Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #12

Bengkel Tua Sahabat Bapak

Jalan tikus di perkebunan kopi itu adalah ujian ketahanan fisik bagi Si Biru. Roda-rodanya melindas akar pohon yang menyembul dari tanah merah, membuat bodi mobil berguncang hebat hingga baut-baut pintunya berderit menyakitkan. Rendra mencengkeram kemudi dengan urat nadi yang menonjol di lengan kemeja robeknya. Ia harus menjaga momentum agar mobil tidak selip di tanah yang gembur karena sisa hujan semalam.

BRAKK!

Si Biru menghantam sebuah batu tanam yang cukup besar. Guncangan itu begitu keras hingga laci dasbor di depan Dika terlepas dari engselnya yang sudah rapuh. Dasbor plastik tua itu merosot, menyingkapkan rongga gelap di balik kabel-kabel yang semrawut."Aduh! Dasbornya copot, Mas!" seru Dika sambil menahan plastik itu agar tidak menimpa kakinya.

"Tahan dulu, Dika! Mas nggak bisa berhenti di tanjakan begini!" balas Rendra.

Akan tetapi, perhatian Dika teralihkan oleh sesuatu yang terselip di balik rongga dasbor tersebut. Ada sebuah laci logam kecil yang tersembunyi di balik susunan kabel pemantik api. Laci itu tidak memiliki pegangan, hanya sebuah lubang kunci kecil yang sangat familiar.

"Mas, lihat ini. Ada ruang rahasia di bawah dasbor!" Dika merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci pas M.L. yang selama ini ia bawa. Ia memasukkan ujung kunci itu ke lubang kecil tersebut.

Klik. Laci logam itu meluncur terbuka. Di dalamnya tersimpan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam dan sekumpulan kuitansi lama yang sudah menguning. Tika mencondongkan tubuhnya dari kursi belakang, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa mual akibat guncangan mobil.

"Apaan itu, Dika? Uang?" tanya Tika penuh harap.

Dika membuka buku itu. Isinya bukan lembaran rupiah, melainkan catatan tangan Bapak yang rapi tentang setiap perbaikan Si Biru sejak tahun 1983. Namun, di lembar paling belakang, ada sebuah denah kasar menuju 'Rumah Cahaya' dengan catatan kecil: 'Tempat Maria beristirahat dalam damai.'

"Denah?" Rendra melirik sekilas saat mobil akhirnya sampai di permukaan jalan yang lebih rata. "Itu pasti lokasi panti asuhan itu, Dika."

"Bapak bener-bener simpen semuanya di mobil ini," bisik Dika. Matanya menyisir sketsa jalur pesisir yang digambar tangan oleh Bapak.

Satu kilometer setelah keluar dari perkebunan kopi, mereka tiba di sebuah bangunan seng berkarat yang terletak di ujung jalan buntu. Sebuah papan kayu bertuliskan BENGKEL CAK JITO - SPESIALIS TUA & REWEL tergantung miring di depan gerbang.

"Ini tempatnya," ujar Rendra. "Tempat terakhir sebelum kita masuk ke jalur pesisir."

Seorang pria paruh baya dengan kaos singlet penuh noda oli hitam keluar dari bawah kolong sebuah truk tua. Pria itu mengelap tangannya yang berminyak dengan kain majun dekil, lalu menyipitkan mata ke arah mobil biru yang berhenti di depannya.

"Si Biru?" Suara pria itu parau, tetapi ada nada haru di sana. Ia berjalan mendekat, meraba kap mesin yang masih terasa hangat. "Ya Gusti, saya pikir mobil ini sudah jadi paku bumi di Jakarta."

Lihat selengkapnya