Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #11

Teror Bayangan Ambon

Aroma mawar dari radiator yang mendidih semalam masih tertinggal di sela-sela jok kulit Si Biru, tetapi kini bercampur dengan bau debu pasar dan bumbu dapur yang menyengat. Mereka terjebak di tengah Pasar Tumpah Desa Ngadirejo, sebuah wilayah padat di pedalaman Jawa Tengah yang seolah enggan memberi jalan bagi mobil asing.

Suasananya begitu pekat. Klakson Si Biru yang biasanya gagah, kini terdengar tenggelam oleh teriakan pedagang sayur dan deru motor-motor tua yang memuat keranjang bambu setinggi gunung. Rendra mencengkeram kemudi, matanya awas memperhatikan gerobak sapi yang melintas lambat tepat di depan kap mobil. Jalanan aspal sempit itu juga tertutup oleh payung-payung pedagang, tumpukan keranjang sayur, dan kerumunan warga yang melakukan transaksi di bawah terik matahari yang mulai menggigit.

Rendra mencengkeram kemudi dengan kaku. Kemejanya yang robek di bagian lengan membuatnya tampak seperti gelandangan kelas atas. Di sampingnya, Dika sibuk menahan napas karena bau amis dari lapak ikan asin tepat di sebelah jendela mereka.

"Mas, pelan-pelan. Maju dikit, ada ibu-ibu bawa kangkung." Dika memberi instruksi sambil menjulurkan kepala keluar.

"Sabar, Dika. Ini koplingnya sudah keras banget," sahut Rendra. Kaki kirinya mulai tremor karena terus-menerus menahan setengah kopling di tanjakan pasar yang macet total.

Di jok belakang, Tika mencoba meringkuk sekecil mungkin. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan menyampirkan syal sutra untuk menutupi wajahnya. Baginya, pasar ini adalah neraka. Bukan karena baunya, tapi karena ketakutan akan pengakuan publik.

"Mas, tolong tutup kacanya. Gue nggak kuat baunya, dan, gue nggak mau ada yang lihat gue dalam kondisi kayak gini," bisik Tika.

Baru saja kalimat itu selesai, sebuah suara melengking memecah hiruk-pikuk pasar.

"Eh! Itu Kak Tika @Tika_Larasati kan? Yang lagi viral kasus endorse palsu itu?!" Seorang remaja perempuan berpandangan gaul ala-ala gen Z dengan ponsel di tangan berdiri tepat di samping pintu belakang Si Biru. Ia berteriak pada teman-temannya, memancing perhatian belasan pasang mata lainnya.

"Iya bener! Lihat tuh mobilnya, rongsokan banget! Katanya kaya raya, kok naik mobil bau mawar karatan begini?" timpal remaja lainnya sambil mulai mengarahkan kamera ponsel ke arah Tika.

Tika membeku. "Mas, jalan, Mas, gue mohon."

Rendra mencoba memajukan mobil. Namun, seorang pedagang ayam sengaja meletakkan keranjang tepat di depan bemper Si Biru.

"Sabar dulu, Bos! Antre! Orang kaya jangan buru-buru kalau di pasar!" teriak pedagang itu, memancing tawa riuh para pengunjung pasar.

Tika menunduk. Air matanya mulai menetes di balik kacamata hitam. Identitas 'sempurna' yang ia bangun selama bertahun-tahun di Jakarta kini hancur di atas jok mobil rongsokan, disaksikan oleh orang-orang yang selama ini hanya Tika anggap sebagai angka di kolom followers. Topengnya retak total. Bahkan, di daerah terpencil seperti ini saja, masih saja ada yang mengingat tentang skandalnya.

"Woi, Kak Tika! Klarifikasi dong di sini! Kenapa uangnya nggak dibalikin?!" teriak suara lain dari kerumunan.

"Dika, tutup jendelanya!" perintah Rendra tegas. Ia melihat adiknya itu juga mulai panik.

Dika dengan cepat memutar tuas jendela manual yang berat itu. "Sabar, Mbak. Jangan didengerin."

Setelah perjuangan melelahkan selama satu jam menembus pasar, Rendra akhirnya berhasil mengarahkan Si Biru ke pinggir jalan yang lebih sepi, tepat di bawah pohon beringin besar yang menjorok ke arah jurang dangkal. Mesin dimatikan. Hening mendadak terasa sangat berat.

Tika melepaskan kacamata hitamnya. Riasannya luntur terkena air mata, menyisakan coretan hitam di pipi. "Gue mau mati aja, Mas. Semuanya sudah tahu gue gembel sekarang. Karier gue abis."

Rendra tidak menjawab. Matanya tertuju pada spion samping. Sebuah sedan hitam tua dengan kaca film sangat gelap baru saja melintas pelan di jalur berlawanan. Mobil itu melambat tepat di depan mereka, sebelum akhirnya melaju lagi menghilang di balik tikungan. Jantung Rendra seolah berhenti berdetak. Itu sedan Ambon.

Lihat selengkapnya