Trio bersaudara itu bertransformasi menjadi patung semen berjalan dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Debu putih itu awalnya hanya terlihat seperti kabut tipis yang menggantung malas di atas aspal jalanan lingkar luar sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Namun, saat Si Biru melaju lebih dekat ke arah kompleks pabrik semen tua yang cerobongnya menjulang menyerupai raksasa yang sedang merokok, kabut itu berubah menjadi serangan material padat. Udara mendadak pekat, kelabu, dan membawa aroma kapur tajam yang menyengat paru-paru.
"Rendra! Tutup jendelanya! Cepat!" Tika menjerit sambil membekap hidungnya dengan punggung tangan.
Rendra segera meraih tuas pemutar jendela di pintu kanan. Krak. Suara mekanis yang patah menyambut tenaganya. Tuas plastik itu berputar tanpa beban di genggamannya, sementara kaca jendela pengemudi tetap melorot setengah, seperti mengejek kepanikannya.
"Macet! Sebelah kiri juga nggak bisa!" Rendra membalas dengan teriakan, mencoba menarik pinggiran kaca dengan telapak tangannya yang mulai licin oleh keringat. Namun, kaca itu tetap bergeming di posisi terbuka. "Pasir semennya masuk ke dalam rel kaca! Semuanya terkunci!"
Dalam hitungan detik, kabin Si Biru bukan lagi sebagai tempat perlindungan, melainkan menjadi ruang inkubasi abu. Angin kencang meniupkan bubuk pabrik ke dalam mobil, menyelimuti segalanya dengan kecepatan yang mengerikan. Dasbor hitam yang baru saja dilap Rendra kini memutih. Jok kulit yang pecah-pecah tertutup lapisan bubuk halus. Dan yang paling parah adalah pemandangan di kursi penumpang.
"Uhuk! Uhuk! Gue nggak bisa napas!" Tika terbatuk hebat, tubuhnya membungkuk.
Tanpa pikir panjang, ia meraih tas tangannya, merogoh sebuah syal sutra bermerek Hermès yang biasanya ia pamerkan di acara-acara sosialita di Jakarta. Kain seharga belasan juta rupiah itu ia lilitkan berkali-kali ke wajahnya dengan kasar, menyisakan hanya sepasang mata yang melotot ketakutan.
Sementara itu, Dika yang duduk di belakang sudah lebih dulu menutupi kepalanya dengan kaus cadangan yang ia ambil dari tas, membuatnya terlihat seperti ninja amatir yang tersesat di gudang bangunan.
"Jangan berhenti, Mas! Kalau berhenti di sini, kita bakal terkubur hidup-hidup sama debu ini!" teriak Dika melalui celah kain kausnya.
Rendra memacu Si Biru melewati deretan truk molen raksasa yang diparkir di pinggir jalan. Pandangannya mulai terganggu karena kaca depan tertutup debu tebal yang menumpuk. Ia mencoba menyalakan wiper, tetapi bilah karet tua itu justru menggores debu kering menjadi lapisan semen tipis yang lengket karena sisa air hujan semalam.
"Sialan! Saya jadi nggak bisa fokus lihat jalan!" Rendra terpaksa menjulurkan kepalanya melalui jendela yang macet untuk mengintip arah depan, sebuah keputusan yang seketika saja langsung membuatnya menyesal.