Tahun 1985, Kediaman Besar Larasati, Jakarta.
Suasana di ruang tengah rumah itu sedingin es, meskipun udara Jakarta sedang lembap pasca badai semalam. Pak Hardjono duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi ukir jati yang tampak seperti singgasana hakim. Di depannya, dua orang pria berbadan tegap dengan seragam safari hitam berdiri menunduk, tak berani menatap mata sang majikan yang sedang memegang sebatang cerutu yang apinya sudah padam.
"Jadi, kalian kehilangan jejak?" Suara Pak Hardjono pelan, tetapi getarannya sanggup merontokkan nyali siapa pun.
"Maaf, Tuan Besar. Semalam badai sangat hebat di jalur Pantura. Mobil sedan biru itu masuk ke jalur tikus di sekitar hutan jati Alas Roban. Kami kehilangan jejak saat kabut turun," salah satu pria itu menjawab dengan suara bergetar.
BRAKK!
Pak Hardjono menggebrak meja marmer di sampingnya hingga asbak kristal meloncat dan pecah berkeping-keping di lantai. Pria tua berdiri, wajahnya yang biasanya kaku kini memerah padam. Napasnya memburu, memburu seperti banteng yang terluka harga dirinya.
"Sedan biru, Broto!" desis Pak Hardjono. Nama menantunya itu keluar dari mulutnya seperti kutukan. "Berani-beraninya mekanis rendahan itu mencuri anakku dari rumah ini!"
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Suara deru mesin V8 yang khas terdengar memudar di halaman. Broto melangkah masuk ke dalam rumah. Pakaiannya kotor oleh lumpur, wajah pria itu kuyu, dan matanya merah karena kurang tidur. Di belakangnya, Maria berjalan dengan langkah gontai, kepala wanita itu tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan sembap di matanya.
Pak Hardjono berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti dentuman genderang perang. Ia berhenti tepat satu meter di depan Broto.
"Di mana dia?" tanya Hardjono. Dingin. Tanpa basa-basi.
Broto mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai menantu, ia tidak menunduk. Ia menatap mertuanya lurus tepat di manik matanya—sebuah tindakan pembangkangan yang tak termaafkan di rumah ini.