Kertas koran ini jauh lebih jujur daripada semua unggahan Instagram Tika. Lembaran itu sudah berubah warna, kuning kecokelatan, setengah basah terkena rembesan air sungai, dan terselip di bawah jok pengemudi Si Biru bersama tumpukan sampah plastik sisa perjalanan yang belum sempat dibuang. Rendra menemukannya saat ia sedang membungkuk, mencoba membersihkan sisa-sisa debu semen yang masih mengerak di sela-sela pintu mobil menggunakan obeng kecil.
Di halaman tengah koran kriminal dan gaya hidup itu, terpampang foto besar yang sangat kontras dengan suasana ketenangan pedesaan di sekitar mereka. Pada halaman koran itu, terpampang jelas foto Tika. Dalam foto itu tak menampakkan raut wajah Tika yang sedang tersenyum dengan latar belakang Menara Eiffel atau memegang tas bermerek, melainkan pose Tika yang sedang menunduk dalam. Telapak tangan sang selebgram itu menutupi wajah dari serbuan lampu kilat kamera. Judul besar di atasnya mencolok dengan huruf kapital: PROMOSI INVESTASI BODONG: SELEBGRAM TIKA B. TERANCAM PIDANA DAN GANTI RUGI MILIARAN.
Rendra tertegun. Ia memandangi deretan kalimat pedas di koran itu cukup lama, lalu perlahan mengalihkan pandangannya pada sang adik. Tika tengah jongkok di tepi sungai, beberapa meter dari mobil. Ia sedang mencoba mencuci kain syal sutranya yang kini lebih mirip lap dapur yang dekil.
"Tika," panggil Rendra. Nada bicaranya rendah, nyaris tertelan suara gemerecik aliran air.
Tika menoleh. Raut wajahnya berubah tegang, saat matanya menangkap lembaran koran yang kini berada di genggaman sang kakak. Seketika saja, rona di wajahnya memudar, menyisakan pucat yang pasi. Ia menjatuhkan syalnya ke sungai, membiarkan kain mahal itu hanyut beberapa meter sebelum akhirnya tersangkut di celah bebatuan lumut.
"Dari mana lo dapat itu?" tanya Tika. Suaranya bergetar, pandangannya mulai berkabut, lantas pertahanannya mulai retak.
"Di bawah jok. Sepertinya Bapak sengaja menyimpannya di sana." Tak ada ledakan amarah dalam nada bicara Rendra. Justru ada semacam kekosongan datar yang terasa jauh lebih menyayat bagi Tika daripada makian.
Perempuan itu berdiri perlahan, mencoba mengeluarkan tawa sinis yang dipaksakan meski matanya mulai berkaca-kaca. "Hebat, kan? Bapak bukan cuma tahu, beliau bahkan mendokumentasikan kehancuran gue. Mungkin itu alasan beliau bawa gue dalam perjalanan gila ini. Biar gue tahu rasanya nggak punya apa-apa sebelum bener-bener masuk penjara."
Dika, yang tadinya sibuk mencuci lampu depan mobil dengan air sungai, berhenti bergerak. Ia menatap dua kakaknya bergantian. Suasana di tepi sungai itu mendadak mencekam. Hanya gemericik air dan kicauan burung liar yang mengisi ruang di antara mereka.
"Berapa banyak yang mereka minta darimu, Tika?" tanya Rendra lagi.
"Semuanya," bisik Tika. Suaranya parau, pecah di ujung kalimat. "Rumah di Jakarta sudah disita. Mobil sport gue ditarik paksa. Semua kontrak iklan dibatalkan sepihak. Mereka menuntut ganti rugi lima miliar, atau gue harus pakai baju oranye. Itulah kenapa gue butuh banget uang warisan ini, Rendra. Gue butuh uang itu buat beli kebebasan gue sendiri."
Tika meledak. Isak tangisnya pecah, bahunya berguncang hebat hingga ia harus memeluk dirinya sendiri. Segala dinding pertahanan yang ia bangun dengan riasan tebal dan kesombongan selama perjalanan ini runtuh total di tepi sungai yang sunyi. Ia merasa telanjang. Bukan karena pakaiannya yang kotor dan berdebu semen, tapi karena rahasia paling memalukannya kini terpampang nyata di hadapan kedua saudara laki-lakinya.
Rendra berjalan mendekat dengan langkah pelan. Tika memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menerima ceramah panjang atau makian tentang betapa bodohnya ia karena terjebak dalam skema Ponzi murahan. Sang selebgram itu sudah kenyang dihujat di kolom komentar, dan ia pikir kakaknya akan melakukan hal yang sama sebagai pemenang dalam keluarga ini.
Akan tetapi, yang terjadi justru di luar dugaan Tika. Rendra meremas koran itu dengan kuat hingga menjadi gumpalan kecil yang padat. Ia tidak membaca artikel itu sampai selesai, juga tak menanyakan detail hukumnya. Dengan tenang, pria itu berjalan ke arah tumpukan kayu kering yang baru saja dikumpulkan Dika untuk membuat api unggun kecil, karena udara sore mulai menusuk kulit.