Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #19

Jejak Murid Bapak

Cahaya kelabu mulai merayap masuk melalui celah-celah papan gudang garam yang lapuk, memantulkan kilau suram pada tumpukan karung-karung putih yang membukit setinggi plafon. Rendra terbangun dengan leher kaku dan punggung yang berderak saat ia mencoba meregangkan tubuh. Di spion tengah, ia melihat Tika masih terlelap, kepalanya bersandar pasrah pada tas kerja kulit Bapak yang didekapnya erat. Sementara itu, Dika meringkuk di jok samping dengan mulut sedikit terbuka; jemarinya masih menggenggam kunci pas M.L. dengan begitu posesif.

Rendra mengusap wajahnya yang kasar oleh tumbuhnya jambang tipis yang mulai gatal. Ia menarik napas dalam, merasakan sisa-sisa bau garam yang kering di paru-parunya, lalu perlahan memutar kunci kontak.

Vrooooom!

Si Biru menderu bangun dengan satu kali putaran mesin. Suaranya berat, stabil, dan bersih—sebuah simfoni mekanis yang memecah kesunyian pagi yang membeku.

"Mas, udah jalan?" gumam Dika. Suaranya serak, matanya berkedip lambat di balik lensa kacamata yang sedikit miring.

"Udah, Dika. Kita harus kejar waktu sebelum air pasang nutupin jalan pesisir," jawab Rendra sambil menggeser tuas transmisi ke gigi satu.

Tika mengerang kecil, mengusap matanya yang masih sembap. Ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang bercampur debu. "Gue bau garam, Mas. Gue pengen mandi pakai air anget, pakai sabun yang busanya banyak. Rasanya kulit gue lengket semua."

"Sabar, Tika. Nanti kalau sudah sampai panti, kamubbisa mandi sepuasnya," hibur Rendra sembari mengarahkan moncong Si Biru keluar dari kegelapan gudang, menembus kabut tipis yang menyelimuti bibir pantai.

Di ambang pintu gudang, Pak Joko sudah berdiri tegak. Sarung lusuhnya melilit leher sebagai pelindung dari angin laut yang tajam. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Rendra menghentikan mobil sejenak. Rendra menurunkan kaca jendela sedikit.

"Hati-hati, Cah Bagus. Di depan sana, setelah jembatan kayu yang agak goyang, ada pangkalan truk sayur. Tanya ke sopir yang namanya Bang Jali. Dia orangnya Dokter Broto. Dia tahu jalur tikus yang nggak bakal ketutup lumpur," pesan Pak Joko dengan tatapan yang dalam.

Rendra mengangguk mantap, merasakan tanggung jawab yang kian berat. "Makasih, Pak. Doakan kami sampai tepat waktu."

Si Biru melaju, ban besarnya melibas lubang-lubang jalanan pesisir yang tergenang air sisa badai semalam. Cipratan lumpur sesekali menghantam kaca samping, tetapi Rendra tidak menurunkan kecepatan. Setelah menempuh sekitar lima kilometer melewati garis pantai yang sunyi, mereka tiba di sebuah pelataran luas di pinggir tebing. Puluhan truk besar bermuatan kubis dan wortel terparkir di sana, mesinnya memuntahkan asap hitam ke langit pagi.

Rendra memarkirkan mobil di samping sebuah truk oranye yang sedang mengisi air radiator. Seorang pria bertubuh gempal, memakai kaos kutang putih dan handuk kecil melilit leher, tampak sibuk menyiram ban truknya yang penuh tanah merah.

"Permisi, Bang. Saya cari Bang Jali," ujar Rendra dari balik jendela.

Pria itu menoleh. Wajahnya yang keras dan penuh gurat kelelahan mendadak berubah drastis saat matanya menangkap siluet Si Biru. Ia menjatuhkan selang air begitu saja, membiarkan air mengalir deras membasahi sepatu bot karetnya.

"Si Biru? Ini beneran Si Biru?" gumamnya tak percaya.

"Iya, Bang. Saya Rendra, anaknya Pak Broto," sahut Rendra.

Pria itu berlari mendekat. Ia tidak menyapa Rendra terlebih dahulu, melainkan meraba kap mesin mobil itu dengan tangan yang gemetar.

"Gusti, Pak Broto beneran nekat kirim mobil ini ke sini. Saya Jali, Mas. Saya murid angkatan pertama Pak Broto waktu beliau masih nekat ngajar teknik mesin di STM daerah sini dulu, zaman beliau belum fokus jadi dokter panti."

Lihat selengkapnya