Sama seperti tadi pagi, di sore dengan matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya ini, Raina berdiri di ujung lobi sambil celingak-celinguk ke kanan kiri. Cahaya jingga dari langit senja memantul redup di lantai keramik yang mulai lengang. Suara murid-murid yang sejak tadi memenuhi koridor kini tinggal samar-samar, berganti gema langkah kaki petugas kebersihan dan derit kursi yang disusun dari kelas-kelas kosong.
Tadi, saat keluar kelas, Raina sempat melihat Yiran berjalan menuju ruang wakasek lalu masuk ke dalamnya. Merasa mendapat kesempatan kedua setelah pertemuan pagi tadi berjalan lumayan baik, ia memutuskan tidak langsung pulang dan menunggu di depan ruangan itu. Namun sepuluh menit berlalu, Yiran belum juga keluar.
Akhirnya ia pindah ke lobi sekolah karena yakin cowok itu pasti akan melewati tempat ini.
Sambil memegangi tali tasnya, Raina mondar-mandir kecil di sekitar sofa lobi. Kadang ia melongok ke arah koridor, kadang memeriksa jam di ponselnya sendiri. Sekolah yang perlahan kosong justru membuat rasa gugupnya semakin terasa.
Saat ia sedang duduk sambil meluruskan kedua kaki di sofa lobi, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat. Raina langsung bangkit cepat.
Begitu melihat sosok tinggi itu muncul dari ujung koridor, ia buru-buru berdiri tepat di tengah lobi dan memasang senyum lebar.
“Hai!” sapanya terlalu riang untuk seseorang yang jelas-jelas tampak memiliki mood buruk.
Wajah Yiran terlihat lebih dingin dibanding pagi tadi. Rahangnya mengeras, langkahnya cepat. Seharian ini semua orang benar-benar berhasil membuat emosinya kacau. Niat awalnya untuk mengembalikan buku milik gadis ini saat bertemu lagi langsung lenyap begitu Raina kembali menghadang langkahnya.
Tanpa menjawab, Yiran melewati Raina begitu saja.
Hidung Raina langsung berkerut saat menatap lebih jelas wajah cowok itu. “Muka lu kenapa?” tunjuknya spontan, baru sadar akan memar membiru yang ada di atas rahang Yiran.
Tak ada jawaban. Langkah Yiran bahkan tak melambat sedikit pun. Dalam beberapa detik lagi ia akan meninggalkan lobi.
“Eh, Yiran, tunggu!” Raina buru-buru mengambil tasnya lalu berlari menyusul.
“Tunggu!” Tanpa sadar, jemarinya meraih pergelangan tangan cowok jangkung itu.
Yiran langsung berbalik dan menghempaskan tangan Raina cukup keras sampai tubuh gadis itu terhuyung mundur. Sepatu Raina berdecit di lantai licin dan nyaris membuatnya jatuh.
“Bisa nggak usah ganggu terus nggak sih!” bentak Yiran. Suaranya menggema keras di lobi yang nyaris kosong.
Mata Raina melebar. Tubuhnya mematung kaget. “So-sorry… gue cuma mau…” jawabnya gagap.
“Mau apa?” potong Yiran tajam, matanya menyala penuh emosi yang sejak tadi ia tahan.
“Gue… kan… Bu Farida minta gue bantu…” ucap Raina terbata-bata. Cowok bertubuh tinggi dengan suara berat di hadapannya itu benar-benar membuat nyalinya mengecil.
“Bantu apa?” Ujung bibir Yiran sedikit terangkat. Samar, tapi cukup jelas menunjukkan senyum sinis.
“Gue apa lu yang perlu dibantu?” katanya rendah. “Lu emang hobi ganggu orang?”
Dahi Raina langsung berkerut. Rasa takut yang tadi menekan dadanya perlahan tergantikan kesal yang naik begitu cepat sampai kepalanya panas. Ia sadar dirinya memang terlalu memaksa, tetapi reaksi Yiran jelas keterlaluan.
“Sorry kalau lu ngerasa diganggu,” ucapnya dengan suara mulai bergetar. “Emang bener gue yang butuh.”
Ia menatap lurus ke mata Yiran. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya sampai kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri. “Terus kenapa kalau gue butuh?” lanjutnya.
Yiran terdiam.
Baru saat itu ia sadar dirinya sudah kelewatan. Tatapan dinginnya sedikit melunak, tetapi lidahnya terasa kelu untuk sekadar mengatakan maaf.