Raungan mesin Si Biru mendadak berubah menjadi rintihan logam yang menyayat hati, sebuah suara parau yang menandakan jantung mekanisnya telah mencapai titik nadir. Rendra menginjak pedal gas dalam-dalam, namun jarum takometer justru merosot turun. Ban belakang mobil itu hanya berputar gila di tempat, menggali lubang semakin dalam ke dalam tanah merah yang kini telah berubah menjadi bubur cair akibat rembesan air bendungan yang kian masif.
BRAKK!
Sasis mobil itu membentur batu cadas yang tersembunyi di balik lumpur dengan suara dentum yang menggetarkan tulang. Seluruh kabin berguncang hebat, membuat kepala Dika hampir membentur dasbor.
"Mas! Jalannya habis! Longsornya nutupin semua akses ke depan!" Dika berteriak panik, telunjuknya mengarah pada gundukan tanah setinggi dua meter yang menutup jalur setapak menuju dataran tinggi. Di sana, pohon-pohon jati tumbang malang-melintang, mengunci jalan seolah alam sendiri menolak kepergian mereka.
Rendra memukul setir dengan frustrasi yang memuncak. Di depan, jalur evakuasi yang ia harapkan menjadi jalan pintas terakhir telah lenyap. Di belakang, permukaan air waduk yang baru saja dilepaskan dari pintu bendungan terus merayap naik dengan kecepatan yang mengerikan, menjilati bumper belakang Si Biru dengan lidah cokelatnya yang dingin.
"Mati. Mesinnya mati, Dika," bisik Rendra.
Kepulan uap putih menyembur dari sela-sela kap mesin, membawa aroma gosong yang menyesakkan. Radiator Si Biru akhirnya menyerah total setelah dipaksa meminum puluhan botol rose water milik Tika dan dihajar tanjakan maut tanpa ampun. Hening yang mematikan seketika menyergap kabin, hanya menyisakan suara gemuruh air di kejauhan dan detak jantung mereka yang berpacu liar.
Indikator sensor di dasbor masih menyala kuning redup—sebuah pengingat bisu bahwa sistem pengunci dokumen di dalam brankas tersembunyi mobil ini masih aktif. Jika beban di jok hilang, sistem akan menganggap mobil ditinggalkan dalam keadaan darurat dan akan mengunci seluruh akses data secara permanen sesuai protokol 'Keamanan Total' buatan Bapak.
"Kita terjebak, Mas. Kalau kita keluar sekarang tanpa beban, sistem pengunci otomatis bakal aktif. Kita nggak bakal bisa buka pintu atau bagasi lagi buat ambil dokumen akta dan kaset itu. Dan airnya tinggal satu meter dari pintu." Dika menatap keluar jendela, matanya mulai berkaca-kaca melihat air yang mulai merendam ban.
Rendra menoleh ke belakang, menatap Dika dan Tika yang pucat pasi. Ia teringat aturan gila yang tertulis di manual tulisan tangan Bapak: Jangan tinggalkan sensor beban sampai tujuan.
Akan tetapi, tujuan mereka—garis batas aman Titik Nol di mana Pak Handoko menunggu—masih berjarak sekitar tiga ratus meter di atas bukit yang licin itu.
"Bapak nggak bilang sensornya harus tetap nempel di bodi mobil, Dika," ujar Rendra dengan kilat mata yang nekat dan liar. Ia meraih kunci inggris besar pemberian Cak Jito yang tergeletak di bawah jok.
"Maksud Mas apa? Jangan aneh-aneh deh, Mas!" Tika bertanya dengan suara bergetar. Tangannya mencengkeram erat sandaran kursi.
"Kita bongkar joknya. Kita gotong sensornya bertiga melewati lumpur ini sampai ke Titik Nol!"
"Mas gila ya?! Berat banget itu!" Tika memekik, tetapi Rendra sudah merangkak ke bawah ruang kemudi.
"Pilih mana, Tika? Kehilangan sepuluh miliar dan akta panti, atau angkat beban sebentar?" Rendra bekerja secepat kilat di tengah kepungan air yang mulai merembes masuk melalui celah lantai mobil.
Dengan kunci inggris di tangan, ia mulai melepas baut-baut baja yang menghubungkan jok depan ke lantai kabin. Bunyi gesekan logam yang berkarat terdengar memilukan. Dika segera membantu, menekan pundak Rendra agar tetap memberi tekanan pada sensor jok sopir sementara baut dilepas.
"Tika, bantu Mas geser berat badan lo ke arah tengah jok belakang! Jangan sampai sensor kiri mendeteksi nol kilogram! Dika, pegang modul di bawah sini!" perintah Rendra dengan nada otoriter.