Hujan di pesisir Desa Mati datang tanpa aba-aba, menghantam atap seng Si Biru dengan dentuman yang memekakkan telinga. Air terjun dadakan tumpah dari langit, mengubah jalanan setapak menjadi aliran sungai cokelat yang licin. Wiper kaca depan berayun panik, menyisakan pandangan buram dan penuh distorsi. Rendra mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih, merasakan getaran mesin V8 yang mengerang di bawah kakinya.
Di spion tengah, sepasang lampu bulat membelah kegelapan hutan. Sorot xenon yang tajam itu terus menempel, memantul di kaca belakang yang berembun.
"Mas, dia makin deket! Ambon makin deket!" teriak Tika. Ia menoleh ke belakang, matanya melebar melihat cahaya yang kian membesar. "Gue nggak mau mati di sini, Mas! Cepetan!"
"Mas tahu, Tika! Pegangan!" Rendra mengoper ke gigi dua, membiarkan torsi besar Si Biru menarik bodi beratnya keluar dari jebakan lumpur. Ban belakang sempat selip, membuang ekor mobil ke kanan sebelum Rendra melakukan counter-steer dengan cekatan.
Dika, yang duduk di samping Rendra, memegangi tas kerja kulit Bapak dengan erat di pangkuannya. Kacamata tebalnya terus merosot karena keringat dingin. "Mas, tunggu, itu bukan mobil. Lihat polanya. Lampunya cuma satu!"
Rendra melirik spion samping yang diguyur air. Benar saja ucapan Dika. Sebuah motor trail dengan ban pacul besar sedang meliuk-liuk di antara barisan pohon jati, mengambil jalur pintas di bahu jalan untuk menyalip mereka. Pengendaranya mengenakan jaket touring hitam kusam dan helm full-face dengan kaca gelap yang memantulkan kilat.
"Anak buah Ambon pakai motor?!" Rendra menggeram, giginya merapat rapat. "Dia mau cegat kita di depan!"
"Tabrak aja, Mas! Kalau dia berani malang di tengah jalan, tabrak!" seru Tika. Adrenalinnya memuncak, menggilas rasa takut yang tadi sempat melumpuhkannya.
Pengendara motor itu kini berada sejajar dengan pintu kemudi Rendra. Ia terus menggeber gas, menciptakan bunyi melengking yang memicu alarm sensor di dasbor Si Biru berkedip tipis karena getaran frekuensi tinggi. Si pengendara melambaikan tangan kiri, memberi kode agar Rendra menepi. Tangan kanannya tampak meraih sesuatu dari tas samping motornya yang menonjol.
"Dia mau keluarin senjata! Dika, nunduk!" perintah Rendra.
Dika dan Tika serentak merunduk di bawah garis jendela. Rendra membanting stir ke kanan, mencoba menyenggolkan bodi samping Si Biru ke arah motor tersebut, namun si pengendara sangat lincah. Ia mengerem mendadak, membiarkan Si Biru meluncur di depannya, lalu kembali mengejar dari sisi penumpang.
TOK! TOK! TOK!
Bunyi benturan benda keras di kaca samping membuat jantung mereka nyaris copot. Rendra melihat sebuah benda hitam panjang diacungkan oleh pengendara motor itu ke arah kaca Dika. Dalam keremangan subuh dan guyuran hujan, benda itu menyerupai laras senapan pendek.
"Kurang ajar!" Rendra membanting stir, mencoba menghimpit motor itu ke tebing batu di sisi kiri.
Akan tetapi, di sebuah tikungan tajam yang menyempit, Si Biru terpaksa melambat. Sebuah tumpukan kayu gelondongan melintang di tengah jalan, sisa pembersihan lahan yang belum tuntas. Rendra menginjak rem sekuat tenaga. Ban Si Biru terkunci, meluncur di atas lumpur sebelum akhirnya berhenti hanya beberapa sentimeter dari batang kayu terbesar.
Pengendara motor itu melakukan stoppie dramatis tepat di samping pintu Dika. Ia mematikan mesin. Hening mendadak menyergap, menyisakan suara hujan yang kini terdengar lebih tenang tetapi tetap mengancam.
Rendra meraih kunci inggris besar dari bawah joknya. "Dika, Tika, jangan keluar. Mas yang urus."
Sebelum Rendra sempat menyentuh gagang pintu, si pengendara motor sudah membuka kaca helmnya. Ia adalah seorang pemuda berusia awal dua puluhan dengan wajah yang tampak sangat lelah. Pemuda itu tidak memegang senjata. Benda hitam panjang yang tadi ia acungkan ternyata adalah lengan sebuah jaket denim yang digulung ketat.
"Mas! Mas! Tunggu!" teriak pemuda itu sambil mengetuk kaca jendela Dika lagi.
Dika perlahan mengangkat kepalanya dari balik dasbor. Ia memutar tuas jendela manual itu beberapa sentimeter. "Siapa kamu? Mau apa?"
"Aku Satria, Mas! Kerja di bengkel Cak Jito!" pemuda itu berteriak menembus bising air. Ia menyodorkan jaket denim belel yang sangat familiar bagi Dika. "Ini, jaket Mas Dika tertinggal di atas meja mesin pas Mas bantu benerin karburator! Cak Jito marah-marah, katanya di dalem kantongnya ada kunci penting!"
Dika tertegun. Ia meraba lehernya, memastikan kalung kunci pas M.L. masih ada. Kunci pas itu aman, tapi kunci ruko Bapak yang selalu ia simpan di saku jaket itu memang hilang. Ia segera menerima jaket itu dengan tangan gemetar. "Astaga, aku lupa. Maaf, Satria. Aku pikir kamu ...."
"Pikir aku apa? Begal?" Satria tertawa getir sambil menyeka air hujan dari wajahnya. "Waktu Mas ke bengkel Cak Jito, kebetulan aku lagi ada acara keluarga. Beberapa hari ini, aku ngejar! Mas bawa mobil kayak kesetanan! Aku hampir masuk jurang dua kali gara-gara Mas mau nyenggol aku tadi!"
Rendra menyandarkan kepalanya di setir, napasnya memburu. Rasa malu menjalar di tengkuknya. "Maaf, Sat. Kami lagi paranoid. Ada orang yang ngejar kami."
"Iya, aku tahu. Tadi ada sedan hitam nanya-nanya di bengkel pas Mas baru pergi sepuluh menit. Cak Jito sengaja kasih arah yang salah, tapi mereka kayaknya curiga." Satria menunjuk ke arah jalan setapak yang tertutup semak di sebelah kiri, sekitar dua puluh meter di belakang tumpukan kayu. "Jangan lewat jalan utama di depan!" lanjutnya.