Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #9

Mbah Suro

Ketegangan di tengah pemakaman itu mencapai puncaknya saat ketukan cangkul pada bodi Si Biru berhenti.

Sosok pria pembawa cangkul yang berdiri di samping jendela Tika mematung sejenak sebelum akhirnya lampu kabin Si Biru yang redup menyingkap wajahnya. Tika hampir tak bernapas, sementara Rendra merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.

Suasana di dalam kabin Si Biru seketika mendingin, melampaui suhu udara hutan di luar sana. Tika memejamkan mata rapat-rapat. Namun, indra pendengarannya malah justru menajam. Ia bisa mendengar dengan jelas deru napas berat yang berasal dari luar jendela, napas yang berbau tanah basah dan tembakau lintingan.

"Mas, dia masih di sana?" bisik Tika, nyaris tanpa suara.

"Diam, Tika," sahut Rendra pelan. Tangannya diam-diam meraba ke bawah kursi, mencari benda tumpul apa saja yang bisa dijadikan senjata. Sialnya, ia hanya menemukan botol air mineral kosong yang remuk.

Pria tua itu tak menyerang. Ia justru membungkuk, mendekatkan wajahnya yang penuh kerutan ke arah kaca jendela yang terbuka lima senti. Cahaya bulan yang pucat menerangi matanya yang keruh, tetapi sorotnya tajam.

"Mobil ini ...." Suara pria itu parau, seperti gesekan amplas pada kayu. "Hanya ada satu orang yang punya mobil berisik ini. Broto. Di mana dia?"

Rendra tersentak. Nama Bapak disebut dengan nada yang begitu akrab sekaligus penuh selidik. Ia memberanikan diri sedikit menurunkan kaca jendela, meski Tika sudah mencubit lengannya dengan keras sebagai pertanda protes.

"Bapak sudah meninggal, Pak," jawab Rendra. "Kami anak-anaknya. Saya Rendra. Ini adik-adik saya."

Pria tua itu terdiam lama. Ia menyandarkan cangkulnya di pundak, lalu mundur satu langkah. Ia mengamati Si Biru dari ujung kap mesin yang ringsek sampai ke pintu belakang yang berkarat. Sebuah desahan panjang keluar dari mulutnya, membawa kabut tipis di udara malam.

"Meninggal, ya? Padahal dia janji mau bawa kaset itu kembali ke sini," gumamnya. Pria tua itu kemudian menatap Rendra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kalian mau ke desa itu? Rumah Cahaya?"

"Bapak tahu tempatnya?" tanya Dika, memberanikan diri mencondongkan tubuh dari kursi belakang.

"Saya kuncennya. Tidak ada yang bisa masuk ke sana tanpa seizin saya, apalagi di malam jumat kliwon seperti sekarang ini," jawab pria itu. Ia mengetukkan cangkulnya ke tanah. "Tapi kalian datang dengan tangan kosong. Broto tahu aturannya. Masuk ke desa kami butuh 'mahar' pembersihan."

"Berapa, Pak? Saya akan bayar!" Rendra merogoh saku kemejanya yang kotor, melupakan sejenak bahwa dompetnya sudah sekarat.

Pria itu tertawa kecil, mengeluarkan suara yang lebih mirip batuk kering. "Uangmu tidak laku di sini, anak muda. Syaratnya sederhana tapi berat. Malam ini, kalian bertiga harus membersihkan tiga makam tertua di ujung sana. Tanpa lampu, hanya dengan tangan kalian sendiri. Kalau kalian selesai sebelum fajar, saya akan tunjukkan jalannya. Kalau tidak, Si Biru ini akan jadi penghuni tetap di sini bersama kalian."

Tika memekik pelan. "Gue disuruh gali kuburan? Rendra, ini gila! Gue nggak mau!"

"Bapak itu bukan nyuruh bikin lubang makam baru, Tika. Kita cuma diminta bersihin lumutnya," terang Rendra mengoreksi ucapan Tika dengan nada bicara yang dingin.

"Itu makam keluarga yang membuka desa ini. Bapakmu dulu yang merawatnya. Sekarang giliran kalian. Ini sebagai syaratnya."

Rendra menatap Tika yang sudah di ambang histeris, lalu beralih ke Dika yang tampak sedang menimbang-nimbang. Mereka tak punya lagi pilihan. Kembali ke belakang berarti buntu, diam di sini berarti mati kedinginan.

"Kami terima syaratnya," ucap Rendra tegas yang dibalas dengan tatapan tak setuju dari kedua adiknya.

****

Satu jam berikutnya adalah siksaan paling nyata dalam hidup ketiga bersaudara itu. Di bawah bimbingan pria tua yang memperkenalkan diri sebagai Mbah Suro, mereka merangkak di antara nisan-nisan batu yang dingin.

Rendra menggosok lumut yang tebal dengan sobekan kain kemeja mahalnya. Sementara Tika, dengan berlinang air mata yang terus mengalir tanpa henti, terpaksa mencabuti rumput liar yang membelit nisan kayu dengan tangan gemetar. Dika mengumpulkan dahan-dahan patah yang menutupi gundukan tanah.

Lihat selengkapnya