Si Biru mendaki jalur pesisir yang kini diapit oleh tebing kapur di satu sisi dan jurang yang mengarah langsung ke laut di sisi lainnya. Langit di atas Desa Mati berubah menjadi warna ungu pekat, pertanda badai akan segera datang. Suara ombak yang menghantam karang terdengar samar di bawah sana, bersahutan dengan deru mesin yang kini terdengar lebih stabil berkat tangan dingin Dika di bengkel Cak Jito tadi.
Tika duduk meringkuk di jok belakang, matanya tertuju pada layar ponselnya yang sejak pagi tadi tidak mendapat sinyal. Tiba-tiba, saat mobil melewati puncak tebing yang terbuka, ponsel di tangannya bergetar hebat. Rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi seperti tembakan senapan mesin.
Ping! Ping! Ping!
"Sinyal! Mas, ada sinyal!" Tika berseru.
Akan tetapi, suaranya tak terdengar ceria. Ada nada ngeri yang terselip di sana.
Jarinya dengan cepat membuka aplikasi Instagram. Di sana, di kolom Trending, namanya bertengger di posisi puncak. Tika menahan napas. Ia menggeser layar dengan cepat. Video-video palsu tentang dirinya, testimoni dari klien endorse yang menuduhnya membawa lari uang miliaran rupiah, hingga foto-foto privasinya yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat ia sedang terpuruk, kini tersebar luas.
Hujatan di kolom komentar mengalir deras.
"Influencer penipu!"
"Mati aja lo, Tika! Balikin duit gue!"
"Ternyata aslinya gembel, naik mobil rongsokan di hutan."
Wajah Tika memucat. Ponsel itu terjatuh dari tangannya ke lantai mobil yang berdebu.
"Gue, gue habis, Mas," bisik Tika. Suaranya pecah. "Semua orang benci gue. Semua orang pengen gue mati."
"Tika, matiin HP-nya. Jangan dibaca," ujar Rendra dari balik kemudi. Matanya tetap fokus pada jalanan yang mulai licin karena rintik hujan pertama.
"Gimana nggak dibaca?! Ini hidup gue, Mas! Karier yang gue bangun lima tahun hancur dalam semalem!" Tika mulai berteriak, isak tangisnya pecah menjadi histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri, menendang-nendang bagian belakang jok Rendra. "Gue nggak punya apa-apa lagi! Gue cuma sampah di mata mereka! Kenapa Bapak harus ninggalin warisan konyol ini?! Kenapa kita nggak di Jakarta aja buat beresin ini?!"
"Tika, tenang!" bentak Rendra, tetapi Tika justru semakin tak terkendali. Ia mencoba membuka pintu mobil yang sedang berjalan.
"Mbak Tika! Jangan!" Dika berteriak dari kursi penumpang. Secepat kilat ia mencondongkan tubuh ke belakang untuk menahan tangan Tika yang sudah memegang tuas pintu.
Rendra membanting setir ke kiri, menginjak rem sekuat tenaga hingga Si Biru berhenti melintang di jalan setapak yang sempit. Mesin mati mendadak. Sunyi menyergap, hanya terdengar bunyi guyuran hujan yang mulai menderas menghantam atap logam mobil.
Tika menangis histeris di jok belakang, badannya berguncang hebat. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menghalau kenyataan bahwa dunia virtualnya telah kiamat.
Rendra terdiam sesaat, tangannya masih mencengkeram kemudi dengan kencang. Pria itu melihat adiknya yang hancur melalui spion tengah. Selama ini, ia selalu menjaga jarak, bersikap dingin, dan menganggap masalah Tika hanyalah drama anak muda yang haus perhatian. Namun, melihat Tika yang nyaris melompat keluar tadi, sesuatu di dalam dada Rendra terasa perih. Rendra melepas sabuk pengamannya. Ia pindah ke jok belakang dengan susah payah, lalu menarik Tika ke dalam pelukannya.
"Tika, dengerin Mas," bisik Rendra.
Tika mencoba meronta, tetapi Rendra memeluknya lebih erat. "Lepasin gue, Mas! Lo nggak ngerti! Lo punya bisnis, lo punya harga diri! Gue nggak punya apa-apa!"
"Mas juga nggak punya apa-apa, Tika!" Suara Rendra meninggi, menjeda tangis adiknya.