Pagi itu, hutan di puncak bukit tidak memberikan kehangatan. Kabut tipis menyelinap masuk melalui celah kaca jendela Si Biru yang tidak lagi rapat, membawa sisa-sisa aroma oli terbakar.
Rendra mengerjapkan matanya yang merah. Ia hanya sempat terlelap dua jam di balik kemudi, sementara Tika meringkuk di jok belakang dengan sisa isak tangis yang mengering, dan Dika tertidur sambil memeluk tas ranselnya di kursi penumpang.
Rendra menarik napas panjang, mencoba meregangkan otot lehernya yang kaku. Saat ia hendak menurunkan sun visor untuk menghalau silau matahari, sebuah benda kecil terjatuh ke pangkuannya. Sebuah foto polaroid.
Rendra memungut polaroid itu. Jantungnya berdegup tak keruan. Foto itu memperlihatkan seorang pria—Bapak—tampak jauh lebih muda, mengenakan kemeja safari kesukaannya. Lengannya merangkul mesra bahu seorang wanita muda yang mengenakan kebaya hijau muda. Wanita itu cantik, dengan senyum yang menyimpan ketenangan, dan ia sedang memegang sebuah buket bunga melati.
Tangan Rendra gemetar. Di balik foto itu, ada tulisan tangan Bapak yang tajam: Untuk Melati-ku, rumah ini adalah awal dari segalanya. 2012.
"2012?" gumam Rendra pelan. Seingatnya, di tahun itu Ibu sudah lama meninggal.
"Mas ..., itu foto apa?"
Suara serak Tika mengejutkannya. Rendra refleks hendak menyembunyikan foto itu, tetapi Tika sudah lebih cepat merampasnya dari celah kursi.
Keheningan di dalam kabin Si Biru mendadak menjadi sangat pekat. Tika menatap foto itu dengan mata yang membelalak. Napasnya mulai memburu, pendek-pendek dan tajam.
"I ..., ini siapa, Mas?" tanya Tika. Suaranya bergetar karena amarah yang mulai mendidih. "Ini alasan Bapak sering izin 'dinas luar' tiap akhir bulan? Ini alasan kenapa uang tabungan pendidikan gue dulu sempet dipotong?"
"Tika, tenang dulu. Kita nggak tahu siapa wanita ini," ujar Rendra mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri mulai meragu.
"Nggak tahu?! Mas, lihat tangannya!" Tika berteriak. Suaranya melengking hingga membangunkan Dika. "Bapak ngerangkul dia! Di depan rumah yang namanya 'Cahaya Melati'! Namanya aja udah Melati, Mas! Jadi selama ini kita cuma jadi pajangan di Jakarta, sementara Bapak punya 'rumah' lain di sini?! Ibu meninggal demi ngelahirin Dika, tapi Bapak malah asyik sama perempuan ini?!"
"Ada apa sih? Berisik banget!" Dika mengucek matanya, masih setengah sadar.
Tika melemparkan foto itu ke wajah Dika. "Lihat itu! Lihat pahlawan lo! Orang yang lo puja-puja karena ninggalin kaset suara Ibu, ternyata punya simpanan!"
Dika memungut foto itu. Ia menatapnya lama. Wajahnya yang semula mengantuk berubah menjadi tegang. "Cahaya Melati ..., ini kan panti asuhan yang tadi disebut di koordinat, Mbak. Mungkin ini cuma rekan kerja Bapak."
"Rekan kerja nggak bakal dirangkul kayak gitu, Dika! Dan lihat tulisan di belakangnya, 'Untuk Melati-ku'!" Tika meledak. Ia membuka pintu mobil dengan kasar dan melompat keluar ke tanah hutan yang basah. "Gue selama ini ngerasa bersalah karena nggak bisa jadi anak yang baik! Tapi ternyata, Bapak jauh lebih menjijikkan!"
Rendra menyusul keluar. "Tika! Jaga ucapan kamu! Beliau sudah meninggal!"