Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #22

Detik-detik Penghancuran

Gemuruh air yang dilepaskan dari pintu bendungan hulu terdengar seperti auman monster purba yang kelaparan, menggetarkan permukaan tanah hingga ke pedal gas yang diinjak Rendra.

Di balik kaca belakang Si Biru, lembah melati yang biasanya asri kini perlahan berubah menjadi kuali cokelat yang mendidih. Air keruh menelan pucuk-pohon kamboja, menenggelamkan nisan-nisan tua di pemakaman desa, dan mulai menjilati dinding putih Panti Cahaya Melati. Bangunan yang menjadi saksi bisu pengabdian Bapak itu kini tampak ringkih, menunggu saat-saat terakhir sebelum lenyap ditelan sejarah.

Rendra memacu Si Biru mendaki jalur evakuasi yang kini berubah menjadi sungai lumpur cair. Ban mobil berputar liar, sesekali selip dan menghantam bebatuan tajam yang tersembunyi di balik genangan. Di kursi penumpang, Dika mencengkeram dasbor dengan kuku yang memutih, sementara di belakang, Bibi Melati duduk mematung di samping koper Tika yang sengaja diletakkan untuk mengganjal sensor jok. Tika sendiri sudah berada di dalam truk Bang Jali yang melaju beberapa ratus meter di depan, mengawal anak-anak panti menuju zona aman di puncak bukit.

"Mas! Lihat di atas sana! Itu puncaknya!" Dika menunjuk ke arah Titik Nol—garis batas akhir proyek waduk yang ditandai dengan bendera-bendera merah kecil yang berkibar tertiup angin kencang.

Di sana, di bawah langit subuh yang mulai memerah seperti luka, berdiri sebuah tenda putih darurat. Di sampingnya, beberapa ekskavator oranye sudah menyalakan mesin, mengeluarkan kepulan asap hitam yang kontras dengan kabut pagi. Seorang pria berjas rapi, tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan yang becek dan berdebu, berdiri tenang sambil memegang jam saku di tangan kirinya.

"Pak Handoko," desis Rendra. Sang notaris pemegang kunci wasiat.

Di samping Pak Handoko, berdiri seorang pria berseragam proyek dengan helm putih—Ir. Gunawan, kepala pelaksana proyek. Ia tampak sedang berdebat sengit, menunjuk-nunjuk ke arah jam tangannya dengan wajah merah padam.

"Cepat, Mas! Mereka sudah mau mulai meratakan sisa bangunan di jalur atas!" teriak Dika, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin V8 yang mulai kepanasan.

Rendra menginjak gas lebih dalam. Mesin Si Biru menjerit, radiatornya mengeluarkan uap tipis dari sela-sela kap mesin. Aroma mawar yang tersisa di mesin bercampur dengan bau oli panas, menciptakan aroma perjuangan yang menyengat di dalam kabin. Saat Si Biru melesat naik ke pelataran Titik Nol, Rendra membanting setir hingga mobil itu berhenti melintang, menghalangi jalur alat berat yang sudah mulai menggerakkan lengannya untuk meruntuhkan pos jaga terakhir.

Creeeeet!

Rendra mengerem mendadak. Debu merah berhamburan menutupi sepatu pantofel mengkilap Pak Handoko. Rendra menarik rem tangan, namun mesin tetap ia biarkan menderu.

"Tepat waktu, Mas Rendra," ujar Pak Handoko tanpa ekspresi, meski matanya sedikit melebar melihat kondisi Si Biru yang kini penuh goresan kawat dan lumpur pekat. Ia melirik jam sakunya sekali lagi. "Pukul 05.55. Lima menit sebelum masa berlaku wasiat ini kedaluwarsa secara otomatis menurut hukum perdata yang ditetapkan almarhum."

Rendra tidak bisa turun. Ia harus tetap menekan sensor jok sopir agar sistem tidak terkunci permanen. Dika pun tetap mematung di posisinya.

"Pak Handoko! Kami bawa Bibi Melati! Kami sudah tahu semuanya soal panti ini!" seru Rendra dari balik jendela yang diturunkan setengah.

Ir. Gunawan maju dengan langkah gusar, lumpur menciprat ke celana kainnya. "Heh! Kalian ini siapa lagi? Ini area sterilisasi! Air sudah dilepas dari pintu satu! Dalam sepuluh menit, jalur ini harus rata dengan tanah supaya aliran air tidak terhambat material bangunan yang bisa merusak turbin!"

"Bapak tidak bisa menyentuh satu batu pun dari bangunan ini, Pak Gunawan." Pak Handoko mengangkat sebuah map merah tebal. "Sesuai dengan akta tanah asli yang baru saja ditemukan di dalam laci rahasia mobil ini—yang frekuensi enkripsinya terhubung langsung dengan sistem keamanan panti—klien saya adalah pemilik sah lahan ini. Prosedur ganti rugi belum selesai karena ahli waris baru saja muncul dan melakukan klaim fisik."

"Saya tidak peduli soal hukum tanah sekarang! Ini Proyek Strategis Nasional! Air tidak bisa menunggu pengacara tanda tangan!" Gunawan berbalik ke arah operator ekskavator. "Jalankan mesinnya! Ratakan semuanya!"

Lihat selengkapnya