Arunika: Rumah Cahaya

Suci Asdhan
Chapter #25

Konfrontasi Dengan Ambon

Kelegaan yang menyelimuti puncak bukit itu terasa rapuh, seperti kaca tipis yang siap retak kapan saja. Dari balik kabut debu sisa reruntuhan pos jaga, sebuah sedan hitam dengan cat penuh baret dan lumpur muncul perlahan. Mobil itu berhenti dengan suara rem yang mencit tajam, menciptakan garis hitam di atas tanah merah yang becek. Berhenti tepat di depan Rendra, Tika, dan Dika yang masih mematung di samping tiga jok mobil penuh lumpur.

Ambon turun dari balik kemudi. Wajahnya yang sangar terlihat lebih kusam dari biasanya, guratan di dahinya semakin dalam, mencerminkan kurang tidur yang akut. Di belakangnya, dua pria berbadan besar dengan jaket kulit gelap turun mengikuti, memberikan aura intimidasi yang membuat udara di Titik Nol seketika mendingin. Ir. Gunawan dan para pekerja proyek yang tadi sibuk dengan ekskavator, buru-buru memundurkan langkah. Mereka tidak butuh ijazah sarjana untuk tahu bahwa urusan pria-pria berwajah preman ini bukan sesuatu yang boleh dicampuri.

"Rendra." Suara Ambon berat dan parau, menggema di sela-sela deru mesin alat berat. "Urusan kita belum selesai."

Rendra melepaskan pelukannya dari bahu kedua adiknya. Ia maju selangkah, menempatkan tubuhnya sebagai tameng di depan Tika dan Dika. Ia tidak lagi gemetar. Sepasang matanya menatap Ambon lurus, tanpa ada keraguan yang tersisa. Rasa takut yang selama berhari-hari menghantuinya kini telah menguap, terbakar habis oleh panasnya perjuangan mendaki bukit tadi.

"Saya tahu, Ambon. Kamu dateng buat nagih hutang lima ratus juta itu, kan?" kata Rendra. Suaranya datar tetapi tegas, menguasai keadaan.

"Bukan cuma uangnya, Rendra! Tapi bunga dan harga diri gue yang lo injak-injak!" Ambon melangkah mendekat, tangannya masuk ke dalam saku jaket kulitnya yang lusuh. "Gue lihat tadi Pak notaris sudah beresin dokumen merah itu. Artinya, lo sekarang resmi punya sepuluh miliar. Bayar sekarang, atau lo nggak bakal pernah keluar dari bukit ini hidup-hidup."

Dika hendak maju, tetapi Rendra menahan dada adiknya dengan lengan kiri. Rendra tidak membalas dengan gertakan kosong. Sebaliknya, ia meraba saku jaketnya yang basah kuyup, menarik keluar sebuah amplop cokelat tebal. Amplop itu tersegel lilin merah dengan inisial 'B.L' yang masih utuh, meski ada noda lumpur yang menempel di sudutnya.

"Sebelum kita bicara soal bunga utang saya, ada amanah yang harus saya sampaikan." Rendra mengangkat amplop itu tinggi-tinggi ke udara. "Ini dari Bapak. Khusus buat kamu."

Ambon tertegun. Langkahnya terhenti dua meter di depan Rendra. Ia menatap amplop itu dengan dahi berkerut, seolah benda itu adalah granat yang siap meledak. "Apa itu? Sogokan supaya gue lepasin lo?"

"Bukan. Ini bagian kamu. Bapak nyimpen ini di laci rahasia Si Biru selama bertahun-tahun," ujar Rendra. Nada bicaranya kini melunak, membawa getaran emosi yang nyata. "Tadi di menara lonceng, kami denger rekaman terakhir Ibu. Beliau bilang, kamu pernah mempertaruhkan nyawa buat menyelamatkan Si Biru dari penyitaan saat keluarga kami sedang di titik paling bawah. Bapak nggak pernah lupa soal itu, Ambon. Di dalem sini ada modal buat kamu memulai hidup baru. Bapak nggak mau kamu selamanya jadi penagih utang di jalanan, dikejar-kejar polisi, dan hidup dalam kegelapan."

Ambon terdiam mematung. Tangannya yang tadi terkepal keras di dalam saku perlahan melemas. Ia menerima amplop itu dengan jemari yang gemetar. Begitu ibu jarinya menyentuh segel lilin merah yang kasar, pertahanan pria yang dikenal tak punya belas kasihan itu seakan-akan runtuh. Ia menatap inisial 'B.L'—Broto Larasati—dan memorinya terseret kembali ke masa-masa di mana ia hanyalah seorang pemuda pelabuhan yang hanya dihargai oleh satu orang, Pak Broto.

"Bapak, dia beneran nyimpen ini buat aku?" bisik Ambon parau. Kata 'aku' keluar begitu saja, menggantikan 'gue' yang biasanya ia gunakan untuk menggertak.

Lihat selengkapnya