Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #21

Tabir Melati Terbuka

Si Biru mendaki jalan setapak berbatu yang membelah punggung bukit menuju menara lonceng tua. Bangunan kayu jati itu berdiri angkuh di titik tertinggi Desa Mati, menjadi saksi bisu ribuan senja yang tenggelam di lembah melati. Di bawah sana, lampu-lampu sorot proyek waduk tampak seperti barisan kunang-kunang elektrik yang berusaha keras menelan kegelapan yang kian pekat.

Rendra mengoper ke gigi satu, membiarkan mesin V8 itu mengerang rendah. Ban mobil sesekali tergelincir di atas kerikil tajam, namun momentum torsinya tetap mendorong bodi baja itu naik melawan kemiringan yang ekstrem. Aroma melati yang tertiup angin malam masuk melalui celah jendela, membawa wangi yang kini terasa lebih seperti pelukan akrab daripada misteri yang menghantui.

"Mas... kasetnya. Gue pegang kasetnya," bisik Tika. Jemarinya menggenggam kotak plastik kecil itu dengan getaran yang tak bisa disembunyikan. Label kusam bertuliskan 'Untuk Maria - Rekaman Terakhir' itu seolah memancarkan panas yang menjalar langsung ke nadinya.

"Dika, cek head unit tape-nya. Pastikan mekanismenya nggak nyangkut," perintah Rendra. Matanya tetap awas menatap jalanan sempit yang hanya berjarak beberapa jengkal dari jurang di sisi kiri.

Dika menekan tombol eject pada tape mobil yang sudah berumur puluhan tahun itu. Bunyi derit pegas terdengar enggan, lalu lubang tape itu terbuka pelan. "Harusnya bisa, Mas. Aku sudah bersihin karet roller-nya pakai alkohol pas di bengkel Cak Jito waktu itu. Tapi, apa kita beneran mau putar ini sekarang? Ambon masih ngejar kita, Mas. Dia pasti lihat lampu kita dari bawah."

"Bu Melati bilang seluruh lembah harus denger, Dika. Mas rasa ini bukan cuma soal asuransi atau akta tanah. Ini soal pembersihan nama Bapak." Rendra menginjak rem dalam-dalam saat Si Biru tiba di pelataran menara lonceng.

Mobil berhenti dengan posisi miring. Namun, Rendra tidak mematikan mesin. Lampu indikator sensor jok di dasbor masih menyala kuning stabil—sebuah pengingat bisu bahwa mereka bertiga terikat dalam satu beban yang sama. Di atas menara, sebuah corong pengeras suara tua milik panti asuhan masih terpasang kokoh, terhubung melalui jalinan kabel-kabel panjang yang dulu ditarik Bapak dengan tangannya sendiri dari bangunan panti di bawah.

"Tika, kasih kasetnya ke Dika," ujar Rendra singkat.

Tika mengulurkan benda itu dengan tangan gemetar. Dika memasukkannya ke dalam lubang tape. Bunyi klik mekanis yang mantap terdengar di dalam kabin yang sunyi. Dika menekan tombol play.

Awalnya hanya terdengar suara statis panjang yang menyerupai desau angin di sela daun melati. Lalu, sebuah suara lembut, jernih, dan penuh kehangatan menyeruak keluar dari speaker mobil. Secara otomatis, frekuensi radio internal Si Biru memancarkan suara itu ke sistem pengeras suara menara, membuat suara itu menggema ke seluruh penjuru lembah.

"Rendra, Tika, Dika .... Kalau kalian mendengar ini, berarti Si Biru sudah membawa kalian pulang."

Ketiganya membeku. Itu suara Ibu. Maria Larasati. Suara yang selama belasan tahun hanya mereka dengar dalam potongan mimpi buruk atau memori masa kecil yang kabur. Tika mulai terisak, ia membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan agar isakannya tidak menelan setiap kata yang keluar.

"Mungkin kalian selama ini bertanya-tanya, siapa Melati, atau bahkan sempat berpikir yang bukan-bukan tentang dia. Mengapa Bapak kalian begitu sering menghilang ke desa ini? Mengapa ada foto wanita lain di balik sun visor mobil kesayangan Bapak?"

Suara Ibu di rekaman itu terdengar tenang, namun ada nada kesedihan yang terpendam di balik setiap jeda napasnya.

Lihat selengkapnya