AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #5

5. Terlihat Manis

“Kenapa dia di sini…?”

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Raina sejak beberapa menit lalu. Sesekali ia melirik diam-diam ke arah Yiran yang duduk tepat di hadapannya, masih dengan hoodie gelap dan ekspresi datar yang sulit dibaca. Situasi ini terasa begitu tidak masuk akal sampai Raina mulai curiga dirinya belum benar-benar bangun dari tidur.

Dengan gugup ia terus menyuapkan bubur ke dalam mulut, sesendok demi sesendok, meski sadar perutnya sama sekali tidak nyaman. Jantungnya berdebar terlalu cepat, pikirannya terlalu berisik, dan rasa canggung yang memenuhi dadanya membuat makanan itu terasa seperti pasir yang sulit ditelan. Benar saja, beberapa menit kemudian rasa mual mulai muncul. Raina langsung meletakkan sendoknya pelan sambil menarik napas pendek karena sudah tidak sanggup melanjutkan sarapannya.

Sejak semalam ia sudah mati-matian mencoba menata pikirannya sendiri setelah kejadian memalukan kemarin. Ia bahkan sempat membayangkan berbagai kemungkinan kalau suatu hari bertemu Yiran lagi, apa yang harus ia katakan, bagaimana ia harus bersikap, sampai bagaimana caranya supaya tidak terlihat terlalu gugup. Namun jelas bukan secepat ini. Dan jelas bukan dalam keadaan dirinya yang sama sekali belum siap.

Sementara itu, Yiran sejak duduk tadi hanya mengaduk-aduk isi mangkuk buburnya tanpa benar-benar makan. Sendok di tangannya bergerak pelan membelah bubur yang mulai dingin, tetapi tidak sekalipun ia menyuap. Sikap itu justru membuat Raina makin bingung. Kalau memang tidak ingin bicara dengannya, kenapa cowok itu malah duduk di sini?

Raina menggigit bibir pelan sambil berpikir keras. Ia tahu semakin lama mereka diam seperti ini, semakin canggung suasananya. Dadanya mulai terasa sesak oleh kebingungan yang terus menumpuk. Akhirnya, dengan sisa keberanian yang berhasil ia kumpulkan, ia berdiri dari kursinya lalu menatap Yiran ragu-ragu.

“Ayo,” katanya singkat.

Setelah mengucapkannya, Raina langsung bersiap dipermalukan. Ia sudah membayangkan kemungkinan Yiran hanya akan menatapnya dingin lalu tetap duduk karena sebenarnya cowok itu memang datang ke tukang bubur hanya untuk sarapan, bukan untuk bicara dengannya.

Namun di luar dugaan, Yiran langsung bangkit dari kursinya tanpa banyak tanya dan mengikuti langkah Raina begitu saja.

Menyadari itu, Raina diam-diam menghembuskan napas lega kecil. Meski sampai sekarang ia masih belum tahu harus mengatakan apa selanjutnya, setidaknya kali ini dirinya tidak jadi merasa malu sendirian.

Tak begitu jauh dari tukang bubur, Raina akhirnya berhenti di pinggir jalan. Ia berbalik pelan, menunggu Yiran yang berjalan santai mendekat ke arahnya. Namun begitu cowok itu benar-benar berdiri tepat di depannya, seluruh kalimat yang tadi sempat disusun di kepala Raina mendadak buyar begitu saja.

Bibirnya mengatup rapat. Kosong. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan ini.

Perkara tukang bubur tadi memang tidak jadi mempermalukannya, tetapi rasa malu akibat tingkahnya kemarin masih menggantung jelas di dalam kepala. Tanpa sadar Raina terus menatap wajah Yiran sambil sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

Lima detik. Sepuluh detik. Tatapannya tetap sama, bingung, ragu, dan sedikit kosong seperti orang yang sedang tenggelam terlalu jauh di kepalanya sendiri.

Anehnya, Yiran juga tidak mengalihkan pandangan sedikit pun.

Ia membalas tatapan itu sambil diam-diam mengamati sorot mata Raina. Tatapan kosong yang menyimpan terlalu banyak pikiran itu persis seperti yang ia lihat kemarin sore. Dan kali ini Yiran makin yakin, sejak awal gadis ini tidak pernah benar-benar menatapnya dengan sok atau menghakimi seperti orang-orang lain. Raina hanya terlalu sibuk dengan isi kepalanya sendiri sampai sering terlihat linglung.

Entah kapan terakhir kali Yiran membiarkan dirinya menatap mata lawan bicaranya selama ini tanpa merasa terganggu. Yang lebih aneh lagi, mereka bahkan tidak sedang bicara. Keduanya hanya berdiri saling menatap sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Sementara Raina, setelah hampir setengah menit sibuk berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya menyerah pada semua formalitas dan basa-basi yang tadi sempat ia susun. Ia memutuskan langsung melompat ke inti masalah yang sebenarnya ingin dibahas sejak awal.

“Jadi…” Raina menarik napas kecil sebelum memberanikan diri menatap Yiran lebih lurus. “Kita tetep nggak perlu belajar bareng?”

Nada suaranya terdengar jauh lebih berani dibanding ekspresi gugupnya.

Yiran menahan senyum kecil yang nyaris muncul.

Ucapan Raina bisa berarti banyak hal. Gadis itu masih mau mengajaknya belajar bersama meski sudah melihat sisi buruknya kemarin. Itu juga berarti… Raina tidak membencinya.

Yiran berdeham pelan sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana olahraga hitamnya. Ia memalingkan wajah sesaat, menatap pohon di seberang jalan seolah sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya menjawab singkat,

“Coba sekali dulu.”

Raina langsung memicingkan mata tak percaya. “Bener?”

Yiran hanya mengangguk singkat.

Hidung Raina sedikit mengembang sementara giginya menggigit bibir atas, berusaha keras menahan senyum yang hampir meledak di wajahnya. “Oke, deal ya!” serunya kemudian sambil mengulurkan tangan dengan gaya sok profesional.

Yiran diam beberapa detik memandangi tangan kecil di hadapannya itu. Kukunya dipotong pendek-pendek, jemarinya mungil, dan entah kenapa hal sederhana itu terasa anehnya mencolok di mata Yiran. Setelah jeda singkat, ia akhirnya mengeluarkan tangan kanannya dari saku hoodie lalu menjabat tangan Raina seperlunya.

Namun sentuhan singkat itu sudah cukup membuat Raina makin sumringah.

Mata gadis itu langsung berbinar terang, senyum lebar tersungging di bibir tipisnya meski ia jelas sedang mati-matian berusaha terlihat biasa saja. Bahkan setelah tangan mereka terlepas, Raina masih mendongak ke langit sambil bergumam panjang.

“Emmmmmm…”

Yiran melirik diam-diam.

Tatapannya sempat tertahan sepersekian detik pada wajah Raina sebelum buru-buru dialihkan lagi saat gadis itu menoleh kembali ke arahnya.

“Gue ada beberapa pertanyaan,” kata Raina tiba-tiba.

Sambil kembali menatap pohon di seberang jalan, Yiran hanya mengedikkan dagu kecil, menyuruhnya lanjut bicara.

“Catetan gue udah lu baca?”

“Em,” sahut Yiran pendek, setengah gengsi untuk mengakuinya terang-terangan.

Raina tersenyum puas. “Jadi kita belajar mulai dari situ aja?”

“Terserah.”

“Kita mau belajar bareng di mana?”

“Terserah.”

“Mulai dari Bahasa Inggris, Indonesia, apa Korea?”

Lihat selengkapnya