Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #16

Penemuan Tas Kerja Bapak

Hujan turun bukan lagi sebagai rintik, melainkan tamparan keras yang menyapu kaca depan Si Biru. Debu hutan yang tadinya kering kerontang kini berubah menjadi aliran lumpur cokelat pekat, licin dan memerangkap. Rendra memutar tuas wiper yang bergerak dengan bunyi ngik-ngok statis, seolah karetnya sudah menyerah pada usia. Pandangan di depan hanya menyisakan jarak tiga meter sebelum semuanya tertelan kabut abu-abu.

Mereka baru saja meloloskan diri dari tanjakan terjal dengan bantuan ganjalan batu Mas Sugeng. Kini, Rendra memarkirkan mobil di sebuah celah tebing batu kapur yang menjorok keluar, memberikan sedikit perlindungan dari amukan angin pesisir yang mulai bersiul di sela-sela pilar mobil.

Kabin masih terasa pengap oleh uap napas bertiga. Ketegangan histeris Tika mulai mereda, menyisakan lemas yang membuat bahunya merosot dalam. Di dasbor, lampu indikator kuning berbentuk tiga siluet manusia terus berdenyut redup. Sensor itu masih mengawasi mereka, memastikan tidak ada pantat yang terangkat dari jok, memastikan mereka tetap menjadi satu kesatuan mekanis yang dipaksa utuh.

"Mas, aku ngerasa ada sesuatu yang ganjil di bawah jok ini," gumam Dika pelan. Sejak tadi, ia gelisah. Kakinya yang beralaskan sepatu kets kotor terus menendang benda keras yang tersembunyi di balik sobekan karpet lantai belakang.

Rendra tidak menoleh. Matanya terpaku pada spion tengah, waspada mencari kalau-kalau ada kilatan lampu xenon putih milik sedan Ambon yang muncul dari balik tikungan. "Apaan, Dika? Dongkrak? Atau botol minum bekas?"

"Bukan. Rasanya empuk tapi padat. Kayak kulit. Tapi nyangkut di plat sensor." Dika membungkuk, kepalanya hampir menyentuh lutut, posisi yang sulit karena ia harus tetap menjaga tekanan berat tubuhnya pada jok penumpang depan agar alarm tidak melengking.

Pemuda itu merogoh ke kolong kursi belakang, tepat di bawah posisi duduk Tika.

Dengan satu sentakan kuat yang membuat jemarinya tergores besi jok, Dika berhasil menarik sebuah benda. Debu tebal beterbangan saat benda itu terangkat ke udara. Itu adalah sebuah tas kerja kulit berwarna cokelat tua yang sudah kusam, kulitnya pecah-perca di beberapa sudut. Penguncinya yang berbahan kuningan sudah tertutup korosi hijau, tetapi logo inisial 'B.L.' yang diembos di sudut bawah masih terbaca jelas.

"Tas kerja Bapak!" seru Tika, matanya membelalak. "Gue inget tas ini. Ini tas yang selalu Bapak bawa kalau pamit mau dinas keluar kota waktu kita masih kecil. Tas yang nggak boleh kita buka-buka."

Rendra segera mematikan lampu utama agar keberadaan mereka tidak mencolok dari kejauhan, lalu menyalakan lampu baca kecil di atas spion. Cahaya kuning remang-remang menyinari tas tua itu. "Buka, Dika. Pelan-pelan."

Dika menggeser pengunci kuningan yang berderit protes. Begitu terbuka, aroma kertas tua, minyak mesin, dan tembakau pipa yang khas langsung menyeruak, mengalahkan bau melati yang tadi menghantui mereka. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang tunai seperti yang Tika harapkan dalam igauan pendeknya. Tidak ada juga emas batangan. Hanya terdapat tumpukan dokumen yang disusun sangat rapi, dijepit oleh klip besi besar yang sudah berkarat.

Dika mengambil lembaran paling atas. Tangannya mulai gemetar saat membaca judul dokumen yang dicetak tebal dengan huruf kapital itu.

"Mas, Mbak, lihat ini." Suara Dika bergetar hebat, nyaris hilang ditelan suara guntur di luar.

Lihat selengkapnya