Matahari baru saja merangkak naik setinggi galah, memantulkan kilau tajam pada kap mesin Si Biru yang sudah kusam. Setelah menuruni bukit kabut, jalanan kini berubah menjadi tanjakan terjal yang membelah perkebunan teh. Aspalnya retak-retak, menyerupai kulit buaya yang kering. Rendra mengoper gigi ke posisi rendah, membuat raungan mesin V8 itu terdengar menyedihkan, berupa bunyi geraman berat yang dipaksakan.
Di dalam kabin, ketegangan masih tersisa. Tika menempelkan keningnya ke kaca jendela yang bergetar, matanya sembab, sementara foto Bapak yang merangkul Melati terselip di kantong dasbor, mengawasi mereka seperti hakim yang membisu.
"Mas, jarum suhunya lewat garis merah," gumam Dika. Ia mengetuk-ngetuk kaca panel instrumen yang retak. "Tadi di bawah masih aman, sekarang mendadak naik drastis."
Rendra melirik sekilas. Benar saja, jarum penunjuk temperatur itu sudah bersandar manja di huruf 'H'. "Mungkin karena nanjak terus, Dika. Si Biru kan sudah tua."
"Nggak, Mas. Ini beda. Aku cium bau sesuatu yang manis terbakar." Dika menghirup udara dalam-dalam. "Bau coolant."
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, suara dentuman pelan terdengar dari balik kap mesin, disusul kepulan asap putih yang mulai merayap masuk melalui celah air conditioner yang sudah mati. Rendra segera menginjak kopling dan menarik rem tangan dengan paksa. Si Biru berhenti di tengah tanjakan, bergoyang sejenak sebelum akhirnya terdiam dengan mesin yang tersedak lalu mati total.
"Kalian turun! Keluar sekarang!" perintah Rendra.
Mereka bertiga melompat keluar. Rendra menarik tuas pembuka kap mesin. Saat kap itu terangkat sedikit, uap panas menyembur keluar seperti naga yang marah. Dika menggunakan kaosnya untuk melindungi tangan, lalu membuka kap itu sepenuhnya.
Pemandangan di dalamnya mengerikan. Selang radiator utama pecah, menyisakan robekan menganga yang masih meneteskan sisa-sisa cairan hijau ke blok mesin yang panas membara. Suara mendesis terdengar nyaring.
"Selangnya getas, Mas. Pecah karena tekanan tinggi." Dika mendiagnosis dengan wajah pucat. "Radiatornya kosong melompong. Kering."
Rendra memutar kepalanya, memandang sekeliling. Hanya ada hamparan kebun teh sejauh mata memandang. Tidak ada sungai, tidak ada rumah penduduk, bahkan tidak ada genangan air hujan. Jalur ini benar-benar terpencil.
"Kita butuh air yang banyak." Rendra mengusap wajahnya yang berminyak. "Kalau mesin ini dipaksa nyala tanpa air, bloknya bisa melengkung. Si Biru mati di sini."
Tika berdiri di samping pintu belakang, menatap gumpalan asap itu dengan tatapan kosong. "Terus gimana? Kita jalan kaki? Gue nggak bisa jalan jauh dengan sepatu ini, Mas."
"Masalahnya bukan sepatu kamu, Tika! Masalahnya sensor ini!" Rendra menunjuk ke dalam kabin. "Kalau kita menjauh dari mobil ini lebih dari seratus meter untuk cari air, alarmnya bakal bunyi dan Pak Handoko bakal anggap kita gagal. Kita harus tetap di dekat Si Biru."
Dika memeriksa tas ranselnya. "Aku cuma punya satu botol air mineral, itu pun sudah tinggal setengah. Nggak bakal cukup buat ngisi radiator sebesar ini."
Rendra memeriksa bagasi, berharap ada cadangan air di sana. Nihil. Hanya ada dongkrak, ban serep yang botak, dan beberapa kunci inggris berkarat. Putus asa mulai merayap. Tanpa air, mereka terjebak. Dan di belakang mereka, Ambon mungkin sudah menemukan jalan setapak yang lebih cepat.
Tiba-tiba saja, Tika berjalan menuju bagasi. Ia menggeser koper besarnya yang bermerek itu dengan kasar hingga mengeluarkan bunyi gesekan di lantai besi mobil.
"Tika, kamu mau ngapain? Jangan bikin drama sekarang, Mas lelah," keluh Rendra.
Tika tidak menjawab. Ia membuka koper. Di dalamnya tertata rapi kotak-kotak kosmetik, botol-botol skincare mahal, dan peralatan kecantikan yang nilainya mungkin setara dengan harga mesin Si Biru. Tika mengeluarkan dua kotak besar berisi puluhan botol kaca ramping berlabel mewah.
"Itu apa?" tanya Dika bingung.
"Pure Bulgarian Rose Water," sahut Tika datar. Ia mengambil satu botol, membuka tutupnya, dan menghirup aromanya sesaat. "Gue bawa stok buat tiga bulan. Ini satu-satunya barang yang bikin gue ngerasa masih punya harga diri setelah skandal itu meledak."
Rendra mendekat. "Tika, kamu jangan bercanda. Itu, kan parfum?"
"Bukan parfum, Mas. Ini air sulingan mawar murni. Tanpa alkohol, tanpa minyak tambahan. Konsistensinya sama kayak air biasa." Tika menatap Rendra dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. "Satu botol ini harganya delapan ratus ribu. Gue punya empat puluh botol di sini."
Hening sejenak. Dika menghitung cepat di kepalanya. "Empat puluh botol, dikali dua ratus lima puluh mili, itu sepuluh liter. Mas, kayaknya bakalan cukup buat ngisi radiator sampai penuh!"