Aroma tanah basah dan sisa hujan subuh tadi masih menggantung di udara perbatasan desa, beradu dengan wangi kopi tubruk yang mengepul dari gelas-gelas kaca tebal. Di sebuah warung kopi kayu sederhana yang luput dari jangkauan luapan air waduk, Rendra, Tika, dan Dika duduk mengelilingi meja panjang yang permukaannya sudah kasar dimakan usia. Di hadapan mereka, piring-piring berisi singkong rebus yang masih panas dan pisang goreng berminyak tersaji. Namun, tak satu pun dari mereka yang menyentuhnya.
Pak Handoko duduk di ujung meja, masih dengan kemeja abu-abunya yang kini kering, tetapi penuh bercak lumpur yang mengeras. Di sampingnya, Bibi Melati duduk dengan tangan yang bertaut di atas pangkuan, matanya yang sembap menatap kosong ke arah lembah yang kini telah menjadi hamparan air cokelat yang sunyi.
Map merah berisi wasiat itu tergeletak tepat di tengah meja, diapit oleh gelas teh hangat yang uapnya perlahan menipis. Sepuluh miliar rupiah. Sebuah angka fantastis yang secara legal kini telah berpindah ke dalam kendali mereka. Angka yang sanggup membeli kembali seluruh gaya hidup mewah Tika di Jakarta yang sempat runtuh, melunasi seluruh utang Rendra tanpa sisa, serta membiayai Dika untuk melanjutkan kuliah di mana pun atau sekadar bersantai seumur hidup.
"Jadi." Pak Handoko membuka pembicaraan. Suaranya tenang, tetapi bergema di keheningan warung. "Bagaimana mekanismenya? Sesuai klausul utama wasiat yang sudah kalian aktivasi di Titik Nol tadi, kalian berhak membagi rata dana abadi ini. Tiga koma tiga miliar per orang, setelah dikurangi biaya administrasi dan pajak yang sudah diurus kantor saya."
Keheningan tercipta di antara mereka. Tiga bersaudara itu terpaku, larut dalam jalan pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara Bang Jali di luar warung yang sedang membantu anak-anak panti menurunkan sisa barang dari truk.
Tika menatap map merah itu, lalu beralih menatap Bibi Melati yang tampak begitu rapuh. Ia teringat bagaimana tadi anak-anak kecil itu menangis ketakutan saat melihat bangunan panti mereka pelan-pelan tenggelam. Tika melihat tangannya sendiri yang kotor, kuku-kukunya yang patah, dan kakinya yang lecet. Anehnya, ia tidak merasa jijik. Tika perlahan mengulurkan tangan, lalu mendorong map merah itu kembali ke tengah meja, menjauh dari jangkauannya.
"Gue nggak mau uang ini masuk ke rekening pribadi gue buat beli tas baru atau bayar cicilan apartemen di Jakarta," ujar Tika tiba-tiba. Suaranya tidak lagi manja atau melengking penuh drama dan haus validasi. Ada nada kedewasaan yang baru tumbuh di sana. "Gue mau uang ini dipake buat menebus ruko Bapak yang disita bank. Dan sisa uangnya, kita pake buat pindahin seluruh panti asuhan Bibi Melati ke sana."
Dika terbelalak hingga hampir menjatuhkan gelas tehnya. Ia menatap kakaknya seolah-olah Tika baru saja berganti identitas. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya pemuda itu mengangguk dengan mantap. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang masih penuh noda tanah.
"Setuju banget, Mbak," sahut Dika sambil menatap Rendra, meminta dukungan juga. "Ruko Bapak itu luas, ada tiga lantai plus paviliun. Lantai bawah yang tadinya gudang bisa aku ubah jadi bengkel beneran. Aku bisa cari uang dari sana buat biaya operasional kita. Lantai dua bisa jadi tempat tinggal kita bertiga, biar kita nggak berpencar lagi. Dan lantai tiga sama paviliun belakang, itu pas banget buat jadi asrama anak-anak panti yang baru. Lebih layak daripada bangunan kayu yang di bawah tadi."
Rendra menatap kedua adiknya bergantian. Rasa bangga yang luar biasa besar membuncah di dadanya, lebih melegakan daripada saat ia berhasil menyalakan mesin Si Biru yang mogok. Pria itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri perubahan besar yang terjadi pada kedua adiknya setelah melalui perjalanan panjang mengungkap jejak-jejak Bapak yang penuh makna. Tika yang kini tak lagi peduli pada riasannya, dan Dika yang kini bicara soal tanggung jawab kerja.
"Kalian yakin?" tanya Rendra. Suaranya terdengar sedikit serak karena haru. "Ini artinya kalian nggak bakal punya uang tunai miliaran di tangan. Kalian nggak bisa beli mobil baru, nggak bisa liburan ke luar negeri, dan hidup kalian bakal sibuk ngurusin puluhan anak yatim setiap hari."