Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #24

Tanda Tangan di Atas Reruntuhan

Suara gemuruh dari arah lembah bukan lagi sekadar peringatan jauh; itu adalah auman kehancuran yang nyata, menggetarkan kerikil di bawah telapak kaki. Air waduk telah menelan separuh bukit di bawah mereka, mengubah hutan melati menjadi hamparan cokelat yang rata. Di depan mata, moncong ekskavator raksasa terangkat tinggi ke langit subuh yang kelabu, bayangannya jatuh memanjang, menimpa tubuh Rendra, Tika, dan Dika yang masih tersungkur di atas jok mobil penuh lumpur.

Pak Handoko berdiri mematung di samping tenda darurat. Sang notaris yang biasanya tampil necis dengan setelan slim-fit abu-abu dan tatanan rambut klimis itu kini tampak kacau. Ujung celananya terciprat tanah merah hingga ke lutut, dan butiran keringat dingin membasahi pelipisnya, melunturkan wibawa formal yang selama ini ia jaga. Ia melirik jam sakunya yang tergantung di rantai perak, lalu bergantian menatap tiga bersaudara itu. Mereka tampak lebih mirip pengungsi yang baru saja lolos dari maut daripada ahli waris yang akan menerima harta berlimpah.

"Pukul 06.00 tepat." Suara Pak Handoko bergetar, tetapi terselip nada kepuasan yang dalam. "Kalian sampai tepat di garis finish, pada detik yang ditentukan oleh wasiat almarhum Pak Broto. Frekuensi GPS dari modul yang kalian bawa sudah terkunci."

Ir. Gunawan, kepala proyek waduk, melangkah maju dengan wajah merah padam. Ia mencengkeram radio panggil yang terus mengeluarkan suara statis berisik. "Saya tidak peduli soal detik atau menit! Air sudah meluap di sektor hilir! Jalur ini harus diratakan sekarang juga untuk mencegah sumbatan material bangunan yang bisa merusak bendungan! Operator, jalan!"

"Jangan! Berhenti dulu!" Rendra berteriak sekuat tenaga. Suaranya parau, tenggorokannya terasa seperti disayat sembilu akibat debu dan kelelahan hebat. Ia tetap bertahan pada posisinya, menekan sensor jok sopir dengan lututnya yang gemetar. "Pak Handoko, dokumennya! Sekarang! Jangan buang waktu lagi!"

Lengan ekskavator mulai bergerak turun dengan suara hidrolik yang mendesis mengancam, seolah hendak menghimpit udara di sekitar mereka. Debu dari sisa-sisa pos jaga yang mulai diruntuhkan berhamburan ditiup angin kencang, menutupi pandangan. Dalam kekacauan yang bising itu, Pak Handoko membuka tas kulitnya dengan jemari yang gemetar hebat. Ia mengeluarkan selembar map tebal berwarna merah yang terbungkus plastik kedap air.

"Kalian harus tanda tangan sekarang! Di atas berkas ini, tepat di koordinat ini agar enkripsinya sempurna!" Pak Handoko berteriak menembus kebisingan mesin yang memekakkan telinga.

Akan tetapi, tanah di bawah mereka tidak stabil. Getaran dari alat berat yang bergerak maju membuat bumi seakan bergoyang. Pak Handoko mengedarkan pandangan, mencari permukaan datar, tetapi pos jaga di samping mereka sudah mulai hancur. Tidak ada meja, tidak ada sandaran. Tanpa pikir panjang, ia membentangkan dokumen itu di atas jok belakang yang sedang didekap erat oleh Tika.

"Gunakan jok ini sebagai meja! Cepat!" seru Pak Handoko sambil berlutut di lumpur demi menahan ujung kertas agar tidak terbang ditiup angin.

Rendra merangkak mendekat, menyeret tubuhnya yang berat tanpa melepaskan tekanan pada sensor jok sopirnya. Ia meraih pulpen emas yang disodorkan Pak Handoko. Jarinya yang berlumpur dan lecet meninggalkan jejak hitam di atas kertas putih bersih itu. Dengan napas yang tersengal-enggal, ia menggoreskan tanda tangannya di kolom pertama.

Lihat selengkapnya