Jam menunjukkan pukul lima pagi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna biru gelap dengan semburat pucat matahari yang belum benar-benar muncul. Raina duduk sambil bertopang dagu di meja belajar yang penuh buku latihan dan sticky notes warna-warni, sementara lampu meja kecil di sampingnya masih menyala kekuningan lupa dimatikan sejak semalam.
Tiga hari berlalu sejak ia ditugaskan wakasek untuk membimbing Yiran, tapi sampai sekarang ia belum berhasil mendekati cowok itu. Kemarin, saat berpapasan dengan Bu Farida di koridor, ia sampai ditanya soal progress yang nyatanya sama sekali belum dimulai. Sempat terpikir meminta bantuan wakasek itu untuk mempertemukannya dengan Yiran, tetapi buru-buru ia urungkan. Tak ingin terlihat tak mampu sejak awal.
Raina melipat kedua tangannya di atas meja lalu membenamkan wajahnya di sana sambil merengek pelan. Kipas angin kecil di sudut meja berputar malas, meniup rambut-rambut di sekitar pipinya. Ia sempat berharap banyak pada Tami karena kedekatannya dengan Bagus, tapi ternyata bukan cuma ke cewek, bahkan ke cowok sekelasnya pun Yiran nyaris tak bicara. Kata Bagus, Yiran hanya fokus belajar, hanya berbicara saat ditanya guru. Nomor ponselnya saja sampai sekarang belum berhasil didapat.
Raina mengangkat kepalanya lagi, duduk tegak sambil menggaruk leher frustasi. Sebenarnya sejak kemarin ada satu ide yang terus berputar di benaknya. Namun semakin dipikirkan, semakin ia enggan melakukannya.
“Arrrghhh!” geramnya tertahan sambil menarik rambutnya sendiri.
Keadaan ini benar-benar membuatnya stres sampai tak fokus belajar. Semakin ia berusaha mendekat, semakin Yiran menjauh. Semakin Yiran menjauh, semakin ia menyukai sikap dingin cowok itu. Dan semakin ia suka, semakin besar keinginannya untuk mendekat. Lingkaran setan itu terus berputar, menggembungkan rasa frustrasi di dalam dadanya sampai sulit bernapas lega.
Dengan napas berat, Raina akhirnya meraih ponselnya yang tergeletak di samping buku matematika. Cahaya layar menyinari wajah kusutnya saat ia membuka daftar kontak dan mencari nama seseorang: Kavi.
Jarinya terhenti.
Beberapa detik ia hanya menatap layar kosong itu sebelum mengingat sesuatu yang membuat dadanya makin sesak, nomor Kavi sudah ia hapus setahun lalu.
Raina memejamkan mata sebentar, mengutuk kebodohannya sendiri. Namun detik berikutnya ia justru tak tahu harus mengumpat atau bersyukur pada kemampuan mengingatnya. Deretan angka itu masih tertanam jelas di kepalanya, seolah memorinya menolak membuang laki-laki itu sepenuhnya.
Selagi keberaniannya belum hilang, ia buru-buru mengetik nomor tersebut dan menyimpannya kembali ke kontak.
Kavi Praditto. Nama yang sejak tahun lalu selalu ia hindari di sekolah.
Mereka mulai berpacaran di semester dua kelas sepuluh lalu putus di semester dua kelas sebelas, dengan cara yang buruk, sangat buruk, sampai meninggalkan masalah memalukan yang jejaknya masih terasa bahkan hari ini. Karena itu pula, selama satu tahun terakhir Raina selalu memastikan dirinya tak berada terlalu dekat dengan laki-laki itu.
Namun kali ini gengsinya terpaksa kalah. Sebab sejauh yang ia tahu, Kavi adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Ketua kelas XII IPA 2 itu pasti memiliki nomor Yiran sebagai data murid kelasnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raina harus kembali menghubungi mantan pacarnya demi laki-laki lain.
Kedua kaki Raina bergerak gelisah di bawah meja, tumitnya berkali-kali mengetuk lantai tanpa ritme. Ponsel di tangannya sudah ditatap lima menit, tetapi kolom chat dengan nama Kavi masih kosong.
Ia menggigit bibir bawah pelan. Jemarinya mulai mengetik.
“Hai, Kav…” Hapus.
“Kavi, ganggu bentar…” Hapus lagi.
Raina mengerang pelan sambil menjatuhkan kepala ke meja belajar. Rasanya harga dirinya terkikis sedikit demi sedikit hanya karena harus menghubungi mantan pacarnya sendiri demi cowok lain.
Namun setelah beberapa kali menarik napas panjang, ia kembali menegakkan badan dan memaksa jemarinya bergerak cepat sebelum keberaniannya hilang lagi.
“Kav, ini gue Raina, sorry banget gue chat lu tapi gue bener-bener butuh bantuan lu.”
Begitu pesan terkirim, Raina langsung memejamkan mata rapat-rapat seperti baru saja melakukan dosa besar. Ponselnya dilempar ke atas meja, lalu kedua telapak tangannya buru-buru menutupi wajah sendiri. “Malu banget, ya Tuhan…” rengeknya tertahan.
Ia bahkan merasa jijik pada dirinya sendiri.
Dulu dia yang mati-matian berusaha terlihat baik-baik saja setelah hubungan mereka berakhir. Dia juga yang berusaha menjaga sisa harga diri dengan tidak pernah menghubungi Kavi lagi. Karena perlu nomor Yiran, semua prinsip itu ambruk begitu saja.
Belum sempat Raina selesai mengasihani dirinya sendiri, suara notifikasi mendadak terdengar.
Ting.
Tubuhnya langsung tegak. Raina buru-buru meraih ponsel dan menatap layar dengan napas tertahan.
Kavi membalas. Dadanya mendadak terasa aneh.
Hanya melihat nama itu muncul di layar saja sudah cukup menariknya kembali ke masa lalu, masa ketika chat mereka tidak pernah berhenti. Dari ucapan selamat pagi, foto makanan random, keluhan tugas sekolah, sampai percakapan larut malam yang sering berakhir menjelang subuh.
Dulu nama Kavi adalah notifikasi favoritnya. Dan ironisnya, sekarang semuanya hanya meninggalkan rasa manis yang pahit. Raina menghembuskan napas pelan sebelum membuka pesannya.
“Apa?” balas cowok itu. Singkat. Datar. Sangat khas Kavi ketika sedang tidak ingin berbasa-basi.
Namun karena merasa harga dirinya sudah terlanjur hancur, Raina memilih tak berpikir panjang lagi. Jemarinya langsung bergerak cepat di atas layar.
“Lu punya nomor Yiran? Please gue minta. Ada perlu.”
Memang sedang menunggu balasan darinya, Kavi yang statusnya masih online langsung membalas dalam hitungan detik.
Namun bukannya nomor telepon Yiran seperti yang diharapkan Raina, yang muncul di layar justru hanya satu karakter menyebalkan.