Malam itu di ruko jendela biru Pasar Baru, Jakarta Pusat, hujan turun rintik-rintik, membasahi aspal jalanan yang tak pernah benar-benar tidur. Rendra duduk di kursi kerja kayu milik Bapak, jemarinya perlahan membuka sebuah kotak kayu jati tua yang terkunci rapat selama puluhan tahun. Di dalamnya bukan tumpukan uang, melainkan berisi tumpukan surat-surat kusam, beberapa lembar foto hitam putih yang pinggirannya sudah menguning, serta sebuah buku harian bersampul kulit milik Ibu, Maria Larasati.
Tika dan Dika duduk di sofa kulit di seberang meja, memperhatikan kakak tertua mereka dengan napas tertahan. Mereka baru saja menidurkan anak-anak panti di lantai tiga. Keheningan ruko itu seakan-akan memberi ruang bagi arwah masa lalu untuk bicara. Rendra menarik sebuah foto; di sana terlihat dua gadis remaja yang tertawa di bawah pohon mangga. Yang satu adalah Ibu, dan yang satu lagi—dengan mata yang lebih bulat dan senyum yang lebih malu-malu—adalah sosok yang sekarang mereka panggil Bibi Melati.
"Mas, jadi ini semua dimulai dari Eyang Hardjono?" tanya Tika pelan. Suaranya terdengar sedikit parau.
Rendra mengangguk, matanya terpaku pada tulisan tangan Ibu yang rapi, tetapi tampak seperti ditulis dengan cara yang terburu-buru di halaman pertama buku harian itu. "Eyang Hardjono bukan cuma keras, Tika. Beliau menganggap keluarga kita itu seperti lukisan mahal. Satu noda kecil berarti seluruh kanvas harus dibakar."
Tahun 1985, Pesisir Utara.
Keluarga Hardjono Larasati adalah penguasa galangan kapal yang disegani. Di rumah besar itu, aturan adalah napas, dan reputasi adalah Tuhan. Maria, sang putri sulung, telah menikah dengan Broto, seorang pemuda dari kalangan biasa yang diterima Hardjono hanya karena kecerdasannya dalam mengelola mesin. Namun, badai datang bukan dari perputaran bisnis, melainkan dari hati putri bungsu mereka, Melati.
Melati yang saat itu baru berusia sembilan belas tahun, jatuh cinta pada seorang pemuda yatim piatu bernama Setyo, seorang buruh harian di galangan kapal ayahnya. Bagi Eyang Hardjono, itu adalah penghinaan tingkat tinggi. Baginya, Melati bukan sekadar anak, tapi aset yang harus dikawinkan dengan anak rekan bisnisnya demi memperluas imperium.
"Aku ingat cerita Bibi Melati kemarin malam pas kita lagi beresin kasur." Dika menyela, suaranya berat. "Bibi bilang, Eyang Hardjono nggak cuma marah. Dia mengurung Bibi di gudang bawah tanah selama satu minggu pas tahu Bibi hamil."
Rendra menghela napas, jemarinya gemetar saat membaca bagian buku harian Ibu yang menceritakan malam pelarian itu.
Malam itu, badai besar menghantam pesisir. Eyang Hardjono telah menyiapkan rencana keji: mengirim Melati ke sebuah panti rehabilitasi jauh di luar pulau untuk menggugurkan kandungannya secara paksa, lalu mengumumkan bahwa Melati sedang menempuh studi di Eropa. Namun, Maria tidak bisa tinggal diam. Ia mencuri kunci gudang, dan di bawah guyuran hujan yang membutakan, ia membawa Melati yang sedang lemas menuju gerbang belakang.
Di sana, Broto sudah menunggu dengan sebuah mobil sedan biru yang baru saja ia beli dari hasil lembur berbulan-bulan. Mobil itu—Si Biru yang legendaris—menjadi saksi bisu jeritan ketakutan Melati saat ia berbaring di jok belakang, tepat di posisi sensor yang berpuluh-puluh tahun kemudian akan menguji Rendra dan adik-adiknya.
"Mas Broto, bawa dia pergi. Jangan pernah bawa dia kembali ke rumah ini. Ayah akan membunuhnya jika dia tahu Melati masih di kota ini," begitu tulis Ibu dalam hariannya, menirukan ucapannya sendiri malam itu.