di bawah sinar bulan.
BRAKKK!
Benturan itu begitu keras hingga kepala Rendra nyaris menghantam setir. Suara besi beradu dengan kayu keras menggelegar. Suspensi depan Si Biru menjerit, terdengar bunyi ngik yang menyakitkan saat shockbreaker kiri depan pecah dan bocor seketika. Mobil itu mendarat miring, terseret beberapa meter dengan bodi bawah yang menggasak kayu jembatan hingga memercikkan bunga api.
Sunyi seketika menyergap. Hanya suara mesin yang tersengal-sengal dan uap panas yang keluar dari balik kap mesin.
"Kita... kita masih hidup?" Tika berbisik, kepalanya muncul perlahan dari balik jok.
Rendra mencoba menggerakkan bahunya yang kaku. "Kalian nggak apa-apa? Tika? Dika?"
"Alhamdulillah, Mas. I'm fine." Dika meringis sambil memegangi rusuknya yang terhantam sabuk pengaman. "Tapi Si Biru ..., Mas coba dengar suaranya. Per kiri depan mati total."
Rendra menghela napas panjang, menyandarkan dahi di atas kemudi. Tangannya gemetar hebat. Ia menoleh ke spion tengah, menatap mata Tika yang sembab. "Maafin Mas, Tika. Mas harus lakukan itu."
Tika tidak menjawab, ia hanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap jembatan yang kini sudah benar-benar runtuh di belakang mereka setelah dilewati Si Biru. Jalan pulang sudah tertutup. Satu-satunya pilihan yang dihadapkan pada mereka sekarang adalah terus maju.
Ketiga bersaudara itu turun dari mobil dengan langkah goyah. Si Biru tampak menyedihkan; bagian kiri depannya amblas, membuatnya terlihat seperti anjing yang kakinya pincang. Di seberang jembatan ini, ada sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pohon-pohon pinus tua. Di tengahnya, berdiri sebuah tiang kayu yang sudah lapuk, menyangga sebuah kotak pos logam berwarna merah kusam yang catnya sudah mengelupas dimakan cuaca.
"Itu apa?" Tika menunjuk kotak pos tersebut.
"Nggak mungkin ada tukang pos yang mau nganter surat ke sini," timpal Dika.
"Itu tempat Bapak nyimpen barang, Mas yakin," sahut Rendra.
Mereka perlahan-lahan mendekat. Di pintu kotak pos itu, tertempel stiker kecil bergambar melati putih yang sudah pudar. Rendra mencoba membukanya, tapi terkunci. Pria itu mengalihkan pandangan ke arah Dika. Tanpa perlu diminta, Dika sudah memegang kunci pas M.L. milik Bapak.
"Coba, Dika."
Dika memasukkan ujung kunci pas itu ke celah pengunci kotak pos. Dengan sedikit hentakan dan bunyi derit besi yang berkarat, pintu itu terbuka. Di dalamnya tidak ada surat, melainkan sebuah bungkusan kain beludru hitam yang membungkus sebuah pemutar kaset portabel (walkman) tua dan satu buah kaset pita.
Di label kaset itu, tertera tulisan tangan Bapak: UNTUK ANAK-ANAKKU: FREKUENSI M.L.
"Dengerin di dalam mobil, yuk, di luar dingin banget," ajak Tika sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Mereka kembali masuk ke kabin Si Biru yang kini terasa lebih sempit karena posisi mobil yang miring. Rendra memasukkan kaset itu ke dalam pemutar kaset mobil. Bunyi gesekan pita terdengar sesaat, sebelum suara berat dan berwibawa Bapak memenuhi ruangan.
"Rendra, Tika, Dika ..., kalau kalian dengar ini, berarti kalian sudah berani melompati ketakutan kalian di jembatan itu. Rendra, maafkan Bapak karena membuatmu harus jadi supir rongsokan ini. Tapi, kamu harus tahu, kepemimpinan bukan soal mobil apa yang kamu kendarai, tapi siapa yang kamu bawa di dalamnya."
Tika mulai terisak lagi mendengar suara itu. Ia merindukan bau cerutu Bapak yang biasanya memenuhi ruang kerja.
"Tika, jangan menangis. Masalahmu di Jakarta itu hanya debu. Bapak tahu kamu lebih kuat dari sekadar angka di layar ponselmu. Dan Dika ..., terima kasih sudah menjaga kunci itu. Kamu adalah mata Bapak di perjalanan ini."
Suara Bapak terjeda sejenak, terdengar suara tarikan napas panjang di rekaman itu.