Semburat jingga di cakrawala mulai tertelan oleh gumpalan awan hitam yang menggantung rendah, seakan-akan langit sedang menekan lembah Desa Mati hingga sesak. Pemandangan di depan mereka kini berubah drastis; bukan lagi hamparan kebun melati yang asri, melainkan luka menganga di bumi berupa galian tanah merah raksasa.
Jalur utama menuju panti asuhan telah diputus secara paksa oleh barikade beton dan kawat berduri setinggi dua meter. Di baliknya, lampu-lampu sorot proyek yang ditenagai generator mulai menyala satu per satu, menyapu area konstruksi dengan cahaya putih yang dingin dan mengancam.
"Mas, lihat papan itu." Dika menunjuk ke arah pos penjagaan kayu yang dijaga oleh empat orang petugas keamanan berseragam gelap.
Di sana terpampang pengumuman dengan huruf kapital yang kaku: STERILISASI AREA: PENGGENANGAN TAHAP 1 DIMULAI PUKUL 06.00 WIB. DILARANG MASUK - PROYEK STRATEGIS NASIONAL.
Rendra menghentikan Si Biru di balik bayang-bayang rumpun bambu yang tersisa, sekitar seratus meter dari barikade. Mesin dibiarkan tetap menyala, getarannya terasa halus menjalar hingga ke telapak tangan Rendra yang mulai berkeringat dingin. "Kita nggak punya izin resmi. Kalau kita lewat depan, mereka pasti bakal nahan kita dan manggil polisi. Kalau kita tertahan sampai besok pagi, panti itu sudah jadi dasar danau."
"Tapi kita harus masuk, Mas! Bu Melati ada di dalam!" Tika mencengkeram sandaran jok Rendra. Matanya yang biasa dihiasi bulu mata palsu kini hanya menunjukkan kecemasan yang telanjang. "Gue nggak mau warisan Bapak tenggelam gara-gara kita takut sama satpam. Gue mau lihat panti itu, Mas."
Rendra melirik jam di dasbor. Pukul 18.30. Kurang dari dua belas jam sebelum sirine pembuangan air dibunyikan. Ia teringat teknik menyetir yang pernah diajarkan Bapak saat ia masih remaja, ketika mereka membawa Si Biru menerjang banjir besar di Jakarta. "Rendra, mobil ini punya pusat gravitasi yang rendah tapi torsi yang besar. Jangan lawan rintangannya, tapi gunakan momentumnya sebagai pelindung." Suara Bapak menggema di telinganya.
"Dika, cek lagi sensor joknya. Pastikan koper Tika dan galon air di belakang nggak bakal geser kalau Mas manuver ekstrem," perintah Rendra dengan nada suara yang berubah otoriter, tetapi tenang.
Dika meraba-raba di bawah kursi belakang, memastikan tali pengikatnya kencang. "Aman, Mas. Aku sudah ikat pakai sabuk pengaman tambahan dan ganjelan kayu dari gudang tadi. Kita nggak bakal bisa keluar dari jok, tapi sistem juga nggak bakal mati."
"Oke. Pegangan yang kuat. Kita nggak lewat gerbang utama."
Rendra memutar kemudi ke arah kanan, menjauh dari jalan aspal yang dijaga. Ia mengarahkan moncong Si Biru menuju lereng bukit yang curam—sebuah jalur rintisan yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi ekskavator dan truk off-road proyek.
"Mas! Itu miring banget! Mobilnya mau terbalik!" jerit Tika saat bodi Si Biru mulai miring hampir tiga puluh derajat, membuat kepalanya hampir membentur kaca samping.
"Diam, Tika! Fokus ke sensor! Tetap tekan joknya!" balas Rendra.
Si Biru meraung. Gigi satu dipaksa bekerja keras hingga suara deru mesin V8-nya menggema di dinding bukit. Ban pacul yang sudah mulai menipis itu berjuang mencari traksi di atas tanah merah yang gembur. Mobil itu berguncang hebat, melompat-lompat di atas akar pohon jati yang meranggas. Di dalam kabin, ketiganya terlempar-lempar, namun mereka tetap menekan punggung ke jok masing-masing demi menjaga agar sensor tidak mematikan pengapian di tengah tanjakan maut.
Dari arah pos penjagaan, suara peluit melengking berkali-kali. Lampu sorot raksasa di atas menara pantau mulai berputar, mencari sumber suara mesin yang membelah kesunyian malam.
"Woi! Berhenti!" teriak salah seorang penjaga. Sebuah mobil double cabin putih milik keamanan proyek mulai menyalakan lampu rotator oranye dan mengejar dari jalur bawah yang lebih rata.
"Mereka ngejar, Mas! Lampunya terang banget!" Dika berteriak. Wajahnya pucat pasi tertimpa cahaya indikator dasbor yang kini berkedip warna kuning peringatan akibat guncangan hebat.
"Mas tahu!" Rendra tidak menginjak rem. Ia justru menambah kecepatan saat melihat sebuah gundukan tanah tinggi yang berfungsi sebagai tanggul sementara. Di balik tanggul itu adalah area panti yang sudah dikosongkan, hanya dipisahkan oleh pagar kawat tipis.
"Kita bakal lompat?!" Tika menutup matanya rapat-rapat, tangannya mencengkeram sabuk pengaman hingga kukunya memutih.
"Bukan lompat, Tika. Kita bakal terobos!"
Rendra memindahkan gigi ke posisi dua, menginjak gas sedalam mungkin. Si Biru melesat menaiki gundukan tanah itu. Moncong mobil terangkat tinggi, cahaya lampu depannya menyorot ke langit malam sebelum akhirnya—BRAKKKK!
Si Biru menghantam pagar kawat berduri dengan kecepatan tinggi. Kawat-kawat tajam itu mencabik cat biru di kap mesin, menimbulkan suara goresan logam yang memilukan. Namun, bodi baja tahun 80-an itu terbukti jauh lebih tegar. Pagar itu roboh, terseret di bawah kolong mobil saat Si Biru mendarat dengan dentuman keras di halaman panti yang dipenuhi semak melati liar.