Rahasia Rendra telah terungkap, dan beban perjalanan ini kini terasa lebih berat bagi mereka bertiga. Atmosfer di dalam kabin Si Biru tidak lagi hanya penuh dengan kejengkelan, tetapi juga kecemasan yang sunyi. Tika dan Dika lebih banyak diam, sesekali mencuri pandang ke arah Rendra yang berpura-pura sibuk dengan kemudi.
Sebelum melanjutkan perjalanan ini, mereka harus menghadapi sisa-sisa kehancuran dari kecelakaan truk ayam semalam.
Pagi itu, bengkel Barokah di kaki bukit Alas Roban, ternyata tak memberikan banyak harapan. Bau oli bekas kental dan sisa bensin yang hampir kedaluarsa menyambut mereka. Kondisi Si Biru tampak mengenaskan. Kap mesinnya terangkat seperti mulut yang ternganga kesakitan, menampakkan jeroan mesin yang tertutup bulu ayam kering dan kotoran ayam yang mulai mengeras.
Rendra berdiri di depan radiator. Tangannya yang terbiasa memegang pena mahal kini belepotan pelumas hitam. Ia mencoba mencengkeram kunci pas, tetapi jemarinya gemetar. Siku kemejanya sobek, menampakkan kulit yang lecet memerah.
"Mas, jangan ditarik paksa bautnya. Itu baut pembuangan minyak rem, kalau patah, nyawa kita bisa wasalam," tegur Dika. Ia merangkak keluar dari kolong mobil. Wajahnya coreng-moteng oleh debu dan oli.
"Tika, tolong ambilin kunci pas nomor dua belas di kotak itu. Sekarang."
Tika, yang biasanya hanya tahu cara memesan kopi di lounge mewah, kini berlutut di atas semen yang dingin dan kotor. Ia meraih kunci besi yang berat itu dengan jijik. Ujung kukunya yang mahal sudah patah dua.
"Gue nggak percaya gue ngelakuin ini. Sumpah, ini bakal jadi trauma seumur hidup gue."
"Tahan dulu keluhannya, Tika," potong Rendra sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor, meninggalkan corengan hitam permanen di sana. "Saya nggak mau mati di sini karena rem yang nggak berfungsi. Dika, coba kamu tunjukkin di mana letak selang yang bocor itu."
Dika memandu tangan Rendra masuk ke sela-sela blok mesin yang sempit dan panas. Rendra harus meraba, merasakan tekstur logam yang kasar, dan menahan panas yang masih tersisa. Mereka bekerja dalam keheningan yang terasa canggung. Tak ada bantuan mekanik. Hanya mereka bertiga, obeng karatan, dan sebuah mobil tua yang menolak untuk menyerah. Saat baut itu akhirnya terlepas dengan bunyi krak yang memuaskan, Rendra mengembuskan napas panjang. Untuk sesaat, beban utang dan ancaman Ambon yang sempat mampir dalam mimpinya semalam, kalah oleh kepuasan kecil karena berhasil melonggarkan satu baut tua.
Setelah rem terasa cukup padat saat dikocok, mereka kembali memulai perjalanan. Namun nyatanya, kelegaan itu tak bertahan lama.
"Dunia digital berakhir di sini. Selamat datang di zaman batu."
Kalimat itu meluncur dari bibir Dika saat ia menatap layar panel instrumen Si Biru yang kini tak ubahnya kotak besi tak berguna. Jarum penunjuk kecepatan bergoyang malas di angka dua puluh, bergetar searah dengan guncangan bodi mobil yang menghantam lubang-lubang jalan. Di luar jendela, pemandangan berubah total secara drastis. Aspal beton yang mereka lalui sejak pagi tadi telah habis, berganti menjadi jalan tanah berbatu yang dikepung oleh rumpun bambu yang melengkung rendah. Batang-batang bambu itu saling bergesekan, mengeluarkan bunyi derit panjang yang menyerupai rintihan.
Rendra mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Sisa-sisa pucat akibat mimpi buruk tentang Ambon semalam masih membekas di kantung matanya. Namun, egonya memaksa pria itu untuk tetap terlihat memegang kendali penuh. Ia tak ingin adik-adiknya melihatnya sebagai pecundang yang sedang ketakutan.
"Mas, perasaan, kita udah lewat persimpangan ini tiga kali, deh," gumam Tika dari kursi depan. Ia tidak lagi memegang cermin atau membetulkan riasan yang mulai luntur. Wajahnya polos, hanya tertutup lapisan debu jalanan yang masuk melalui ventilasi AC yang mati. "Gue inget banget, lho, pohon pisang yang jantungnya dimakan ulat itu. Kita cuma berputar-putar kayak tikus dalam labirin, Mas."
"Instruksi Bapak di kaset jelas, Tika! 'Cari persimpangan dengan papan kayu, lalu belok ke arah matahari tenggelam,'" Rendra mengutip dengan nada gusar, mencoba menutupi keraguannya sendiri.
"Masalahnya, Mas." Dika memotong dari belakang, menyodorkan kepalanya di antara celah kursi depan. "Papan kayu yang dimaksud Bapak kemungkinan besar adalah tumpukan rayap yang barusan kita lindas di belakang sana. Nggak ada papan yang masih berdiri tegak di hutan ini."