Tahun 1985, Fajar di Lembah Melati, Jawa Tengah.
Udara pagi itu terasa setajam silet, menusuk pori-pori kulit Broto yang masih basah oleh keringat dingin dan sisa air hujan. Di bawah naungan pohon melati tua yang cabangnya merunduk seolah ikut berduka, Broto berlutut. Tangannya yang biasa memegang kunci pas dan obeng, kini penuh dengan tanah merah yang basah. Ia baru saja menyelesaikan galian sedalam lima puluh sentimeter—sebuah peristirahatan terakhir bagi nyawa yang bahkan belum sempat memiliki nama.
Maria berdiri di sampingnya. Tubuh mungilnya dibungkus jaket kulit Broto yang kebesaran. Wajahnya sembap, matanya merah karena tangis yang tak kunjung usai. Di pelukannya, sebuah bungkusan kain putih bersih—satu-satunya kain yang tersisa di dalam tas bayi yang dibawa Melati—mendekap jasad mungil yang dingin.
"Mas, apa kita benar-benar akan meninggalkannya di sini?" bisik Maria. Suaranya nyaris tenggelam ditelan desau angin lembah.
Broto berdiri, menyeka tanah di celananya dengan gerakan mekanis. Ia menatap ke arah Si Biru yang terparkir beberapa meter di sana. Pintu belakangnya masih terbuka, menyingkap interior jok kulit yang kini bernoda merah gelap—sebuah noda yang kelak akan ditutupi Broto dengan lapisan kain beludru baru, tetapi takkan pernah hilang dari ingatannya.
"Ini permintaan Melati, Maria. Dia ingin anaknya tetap di sini. Di tanah yang bebas dari bayang-bayang Pak Hardjono," sahut Broto parau.
Melati keluar dari gubuk bambu dengan langkah tertatih. Maria dengan sigap hendak memapah adiknya, tetapi Melati menolak dibantu. Wajahnya yang pucat pasi kini tampak sangat keras, seolah rasa sakit fisik dan batinnya telah membeku menjadi baja. Ia menerima bungkusan putih itu dari Maria, menciumnya untuk terakhir kali, lalu meletakkannya ke dalam liang lahat dengan gerakan yang sangat lembut.
"Namanya Setyo, seperti ayahnya," gumam Melati pelan. "Tidurlah, Nak. Di sini nggak ada rahasia. Di sini cuma ada wangi bunga. Meski kamu dibuang seperti sampah, bagiku kamu indah seperti melati dengan harum semerbak."