Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #15

Sensor yang Mengunci

Lumpur setinggi betis kini memerangkap ban belakang Si Biru. Hutan di wilayah yang terhapus dari peta ini seolah hidup; dahan-dahan pohon raksasa menjulur rendah mencakar atap mobil dengan suara srek yang ngilu, sementara kabut tipis mulai menyelinap masuk melalui ventilasi, membawa aroma tanah basah dan lumut. Rendra mencoba memutar kemudi, namun pergerakannya terbatas. Aspal tua yang mereka temukan tadi ternyata hanya sisa potongan pendek yang terputus oleh longsoran baru yang masih labil.

"Mas, di depan itu buntu. Kita harus turun buat cek tanahnya, kalau lembek banget Si Biru bisa amblas lebih dalam," ujar Dika sambil menempelkan wajahnya ke kaca depan yang berembun, mencoba memetakan sisa jalan di balik kegelapan.

Rendra mengangguk pelan. Ia menarik rem tangan yang kini berbunyi krek keras, tanda mekanisme tuasnya sudah mencapai batas maksimal.

"Oke, Mas turun sebentar. Kalian tetap di sini, jaga-jaga kalau ada pergerakan dari arah belakang. Mas curiga sedan Ambon itu cuma muter balik buat cari jalan setapak lain lewat punggung bukit." Rendra membuka pintu kemudi.

Akan tetapi, baru saja pantatnya terangkat beberapa sentimeter dari jok kulit yang retak itu, sebuah suara peringatan elektronik yang melengking memecah kesunyian hutan.

TIIIIIIIIIIIIIIIT!

Suara itu bukan berasal dari klakson, melainkan dari speaker piezo kecil yang disembunyikan Bapak di balik celah dasbor. Di panel instrumen, sebuah lampu indikator merah berbentuk siluet tiga orang dalam lingkaran—yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya—berkedip-kedip histeris. Mesin Si Biru yang tadinya idling halus, mendadak mati total seolah diputus paksa aliran listriknya oleh tangan gaib.

"Mas! Masuk! Telinga aku sakit!" teriak Dika sambil menutup telinganya rapat-rapat.

Rendra refleks duduk kembali karena kaget. Seketika, alarm itu berhenti. Hening kembali menyergap, menyisakan gema denging yang menyakitkan di telinga mereka. Rendra mencoba memutar kunci kontak. Cek-cek-cek, nihil. Dinamo starter bahkan tidak mau berputar. Sistem kelistrikan mobil itu seolah mati suri.

"Kok mati? Mas nggak sengaja matiin kontaknya, kan?" Tika bertanya dengan nada panik, napasnya memburu.

Dika, yang secara naluriah lebih peka terhadap mekanik, segera merogoh ke bawah jok penumpang depan. Jemarinya meraba-raba tumpukan kabel yang tersambung ke dasar kursi, mengikuti alurnya hingga ke balik karpet lantai.

"Bukan mesinnya yang rusak, Mas. Ini sistem keamanan, gila. Bapak pasang sensor beban di setiap jok," bisik Dika. Wajahnya pucat pasi tertimpa cahaya indikator merah yang masih berdenyut lemah.

"Maksud kamu apa, Dika?" Rendra menoleh dengan tatapan tidak percaya.

"Lihat plat ini." Dika menunjukkan sebuah modul kecil yang disekrup kuat ke rangka kursi. "Ini sensor tekanan berat, mirip yang dipakai buat pengingat sabuk pengaman di mobil modern, tapi ini jauh lebih ekstrem. Bapak memodifikasi sistem immobilizer. Arus ke koil pengapian bakal diputus total kalau ketiga sensor jok ini—sopir, penumpang depan, dan satu titik di tengah jok belakang—nggak ditekan beban minimal empat puluh kilo secara bersamaan."

Lihat selengkapnya