Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #18

Malam di Gudang Garam

Dinginnya lantai semen gudang garam menembus hingga ke sasis Si Biru, menciptakan embun pekat yang menyelimuti sekujur bodi besi tua itu. Di luar, badai pesisir mengamuk dengan suara menyerupai raungan raksasa yang lapar. Sesekali kilat menyambar, cahayanya menyelinap melalui celah-celah papan kayu lapuk, menciptakan bayangan jeruji yang menari-nari di plafon kabin. Bau garam yang tajam, lembap, dan asin memenuhi indra penciuman, menusuk hingga ke pangkal tenggorokan.

Rendra duduk kaku di kursi sopir. Matanya lurus menatap kegelapan di depan kap mesin yang tertutup bayangan gudang. Ia mencengkeram kunci inggris pemberian Cak Jito seolah benda logam dingin itu adalah jimat pelindung terakhirnya. Di sampingnya, Dika tertidur dengan kepala bersandar pada kaca jendela yang bergetar ditiup angin. Napas si bungsu itu teratur, tetapi sesekali ia mengigau pelan tentang karburator dan as roda, seolah otaknya masih bekerja memperbaiki mesin dalam mimpi.

Di jok belakang, Tika meringkuk di bawah selimut tipis berbahan flanel. Matanya terbuka lebar, memantulkan sisa-sisa cahaya indikator sensor di dasbor. Ia menatap langit-langit mobil yang kusam dan berlubang kecil di beberapa bagian.

"Mas, belum tidur?" bisik Tika. Suaranya kecil, hampir tenggelam oleh deru hujan yang menghantam atap seng gudang.

"Belum, Tika. Mas jagain kalian. Tidurlah, mumpung suasananya agak tenang," sahut Rendra tanpa menoleh sedikit pun.

Tika bangkit, duduk tegak tepat di tengah jok belakang agar sensor berat tetap terjaga di titik tekanannya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menyandarkan dagu di antara sela-sela kursi depan. "Gue nggak bisa tidur. Setiap merem, gue kayak denger suara netizen teriak-teriak di kuping gue. Ngehujat, ngetawain, Gue ngerasa kotor banget, Mas. Gue ngerasa semua baju yang gue pakai ini palsu."

Rendra menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit merosot. Ia meletakkan kunci inggrisnya di atas dasbor yang berdebu.

"Netizen itu cuma kumpulan angka di layar, Tika. Mereka nggak punya wajah, nggak punya nama asli. Mereka nggak tahu siapa kamu sebenernya. Mereka cuma tahu apa yang kamu sengaja pamerin ke mereka."

"Tapi yang mereka bilang itu bener, Mas. Gue emang palsu. Gue pamer kemewahan yang bukan punya gue. Gue bohong demi likes dan endorse yang nggak seberapa." Tika menunduk, butiran air matanya jatuh tepat di atas permukaan tas kerja kulit Bapak yang tergeletak di pangkuan Dika. "Gue ngerasa gagal jadi anak Bapak. Bapak hidup susah, hemat setengah mati demi kita, sementara gue sibuk beli tas mahal pakai paylater cuma biar nggak dianggap remeh sama temen-temen sosialita. Akhirnya gue nggak sanggup bayar."

Rendra terdiam cukup lama. Ia memutar-mutar kunci kontak yang masih menggantung di lubangnya. Namun, jemarinya berhenti sebelum memutarnya ke posisi on. "Kamu bukan satu-satunya yang ngerasa gagal, Tika."

"Maksud Mas?"

Rendra memutar tubuhnya sedikit, menatap adiknya dengan sorot mata yang sangat lelah. Cahaya kilat dari luar sesaat menerangi wajahnya yang tirus dan penuh bayangan hitam di bawah mata. "Sebelum kita berangkat dari Jakarta, di malam setelah tahlilan hari ketujuh Bapak, Mas hampir nyerah sama semuanya."

Tika mengerutkan kening, rasa penasarannya mengalahkan rasa kantuk. "Nyerah gimana? Mas, kan yang paling kuat, yang paling sibuk ngurusin semua surat kematian dan warisan ruko Bapak."

"Mas pergi ke jembatan penyeberangan di depan kantor Mas yang sudah disegel bank." Suara Rendra bergetar, nada bicaranya datar, tetapi penuh luka yang menganga. "Mas berdiri di sana satu jam. Mas lihat mobil-mobil di bawah lewat cepet banget, terus Mas mikir, kalau Mas lompat sekarang, semua utang Mas lunas. Debt collector nggak bakal ngejar orang mati. Ambon nggak bakal bisa nagih apa-apa lagi ke kalian."

Tika menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ngeri. "Mas, serius? Mas mau ninggalin kita?"

"Mas serius. Kaki Mas sudah satu langkah di atas pagar," lanjut Rendra. Suaranya semakin rendah. "Tapi tiba-tiba ponsel Mas bunyi. Ada pesan masuk dari nomor Bapak. Padahal Mas tahu Bapak sudah nggak ada, ponselnya ada di laci ruko."

"Pesan apa?" tanya Dika tiba-tiba. Ternyata si bungsu itu sudah terbangun sejak tadi, tetapi tetap memejamkan mata untuk menyimak cerita kakaknya.

Rendra menoleh ke arah Dika yang kini sudah membuka mata. "Cuma pesan singkat yang Bapak jadwalkan otomatis pakai aplikasi: 'Rendra, Si Biru butuh ganti oli minggu depan. Jangan telat, atau dia bakal mogok pas kamu lagi butuh-butuhnya.' Mas ketawa sambil nangis di atas jembatan itu. Bapak bener-bener tahu gimana caranya narik Mas balik ke tanah. Dia nggak biarin Mas pergi gitu aja tanpa nyelesein urusan sama mobil tua ini."

Lihat selengkapnya