Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #11

Sup Panas

Rasa lapar bisa meruntuhkan harga diri seorang CEO dalam sekejap.

Perut Rendra mengeluarkan bunyi keroncongan yang lebih nyaring daripada deru mesin Si Biru saat mobil itu merayap di pematang sawah yang sempit.

Sisa uang tunai yang diberikan Pak Handoko di awal perjalanan telah ludes untuk membayar denda tilang di kota sebelumnya, membeli permen jahe tambahan sebagai pengganjal perut, dan menyuap mekanik bengkel kemarin agar memprioritaskan mereka. Kini, yang mereka miliki hanyalah sebuah mobil tua dengan tangki bensin yang menunjukkan garis merah kritis dan tiga perut yang belum diisi sejak fajar menyingsing.

"Kalau gue harus makan permen jahe lagi, gue bersumpah lidah gue bakal berubah jadi jahe permanen," keluh Tika. Suaranya serak, tidak lagi memiliki energi untuk memekik atau berteriak seperti biasanya. Ia menyandarkan kepala pada bingkai jendela yang kacanya masih macet.

Di ujung jalan setapak yang membelah hamparan hijau, tampak sebuah rumah panggung kayu sederhana. Kepulan asap tipis keluar dari cerobong batunya, membawa aroma kayu bakar yang terbakar sempurna. Di teras rumah itu, seorang pria tua dengan kulit sewarna tembaga dan urat-urat tangan yang menonjol sedang duduk tenang, menyesap kopi dari sebuah cangkir kaleng yang sudah penyok di beberapa bagian.

Rendra menghentikan mobil. Ia menelan ludah yang terasa pahit dan kering, lalu turun dengan langkah gontai. Kakinya terasa kaku setelah berjam-jam menginjak pedal kopling yang keras.

"Permisi, Pak," ujar Rendra. Ia mencoba menegakkan punggung, mempertahankan sisa-sisa wibawa kepemimpinannya meski wajahnya masih memiliki bercak putih semen yang belum bersih benar di sela telinga. "Kami tersesat. Dan kami butuh bantuan. Kami juga belum makan," ujarnya dengan nada bicara agak terbata-bata dan sedikit bergetar.

Kalimat itu terasa sangat berat, seakan-akan ada beban berton-ton yang menahan lidahnya. Selama bertahun-tahun, Rendra adalah orang yang memberi makan ribuan karyawan melalui kebijakan perusahaannya. Ia adalah pemberi, bukan peminta. Namun di pinggir sawah yang sunyi ini, semua gelar CEO dan setelan flanel mahalnya tidak lebih berharga dari sepiring nasi.

Pria tua itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Karsa, meletakkan cangkir kalengnya. Ia menatap Rendra, lalu beralih ke Tika dan Dika yang ikut turun dengan wajah kuyu. Pak Karsa tidak bertanya mengapa tiga orang dengan potongan rambut orang kota ini bisa terdampar di pelosok desa dengan mobil rongsokan. Ia hanya berdiri, mengibaskan sarungnya, dan memberikan isyarat tangan agar mereka naik ke teras.

"Mari. Kebetulan istri saya baru saja mengangkat kuali. Sup sayur, masih panas," ujar Pak Karsa ramah. Suaranya berat, tetapi menenangkan.

Di dalam rumah yang harum oleh perpaduan bau kayu bakar dan bawang goreng, mereka disuguhi mangkuk-mangkuk keramik besar. Isinya sup kubis dan wortel dengan potongan kentang desa yang ukurannya tidak beraturan, tetapi terlihat sangat menggoda. Di dalam sup itu, tak ada irisan daging wagyu, juga tidak ada bumbu truffle, bahkan tidak ada penyedap rasa instan. Hanya air kaldu bening yang mengepulkan uap, ditaburi bawang merah goreng yang garing.

Bagi Rendra, Tika, dan Dika, sup itu seketika terasa lebih mewah daripada hidangan hotel bintang lima mana pun di Jakarta. Tika tidak lagi bertanya tentang kalori atau kebersihan sendoknya. Ia menyendok kuah panas itu dengan lahap, membiarkan rasa hangat menjalar hingga ke ujung jarinya yang kedinginan.

"Makanlah yang banyak. Di sini udara cepat membuat perut kosong," ujar Pak Karsa sambil duduk bersila di lantai kayu, mengamati mereka dengan senyum tipis.

Saat rasa lapar yang menyiksa itu mulai mereda, Dika merogoh saku tasnya. Ia mengeluarkan foto polaroid kedua. Dalam foto itu, tampak gambar pohon kersen tua dengan bekas luka di batangnya yang membentuk huruf 'V' yang dalam.

"Pak, apakah Bapak pernah melihat pohon dengan tanda seperti ini di sekitar sini?" tanya Dika.

Lihat selengkapnya