Tahun 1985, Rumah Besar Keluarga Larasati.
Suara denting sendok perak yang beradu dengan porselen halus Bone China menjadi satu-satunya melodi di ruang makan itu. Ruangan tersebut berbau lilin lebah, kayu jati yang dipoles, dan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Di ujung meja jati panjang yang sanggup menampung dua puluh orang, Pak Hardjono duduk dengan punggung tegak serupa penggaris besi. Rambutnya yang memutih disisir klimis ke belakang, dan sorot matanya yang setajam elang sedang membedah isi piring di depannya.
Di sisi kiri, Maria duduk dengan kepala sedikit menunduk. Tangannya di bawah meja meremas serbet kain hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Broto—yang masih terlihat asing dengan kemeja batik sutra pemberian mertuanya—berusaha memotong daging steak dengan presisi, seakan-akan satu kesalahan kecil akan membuatnya diusir dari meja itu saat itu juga.
Akan tetapi, kursi di ujung kanan meja itu kosong. Dan itulah sumber badai yang sedang tertahan di kerongkongan Pak Hardjono.
"Di mana adikmu, Maria?" Suara Pak Hardjono rendah, tetapi sanggup menghentikan gerakan tangan Broto di udara.
Maria menarik napas gemetar. "Melati sedang ..., kurang enak badan, Ayah. Mungkin masuk angin karena hujan semalam."
Pak Hardjono meletakkan pisaunya. Bunyi denting logam itu terdengar seperti vonis mati. "Masuk angin? Atau sedang meratapi nasib karena pemuda kumuh itu sudah kubuat menghilang dari galangan kapal?"
Broto berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Mungkin Melati hanya butuh istirahat, Pak. Dia masih muda ...."
"Dia bukan lagi anak-anak, Broto!" Pak Hardjono dengan cepat memotong. Tatapan tajamnya kini beralih pada menantunya. "Dia adalah keturunan keluarga Larasati. Dan seorang Larasati tidak jatuh cinta pada buruh yang baunya seperti karat dan solar. Seorang keturunan Larasati adalah etalase indah. Bersih. Berkilau. Tanpa cacat."
Tepat saat itu, pintu besar ruang makan terbuka dengan debuman pelan. Melati berdiri di sana. Rambutnya berantakan, wajahnya sepucat kertas, dan gaun tidurnya tampak kebesaran membungkus tubuhnya yang kian kurus. Wanita itu tidak menunduk. Ia menatap ayahnya dengan sepasang mata yang menyala oleh pemberontakan dan duka yang mendalam.
"Aku tidak nafsu makan, Ayah," ujar Melati. Suaranya serak, tetapi jernih.