Rintik hujan gerimis membasahi kaca jendela di samping meja mereka, membentuk garis-garis air tipis yang perlahan meluncur turun. Suasana di dalam kafe terasa hangat dan tenang, kontras dengan langit kelabu di luar sana. Tempat itu masih tergolong baru, baru beberapa bulan dibuka, tetapi sudah cukup ramai karena konsepnya yang terasa nyaman dan hommy. Meja serta kursinya terbuat dari kayu semi unfinished dengan warna natural yang sengaja dibiarkan kasar, sementara pot-pot tanaman hidup diletakkan di berbagai sudut ruangan, membuat aroma tanah basah bercampur samar dengan wangi kopi.
Raina menyapukan pandangannya perlahan ke sekeliling sebelum akhirnya tanpa sadar berhenti pada sosok Yiran di hadapannya.
Cowok itu sedang diam menatap rintik air di kaca jendela dengan dagu sedikit terangkat. Bahkan di bawah cahaya temaram kekuningan seperti ini, menurut Raina, Yiran tetap terlihat terlalu bersinar untuk ukuran manusia biasa.
Mata Yiran bergerak pelan saat menoleh.
Dan tepat ketika tatapan mereka hampir bertemu, Raina buru-buru mengalihkan pandangan ke buku-buku di atas meja sambil berdeham canggung.
“Jadi…” katanya sambil membolak-balik lembaran buku sedikit terlalu kasar karena gugup. Pipi gadis itu mulai merona sadar Yiran sepertinya masih memperhatikannya. “Belajar Bahasa Indonesia dulu!”
Sudut bibir Yiran sedikit terangkat samar. Ia melipat kedua tangannya di atas meja lalu menundukkan tubuhnya sedikit untuk melihat halaman buku yang ditunjuk Raina.
Namun beberapa detik berlalu tanpa respons apa pun.
Melihat Yiran hanya diam memandangi buku tersebut, Raina mulai ragu dengan pilihannya sendiri. Jemarinya bergerak gelisah dibalik sampul buku. “Mau diganti yang lain?” tawarnya hati-hati sambil bersiap menutup halaman itu.
“Enggak.”
Tangan Yiran terulur cepat menahan gerakannya.
Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan Raina sebentar.
“Nggak usah,” lanjutnya pelan sambil menarik tangannya kembali melipatnya di atas meja. “Yang itu aja.”
Senyum kecil langsung muncul di bibir Raina. Tebakannya benar.
Semalaman ia memang sibuk memikirkan harus mulai mengajari Yiran dari mana. Berdasarkan caranya berbicara yang terlalu singkat dan hemat kata, Raina menduga masalah terbesar Yiran bukan kesulitan memahami kalimat panjang, melainkan justru terlalu ekstrim saat menyingkatnya. Maka ia memutuskan memulai dari materi pengefektifan kalimat.
Dan ternyata…
Dugaan itu jauh lebih benar dari yang ia kira.
Saat Yiran mulai menulis, perhatian Raina sempat teralihkan oleh tulisan tangan cowok itu yang sangat rapi dan bagus. Goresan penanya tegas dan konsisten, sampai membuat Raina langsung minder dengan tulisan tangannya sendiri yang besar kecil hurufnya suka berubah seenaknya.
Namun rasa kagumnya tak bertahan lama. Begitu kertas itu diserahkan kembali padanya, rahang Raina langsung jatuh. Matanya membulat lebar. Ia benar-benar tidak menyangka kemampuan Yiran dalam mengefektifkan kalimat bisa separah ini.
Kalimat lima baris penuh informasi yang tadi ia berikan sekarang berubah jadi… satu baris pendek yang bahkan nyaris menghilangkan inti pembahasannya sendiri.
Raina mengangkat wajah perlahan menatap Yiran sambil menggigit bibir, berusaha keras menyusun kata-kata yang tidak akan membuat cowok itu merasa dipermalukan.
Sementara itu, Yiran justru sedang memperhatikan ekspresi bingung di wajah Raina. Mata kecil gadis itu yang membulat kebingungan dan bulu matanya yang lentik tanpa sadar mencuri fokusnya. Tak ingin ketahuan terlalu memperhatikan, Yiran buru-buru memalingkan wajah kembali ke arah jendela.
Dan sialnya, melihat Yiran menatap keluar jendela dengan cahaya hujan yang memantul samar di wajahnya justru membuat Raina kembali kehilangan fokus.
Ia sadar kalau terus begini dirinya tidak akan bisa mengajar dengan benar. Raina langsung menarik napas panjang dalam-dalam lalu buru-buru berdiri dari kursinya.
“Gue ke toilet dulu,” katanya cepat sambil meraih ponsel di atas meja, berusaha kabur sejenak untuk menyelamatkan kewarasannya sendiri.
Raina buru-buru merangsek masuk ke dalam bilik toilet begitu pintu ruangannya kosong. Ia menutup pintu cepat-cepat lalu menjatuhkan diri duduk di atas kloset yang masih tertutup sambil memegangi dadanya sendiri.
Degup jantungnya tidak masuk akal. Napasnya naik turun terlalu cepat sampai ia harus berkali-kali menarik udara panjang untuk menenangkan diri agar tidak semakin tersengal.
“Kendaliin diri lu…” gumamnya pelan.
Kedua pipinya yang terasa panas ditepuk-tepuk ringan berkali-kali. “Fokus, Raina! Fokus!” ucapnya berulang seperti mantra.