Cahaya kelabu fajar menyusup melalui celah-celah papan kayu gudang garam Pak Joko, memantulkan kilau suram pada bodi Si Biru yang kini tertutup lapisan garam dan lumpur kering. Rendra terbangun dengan leher kaku. Ia menoleh ke belakang, melihat Tika masih terlelap dengan mulut sedikit terbuka, tangan kanannya masih menggenggam erat ujung jaket Rendra seolah takut kakaknya itu akan menghilang jika ia melepaskannya. Di sampingnya, Dika meringkuk memeluk map kulit dan senter kepala pemberian Cak Jito.
"Mas, sudah pagi?" suara Dika serak, matanya mengerjap berat.
"Sudah, Dika. Kita harus gerak sekarang sebelum air pasang lagi atau Ambon nemu tempat ini," bisik Rendra.
Pak Joko muncul dari balik tumpukan karung garam, membawa sebungkus nasi jagung yang masih hangat. "Jalan di depan itu sudah mati sejak tahun sembilan puluh, Mas. Longsor besar motong aspalnya. Di GPS pasti cuma kelihatan hutan hijau. Kalian beneran nekat mau lewat sana?"
Rendra menerima nasi jagung itu, membaginya menjadi tiga bagian. "Saya rasa, nggak ada pilihan lain, Pak. Jalan utama pasti sudah dijaga mereka."
"Kalau begitu, dengerin pesan saya." Pak Joko menunjuk ke arah barisan pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga ke jalan setapak di luar gudang. "Jangan percaya sama mata kalian. Di sana banyak jalan simpang yang bakal bikin kalian muter-muter sampai bensin habis. Percaya sama hidung. Kalau baunya amis laut, berarti kalian salah arah. Tapi kalau baunya manis, bau bunga yang sering dibawa Dokter Broto, ikuti terus."
Rendra mengangguk, menyalakan mesin Si Biru. Raungan V8-nya menggema di dalam gudang, terdengar lebih percaya diri setelah dibersihkan Dika kemarin. Tika terbangun, mengusap matanya yang masih bengkak, lalu mengikat rambutnya dengan karet gelang yang ia temukan di dasbor. Topeng influencer-nya benar-benar sudah tanggal; yang tersisa hanyalah seorang adik yang terlihat rapuh namun memiliki sorot mata yang mulai keras.
Si Biru keluar dari gudang garam, merayap masuk ke dalam rimba pesisir yang lembap. Benar saja ucapan Pak Joko, layar ponsel Dika hanya menunjukkan hamparan warna hijau kosong. Sinyal yang sempat muncul semalam telah lenyap total.
"GPS-nya mati total, Mas. Kita buta," ujar Dika. Jemarinya gemetar memegang ponsel yang sudah tak berguna itu.
"Buka catatan Bapak di balik foto polaroid itu, Dika. Baca pelan-pelan," perintah Rendra. Tangannya berjuang menyeimbangkan kemudi karena ban kiri depan yang diganjal kayu jati mulai berdecit setiap kali menghantam lubang lumpur.
Dika mengambil foto polaroid Bapak yang merangkul wanita muda itu. Ia membalikkan fotonya, menyorotkan senter kepala ke tulisan tangan Bapak yang miring dan tipis.
"Luruslah saat angin laut berbisik di kiri. Beloklah saat melati mulai bernyanyi. Jangan injak rem di tanjakan pasir putih, atau kau akan terkubur bersama masa lalu."
"Puitis banget sih Bapak, bikin pusing!" Tika menggerutu dari belakang, meski tangannya sibuk memegang pegangan pintu agar tidak terlempar saat mobil berguncang. "Gue nggak cium bau apa-apa selain bau oli sama keringat kita sendiri, Mas."
"Sabar, Tika. Fokus," sahut Rendra.
Jalanan semakin menyempit. Semak belukar mulai mencambuki bodi Si Biru, meninggalkan goresan-goresan panjang di cat birunya. Lumpur di bawah ban mulai terasa kenyal dan dalam. Rendra mempertahankan gigi satu, membiarkan mesin meraung tinggi agar tidak selip.
Tiba-tiba saja, jalan di depan mereka terbelah menjadi tiga cabang. Semuanya tampak sama; ditumbuhi lumut dan tertutup kabut tipis. Rendra menghentikan mobil. Ia mematikan mesin.
"Kok berhenti, Mas?" tanya Dika cemas.