AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #1

1. Idola Bersama

11 September 2018..


Yiran duduk kaku di kursinya. Jemarinya saling bertaut begitu erat sampai buku-buku jarinya memucat, sementara pandangannya terus berusaha lurus ke depan. Namun setiap beberapa detik, matanya kembali berbelok tanpa izin, tertambat pada sosok di sudut ruangan itu.

Wanita itu masih di sana.

Duduk diam dengan bahu sedikit merunduk. Tatapannya mengarah padanya tanpa berpaling sedikitpun, menyimpan sesuatu yang membuat dada Yiran terasa sesak. Ada banyak hal di dalam mata itu, penyesalan, kehilangan, mungkin juga permohonan maaf, namun semuanya terlalu rumit untuk diterjemahkan.

Napas Yiran tersendat.

Tenggorokannya terasa sempit seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekiknya pelan. Ia buru-buru menelan ludah, tetapi rasa berat di dadanya tak juga hilang. Justru semakin menekan saat wajah itu terus memenuhi penglihatannya.

Tiga tahun. Tiga tahun tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Tanpa salam perpisahan.

Dan anehnya, hanya dengan melihatnya duduk di sana, semua yang susah payah ia kubur kembali menyeruak seperti luka yang baru saja dirobek paksa.

Ia membenci kenyataan bahwa dirinya masih mengingat semuanya dengan begitu jelas, cara wanita itu tertawa sambil memejamkan mata, kebiasaannya menarik lengan baju saat gugup, bahkan aroma samar parfum yang dulu sering tertinggal di jaketnya. Kenangan-kenangan itu muncul tanpa ampun, memenuhi kepalanya sampai sulit bernapas.

Yiran sempat berpikir waktu sudah menyembuhkan segalanya. Ternyata tidak. Hatinya masih tersangkut di tempat yang sama, seperti tidak pernah benar-benar ditinggalkan.Namun bersamaan dengan rasa rindu yang menghantam tanpa peringatan, pertanyaan-pertanyaan lama ikut bermunculan, berisik memenuhi kepala.

Kenapa pergi?

Kenapa menghilang begitu saja?

Kenapa baru muncul sekarang?

Rahangnya mengeras. Ia menarik napas panjang, lalu memalingkan wajahnya cepat-cepat sebelum dirinya benar-benar kalah oleh dorongan untuk berjalan menghampiri wanita itu. Tatapannya dipaksa jatuh ke arah lain, meski sudut matanya masih terasa panas.

Sebab ia tahu, sekali saja kembali menatap wanita itu terlalu lama, seluruh pertahanan yang dibangunnya akan runtuh tanpa sisa.

***


Tiga tahun sebelumnya..


Jakarta, 15 Januari 2015.


Raina Violita, gadis delapan belas tahun yang menjalani hidup biasa-biasa saja. Hari-harinya dipenuhi sekolah dan kenyataan bahwa ia lahir di keluarga pas-pasan yang selalu kekurangan uang. Seperti kebanyakan remaja lainnya, ia juga pernah mengenal cinta, pernah punya pacar, lalu merasakan patah hati.

Namun sebagai siswi tingkat akhir SMA, Raina merasa tak punya waktu untuk romansa sekolah lagi. Tak ada waktu untuk mengenal cowok baru, pendekatan, jatuh cinta, lalu terluka lagi. Lagi pula, luka dari hubungan terakhirnya baru saja sembuh. Untuk saat ini, jatuh cinta adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

Meski tak punya prestasi menonjol, Raina cukup berbakat di bidang bahasa. Ia senang mempelajari bahasa apa pun dan bercita-cita menjadi interpreter. Sayangnya, keadaan ekonomi membuatnya tak berani berharap banyak pada bangku kuliah. Meski jauh di dalam hati ia sangat ingin melanjutkan studi setelah lulus, kenyataannya uang tak pernah cukup. Jadi untuk sekarang, ia hanya bisa fokus lulus sekolah dan segera mencari kerja.

Pagi demi pagi, hari demi hari, Raina menjalani hidup hampir seperti robot. Berangkat sekolah sebelum matahari terbit, pulang saat matahari tenggelam. Menjalani rutinitas membosankan sambil memaksa dirinya berhenti bermimpi terlalu tinggi. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali benar-benar menginginkan sesuatu dalam hidupnya. Selama ini, Raina hanya hidup sekadarnya.

Sampai hari tak terduga itu datang.

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan semester satu. Saat ia berdiri di barisan kelas sambil menahan kantuk karena semalaman begadang mencari lowongan kerja. Di tengah upacara bendera yang tak pernah ia sukai dan tak kunjung dimulai itu, sesuatu yang baru muncul dalam hidupnya yang membosankan.

Raina berdiri di barisannya dengan kedua tangan terlipat di depan perut dan mata terpejam rapat. Matahari pagi terasa menyengat kulit, sementara suara pidato pembina upacara menggema samar dari atas podium. Namun perlahan, suara lain mulai mengambil alih lapangan. Bisik-bisik para siswi terdengar semakin riuh dari berbagai barisan, beberapa memekik tertahan, sebagian lagi menghentakkan kaki sambil jejingkrakan kecil menahan heboh. Anehnya, kegaduhan itu bukannya mereda, justru makin menjadi-jadi bahkan ketika pembina upacara mulai berbicara serius di depan.

Raina mengernyit pelan. Semakin ia mencoba memejamkan mata dan mengabaikan semuanya, semakin suara-suara itu mengusik telinganya. Pada akhirnya ia membuka mata lalu menoleh perlahan ke sekitar dengan wajah heran. Baru saat itu ia menyadari bahwa hampir semua siswi di lapangan sedang saling berbisik sambil menatap ke satu arah yang sama. Tatapan mereka penuh antusias, beberapa bahkan menahan senyum dan teriakan kecil seolah sedang melihat artis terkenal muncul di tengah upacara pagi. Dahi Raina berkerut bingung. Ia pun memutar tubuhnya sedikit ke belakang, mengikuti arah pandang itu.

Lihat selengkapnya