Tahun 1985, Jalur Pantura Menuju Pedalaman Jawa Tengah.
Hujan bukan lagi sekadar rintik, melainkan tirai air yang menghantam kaca depan Si Biru dengan beringas. Wiper mobil berayun maksimal, menimbulkan suara srak-sruk yang monoton di tengah deru mesin V8 yang dipaksa bekerja ekstra. Di dalam kabin, bau jok kulit baru bercampur dengan aroma minyak kayu putih dan keringat dingin yang pekat.
Broto mencengkeram kemudi hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Sesekali kilat menyambar, menerangi wajahnya yang kaku dan penuh konsentrasi. Di spion tengah, ia bisa melihat bayangan Maria yang duduk di jok belakang, memeluk erat Melati yang terbaring lemah. Tubuh Melati ditutupi selimut tebal, tetapi getaran hebat di bahunya tak bisa disembunyikan.
"Mas, darahnya nggak berhenti," bisik Maria. Suaranya gemetar, nyaris tenggelam oleh bunyi guntur yang menggelegar di atas langit Batang.
Broto melirik indikator bensin dan suhu mesin. Semuanya masih terasa aman, tetapi ia tahu rintangan sebenarnya bukan pada mesin mobil, melainkan pada waktu. "Tahan, Melati. Sebentar lagi kita masuk jalur alternatif ke arah selatan. Di sana jalannya lebih sepi, orang-orang Ayah nggak akan kepikiran kita lewat hutan jati."
"Ayah pasti akan membunuh kita, Mas." Tangis Maria pecah. Wanita itu mengusap kening Melati yang panas membara. "Kalau dia tahu Mas Broto yang bawa mobil ini ...."
"Biar dia bunuh aku nanti, Maria! Yang penting sekarang Melati dan bayinya selamat!" bentak Broto spontan, lalu pria itu segera menyesal karena melihat Melati tersentak kaget. "Maaf, maafkan Mas. Mas cuma ingin kalian aman."
Melati perlahan membuka mata. Tatapannya kosong, menerawang ke langit-langit mobil yang bergoyang. "Mas Broto, tolong, jangan berhenti. Kalau berhenti, Ayah akan ambil dia. Ayah akan buang anakku ...."
"Nggak akan, Melati. Mas janji. Mobil ini nggak akan berhenti sampai kita sampai di kaki bukit," sahut Broto mantap, tanpa ada sedikit pun keraguan.