Di aula istana utama.
Sejak pagi, para pengrajin dan pelayan sudah sibuk menata bunga, memasang hiasan, lampu gantung, dan mempersiapkan karpet yang indah.
Menata meja dan kursi. Membawa pot-pot tanaman dan karangan bunga yang cantik.
Malam ini adalah perjamuan pesta pernikahan sang raja dengan wanita suci pujaannya.
Namun, di sudut Utara hutan Dantarht yang gelap dan di penuhi hawa dingin aula persembahan sudah di penuhi oleh para penyihir dan belasan kurban yang berasal dari ras manusia.
Mereka di ikat di tiang altar dan di bakar hidup-hidup. Para penyihir segera melantunkan berbagai mantra yang rumit dan tidak dapat di pahami.
Suara jeritan para kurban terdengar semakin memilukan, tak lama kemudian api di tengah altar menyala dengan sangat besar membuat hawa panas menyapu wajah-wajah para penyihir.
Mereka menjadi semakin bersemangat dan terus memuja dewa agung Morgan. Tepat ketika seluruh kurban hampir terbakar habis aura gelap bercampur angin berputar di tengah altar.
Membentuk pusaran angin kencang yang seperti lubang hitam. Lalu dari tengah-tengah pusaran mulai terbentuk bayangan yang berkumpul dan memadat membentuk tubuh seorang pria gagah, tinggi, dan perkasa.
Wajahnya sangat tampan dan memikat dengan mata berwarna ungu tua. Di sepanjang garis rahang kiri tampak sebuah sulur hitam yang menjalar hingga ke leher. Membuatnya tampak sangat berbahaya.
Melihat kebangkitan dewa agung mereka. Para penyihir segera bersujud dan membentur-benturkan kepala mereka ke tanah sebagai bentuk pengabdian.
........
Di aula utama istana, malam hari.
Semua orang sedang berpesta. Beberapa pejabat maju dan mengucapkan selamat kepada raja Aruna dan putri Adelina.
Di tengah-tengah pesta suara melodi musik yang indah dan merdu mengalun mengiringi para tamu yang sedang berdansa berpasangan.
Namun di tengah keramaian pesta yang semarak. Beberapa kabut hitam tipis menyelinap di antara kerumunan hingga akhirnya puluhan orang jatuh satu persatu dan tidak sadarkan diri.