Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #1

Prolog: Tiket Pulang dari Kegelapan

Dunia tidak berakhir dengan dentuman besar bagi Rendra, melainkan dengan dering telepon yang tak kunjung berhenti di lantai empat puluh dua. Di Jakarta, kesuksesan diukur dari seberapa tinggi gedung kantormu, dan kegagalan diukur dari seberapa cepat lift membawamu turun saat namamu dihapus dari papan direksi.

Rendra menatap surat sita jaminan di mejanya. Di saku jasnya, ada botol obat tidur yang isinya tinggal separuh. Ia lelah menjadi "Mas Rendra" yang sempurna bagi adik-adiknya yang tidak peduli, dan lelah menjadi "CEO Muda" bagi investor yang haus darah.

Di tempat lain, Tika menatap layar ponselnya yang retak. Notifikasi hujatan mengalir deras seperti air bah setelah skandal endorsement palsunya terbongkar. Identitasnya yang dibangun dari filter dan kepalsuan hancur dalam semalam.

Sementara di sebuah kamar kos yang pengap, Dika menatap grafik mata uang kripto yang menukik tajam ke arah nol. Seluruh uang kuliah yang dititipkan Bapak ludes. Ia merasa seperti sampah yang hanya menunggu waktu untuk dibuang.

Lalu, berita itu datang. Bukan lewat telepon mewah, tapi lewat telegram tua dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. BROTO MENINGGAL DUNIA. DATANGLAH KE RUKO.

Mereka bertiga pulang bukan karena cinta, melainkan karena tidak punya tempat lain untuk melarikan diri. Mereka tidak tahu bahwa di sebuah garasi berdebu, sebuah mobil tua bernama Si Biru sudah menunggu dengan mesin yang telah diperbarui, siap menjadi rahim kedua bagi persaudaraan mereka yang telah mati.

Lihat selengkapnya