AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #8

8. Khawatir

Kavi mengamati Yiran dari tempat duduknya sambil mengetukkan ujung pulpen pelan ke meja. Cowok itu sedang duduk di samping Bagus dengan posisi malas menyandar di kursi, sesekali menanggapi ocehan Bagus seadanya. Sejak tadi perhatian Kavi terus tertarik ke sana, pikirannya sibuk mempertimbangkan apakah ia benar-benar perlu melakukan ini atau tidak.

Pada akhirnya, setelah menghembuskan napas panjang, Kavi memilih bangkit dari kursinya.

Bagus langsung menghentikan celotehannya begitu melihat ketua kelas mereka berjalan mendekat ke arah meja.

“Boleh ngobrol sebentar?” tanya Kavi sambil menepuk bahu Yiran singkat.

Bagus spontan mencuri pandang penuh rasa ingin tahu. Dua manusia paling pintar sekaligus paling irit bicara di kelas tiba-tiba ingin ngobrol berdua, jelas terdengar seperti kejadian langka. Bahkan tanpa sadar tubuhnya sedikit condong, siap menyimak kalau-kalau ada drama besar yang akan terjadi.

Namun Yiran tidak bertanya apapun. Ia langsung berdiri lalu mengikuti langkah Kavi keluar kelas begitu saja.

Begitu mereka berhenti di koridor yang masih cukup sepi sebelum jam pertama dimulai, Kavi langsung memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil mengatur napasnya sebentar.

“Sorry sebelumnya…” buka Kavi pelan. “Mungkin kedengarannya agak aneh, tapi gue mau to the point aja.”

Tatapan Yiran berpindah ke wajah Kavi, menunggu lanjutannya.

“Boleh gue tanya…” Kavi berhenti sepersekian detik sebelum akhirnya melanjutkan tanpa tedeng aling-aling, “apa hubungan lu sama Raina?”

Kedua alis Yiran langsung terangkat samar. Oke. Sesuai yang Kavi bilang tadi, pertanyaan itu memang terdengar aneh.

“Kenapa emang?” balas Yiran datar.

Kavi menarik napas dalam-dalam. Bahkan dirinya sendiri sadar betapa bodoh dan egois permintaan ini terdengar. Namun tetap saja, ia merasa perlu mengatakannya.

“Gue nggak tau hubungan kalian apa,” katanya akhirnya sambil menatap lurus ke arah Yiran. “Tapi gue minta tolong… jangan sampai dia kesusahan.”

Mata Yiran berkelebat kecil.

Ia benar-benar tidak menyangka ketua kelas yang selama ini disebut jenius oleh satu angkatan ternyata bisa mengatakan sesuatu seaneh ini. Kalimat Kavi terdengar terlalu personal dan membebani.

Namun alih-alih bertanya lebih jauh, Yiran hanya mengedikkan bahu malas. “Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia,” tegasnya singkat.

Kavi tampak masih ingin mengatakan sesuatu. Rahangnya sempat bergerak seolah sedang menyusun kalimat lain di kepala. Namun sebelum sempat berbicara lagi, suara langkah sepatu terdengar mendekat dari ujung koridor.

Guru fisika mereka sudah datang.

Kavi melirik cepat ke arah gurunya lalu kembali menatap Yiran untuk terakhir kali.

“Kalau nggak ada apa-apa…” katanya pendek sambil berjalan mundur menuju pintu kelas, “please jaga jarak.”

Setelah mengucapkannya, Kavi langsung masuk ke kelas tepat di belakang guru fisika mereka, meninggalkan Yiran berdiri sendiri di koridor dengan dahi sedikit berkerut memikirkan maksud ucapan barusan.


Di dalam kelas, Bagus menunggu dengan penuh antisipasi, kakinya bergerak-gerak penuh semangat saat Yiran dan Kavi kembali masuk. Ia langsung merendahkan kepalanya sedikit dan berbisik ke Yiran yang baru saja menempelkan bokongnya di kursi. “Ada apaan?” desaknya penasaran.

Yiran melirik sinis sambil berdecak.

Sudah mulai terbiasa dengan sifat ketus Yiran, Bagus hanya nyengir kuda.

“Gue mau nanya,” bisik Yiran.

Bagus mengangguk-anguk bersemangat, “Apa, apa?”

“Lu tau ada hubungan apa Kavi sama Raina anak kelas IPS?”

Mata Bagus langsung berkilat, “Jelas tau!” sahutnya yakin. “Nanti gue ceritain!” janjinya saat mendapati guru fisika sedang memperhatikan ke arahnya.

Yiran mengangguk-angguk pelan sambil menyimak guru yang mulai menjelaskan pelajaran di depan kelas. Meski pandangannya tertuju ke depan, fokusnya tak sepenuhnya berada di sana.

Sesekali matanya melirik ke arah Kavi. Sudah beberapa hari ini ia berusaha tak penasaran. Namun makin lama, rasa ingin tahunya justru semakin mengganggu kepalanya sendiri.

Tentang Raina yang selalu terlihat waspada setiap mendengar nama Lisa. Tentang caranya buru-buru menghindar seolah tak ingin berurusan sedikitpun dengan cewek itu. Dan tentang Kavi, yang entah bagaimana selalu terseret di tengah situasi mereka.

Lihat selengkapnya