AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #2

2. Keputusan Impulsif

Begitu pintu ruangan tertutup di belakangnya, Raina langsung melangkah pergi dengan napas tertahan di tenggorokan. Mula-mula ia masih berjalan pelan, berusaha terlihat normal, tetapi semakin jauh dari ruang Wakasek, langkahnya berubah semakin cepat. Semakin cepat. Dan semakin cepat. Sampai akhirnya ia nyaris berlari memasuki toilet perempuan di ujung lorong.

Pintu didorong terburu-buru. Ia berhenti tepat di depan wastafel dengan dada naik turun tak beraturan. Jemarinya mencengkram pinggiran keramik dingin itu kuat-kuat sementara tubuhnya masih sedikit gemetar.

“Hah…”

Ia menunduk, menarik napas panjang dalam-dalam. Udara memenuhi paru-parunya perlahan, mencoba menenangkan jantung yang sejak tadi tak berhenti mengamuk.

Setelah beberapa detik, Raina mengangkat wajah. Pantulan dirinya sendiri menyambut dari balik cermin, pipi memerah, mata berbinar tak karuan, dan sudut bibir yang naik tanpa bisa dikendalikan.

Senyum itu semakin lebar. Raina buru-buru menepuk kedua pipinya sendiri pelan. “Fokus, Rain… fokus,” gumamnya lirih, meski nada suaranya jelas gagal terdengar tenang.

Kepalanya masih dipenuhi percakapan di ruangan tadi. Rasanya hampir tidak masuk akal.

Seumur hidup, Raina tidak pernah bisa disebut beruntung. Ia selalu kalah dalam lomba, tak pernah menang undian, bahkan kuis receh di media sosial pun seolah menjauhinya. Sampai-sampai tanpa sadar ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memang ditakdirkan berada di sisi kehidupan yang kurang mujur.

Namun sekarang, Raina menatap lagi bayangannya di cermin dengan napas tercekat kecil. Mungkin selama ini ia terlalu sok tahu soal jalan hidupnya sendiri. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, semesta terasa seperti sedang berpihak padanya.

Beberapa menit sebelumnya, di dalam ruangan Wakil Kepala Sekolah, Raina nyaris lupa cara bernapas dengan benar.

“Ini Yiran.”

Suara Bu Farida terdengar biasa saja, tetapi bagi Raina, nama itu jatuh seperti sesuatu yang diputar dalam gerakan lambat dan menghantam kepalanya berat.

Cowok tinggi di sebelahnya hanya berdiri diam dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, sementara aroma parfum yang samar namun maskulin terus mengganggu fokus Raina.

“Dia murid pindahan di kelas IPA,” lanjut Bu Farida.

Raina mengangguk kecil, walau sebenarnya pikirannya sudah buyar entah ke mana.

“Saya tahu kita semua sedang sibuk persiapan ujian akhir.” Bu Farida membuka beberapa lembar data nilai di mejanya. “Dan saya juga tahu kamu termasuk murid yang serius belajar.”

Raina refleks meluruskan punggungnya.

“Saya sudah lihat nilai kamu. Di kelas IPS, nilai Bahasa Indonesia, Inggris, dan Korea kamu paling stabil.” Bu Farida berhenti sebentar lalu melirik ke arah Yiran yang sejak masuk tadi belum mengucapkan satu kata pun. “Sementara Yiran ini sangat bagus di Fisika dan Matematika, tapi cukup tertinggal di beberapa mata pelajaran Bahasa.”

Raina mulai merasa ada sesuatu yang mengarah ke dirinya.

Dan benar saja.

“Jadi untuk persiapan ujian akhir, saya mau minta kamu membantu Yiran belajar.”

Jantung Raina langsung berdetak lebih keras. Degupannya sampai terasa di telapak tangan.

Ia sempat melirik sekilas ke arah Yiran, lalu buru-buru mengalihkan pandangan lagi sebelum ketahuan terlalu lama memperhatikan wajah cowok itu.

“Maaf, Bu…” Raina berdehem kecil, berusaha terdengar normal walau lidahnya terasa kaku. “Maksudnya… saya sharing catatan sama soal-soal ujian aja atau gimana?”

Bu Farida ikut berdehem, nadanya dibuat setenang mungkin meski tetap terdengar seperti perintah yang tak bisa ditolak.

“Maksud Ibu, kamu bantu Yiran belajar mata pelajaran Bahasa.”

Hening sesaat. Lalu terdengar...

“Ck.”

Decakan pelan terdengar dari sampingnya.

Raina spontan menoleh.

Yiran berdiri dengan rahang sedikit mengeras dan tatapan yang jelas tidak terlihat antusias. Ia mengalihkan wajah sambil menghembuskan napas pendek, seperti baru saja mendengar sesuatu yang mengganggu suasana hatinya.

Melihat gelagat Yiran yang jelas tidak nyaman dengan situasi itu, senyum kecil yang tadi hampir muncul di wajah Raina perlahan menghilang.

Baru beberapa detik lalu kepalanya sibuk berlari ke mana-mana, membayangkan belajar bersama sepulang sekolah, duduk satu meja, bertukar catatan, atau sekadar mendengar suara Yiran dari jarak dekat. Jantungnya bahkan sempat melonjak kegirangan sampai rasanya ia ingin menjerit diam-diam.

Namun decakan singkat itu seperti ember air dingin yang disiram tepat ke kepalanya. Raina tersadar. Bagaimana kalau semua ini sebenarnya cuma kabar baik untuk dirinya sendiri? Sementara bagi Yiran, ini justru terasa merepotkan.

Lihat selengkapnya