Enam Bulan Kemudian.
Aroma cat baru yang segar bercampur dengan wangi masakan semur daging dari dapur lantai tiga, menyeruak memenuhi koridor ruko di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini. Bangunan tua bergaya kolonial itu kini tampak gagah dengan fasad yang bersih. Namun, Rendra bersikeras mempertahankan satu detail ikonik, seluruh bingkai jendela kayu di ruko itu tetap dicat dengan warna biru laut yang identik dengan warna bodi mobil almarhum Bapak.
Di lantai dasar, suara deru mesin kompresor dan denting kunci pas yang beradu dengan logam terdengar stabil, memantul di antara pilar-pilar tinggi khas bangunan lama Jakarta. Sebuah papan nama kayu berukir rapi tergantung di depan pintu masuk: BENGKEL SI BIRU – SPESIALIS RESTORASI.
Dika, yang kini mengenakan wearpack abu-abu penuh noda oli, sedang membungkuk di bawah kap mesin sebuah sedan tua milik pelanggan. Wajahnya yang dulu sering terlihat ragu, kini tampak fokus dan tenang. Pemuda itu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor.
"Mas! Businya sudah aku ganti semua. Pengapiannya sudah stabil sekarang!" teriak Dika ke arah kantor kecil di sudut bengkel yang bising oleh bunyi klakson kendaraan bersahutan dari arah Jalan Pos.
Rendra keluar dari ruang kaca tersebut dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu memegang tablet yang berisi laporan keuangan yayasan. Sejak berhasil melunasi utang Ambon di meja ruko ini enam bulan lalu, Rendra menjadi otak di balik operasional Yayasan Cahaya Melati. Ia tidak lagi mengejar proyek miliaran yang semu. Kini, baginya, melihat laporan pengeluaran panti yang seimbang sudah cukup memberikan kepuasan yang luar biasa.
"Bagus, Dika. Simpen nota belanjanya, nanti biar Mas masukin ke pembukuan bengkel," sahut Rendra sambil menepuk bahu adiknya.
Tiba-tiba saja, suara riuh tawa anak-anak terdengar dari arah tangga kayu di tengah ruangan. Belasan anak panti asuhan turun dengan seragam sekolah yang rapi, dipimpin oleh Bibi Melati yang tampak jauh lebih segar. Di belakang mereka, Tika berjalan sambil menenteng kamera digital dan beberapa lembar kertas sketsa.
Tika tidak lagi mengenakan gaun desainer yang rumit. Ia memakai celana denim praktis dan kaos polos, rambutnya diikat kuda dengan santai. Sejak mereka pindah ke Jakarta Pusat, Tika mengambil peran sebagai pengajar kreativitas dan pengelola media sosial panti. Berkat foto-foto estetik dan cerita menyentuh yang ia unggah, donasi untuk panti terus mengalir dari berbagai penjuru negeri.
"Ayo anak-anak, salam dulu sama Mas Rendra dan Mas Dika sebelum berangkat les melukis!" seru Tika riang.