AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #9

9. Baik Setelah Buruk

Kavi menyesuaikan langkah kaki Raina yang sedikit lebih lambat dari biasanya, sambil sesekali melirik untuk mengecek kondisi mantan pacarnya yang sedang tidak baik-baik saja itu.

Jalanan sore cukup ramai oleh suara motor yang berlalu-lalang dan pedagang kaki lima yang mulai menata dagangan. Langit tampak mendung pucat, membuat udara terasa gerah meski angin sesekali berhembus pelan membawa aroma tanah dan asap kendaraan.

Meski tak diungkapkan, Kavi merasa senang Raina membiarkannya mengantar Raina pulang. Bahkan di ruang UKS tadi, saat Tami dan Duna heboh bertanya apa yang terjadi padanya, kalimat pertama yang Raina ucapkan saat ia membuka mata justru ucapan terima kasih pada Kavi.

Kini, keduanya berjalan berdampingan menuju rumah Raina. Tempat yang bahkan Kavi belum pernah datangi saat mereka pacaran dulu, karena Raina merahasiakan tentang hubungan mereka dari orang tuanya yang lumayan konservatif.

Beberapa meter sebelum sampai ke pagar rumahnya, Raina berhenti. Matanya yang masih sembab memandang Kavi canggung. “Sampe sini aja,” ucapnya pelan.

“Oh. Oh iya,” balas Kavi sama canggungnya, sambil menyerahkan tas Raina yang sejak tadi ia bawakan.

“Sekali lagi, makasih ya.” Raina membalikkan badannya dan melanjutkan langkah.

“Ina!” panggil Kavi. Membuat Raina tertegun dan berhenti.

Sudah setahun ia tak mendengar panggilan itu dari mulut Kavi.

Kavi mendekat perlahan, “Gue, mau minta maaf.”

“Maafin gue atas kejadian yang lalu, semua salah paham itu nggak bakal terjadi kalau bukan karena gue, dan….” Alisnya berkedut samar. “dan lo nggak akan ngalamin kayak gini kalo bukan gara-gara gue. Gue bener-bener minta maaf.” Tunduknya  penuh sesal.

Raina menggigit bibir, matanya berkedip menahan tangis. Meski banyak kata-kata yang ingin diucap, ia memilih menahan semuanya. Karena mau dibahas bagaimanapun semua sudah berlalu, dan Kavi benar, yang tersisa di antara mereka saat ini adalah hutang permintaan maaf.

Ia kemudian mengangguk, “Maafin gue juga.” Balasnya. “Gue juga salah. Mudah-mudahan kedepannya kita bisa temenan baik lagi.”

Kavi mengangkat kepalanya dan langsung mengangguk setuju. Dengan senyum tersungging dan tatapan berbinar, ia mengulurkan tangan.

Keduanya berjabat tangan dibawah langit senja yang kelabu. Kemudian tersenyum. Tak menyangka akan datang hari seperti ini, hari dimana beban mereka menjadi lebih ringan, dimana masalah yang sudah setahun membelenggu, terlepaskan.

***

Yiran berbaring menyamping di pinggir kasur dengan kedua kaki masih menapak lantai. Tangan kirinya terlipat di bawah kepala, sementara tangan kanannya sibuk memantulkan bola tenis ke dinding kamar secara berulang.

Tuk!

Tangkap.

Tuk!

Tangkap!

Biasanya suara pantulan monoton itu cukup untuk mengosongkan pikirannya, tetapi malam ini tidak.

Tatapannya kosong mengarah ke dinding, sementara kepalanya justru penuh hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan. Ia sendiri tak mengerti kenapa dirinya terusik sejauh ini. Padahal awalnya ia hanya sedikit penasaran, setelah Kavi tiba-tiba menegurnya dengan ucapan aneh pagi tadi. Karena itu ia sempat bertanya pada Bagus dan akhirnya mengetahui soal hubungan Kavi dan Raina yang ternyata pernah pacaran. Harusnya cukup sampai di situ. Ia hanya berpikir dengan mengetahui situasinya, akan lebih mudah menentukan sikap kedepannya.

Namun semuanya justru terasa makin rumit setelah kejadian tadi siang.

Bagaimana Raina yang paginya masih mendekatinya duluan seperti biasa, malah pura-pura tidak mendengar saat ia memanggil. Gadis itu menghindar. Hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tetapi entah kenapa cukup membuat dadanya terasa tak nyaman.

Pikirannya pun mulai menduga-duga sendiri.

Apa karena Kavi?

Setelah mendengar dari Bagus kalau hubungan mereka berakhir karena Raina yang memutuskan sepihak. Membuat Yiran tanpa sadar bertanya-tanya apakah Raina sengaja menjaga jarak karena Kavi ada di kelas saat itu, atau mungkin mereka sebenarnya masih terikat? Dan yang paling mengganggunya, ia jadi merasa seperti orang bodoh yang tanpa sadar masuk ke tengah hubungan rumit mereka.

Rasa tersinggung itulah yang membuat matanya beberapa kali menoleh ke arah Kavi selama pelajaran berlangsung. Tanpa sadar jadi memperhatikan gerak-gerik gelisah cowok itu. Lalu saat Kavi tidak kembali ke kelas setelah mengantarkan buku guru Matematika ke kelas Raina, perhatian Yiran malah makin sulit lepas dari kursi kosong di barisan paling depan itu.

Sampai akhirnya suasana sekolah mendadak heboh karena Kavi menggendong Raina yang pingsan menuju UKS.

Sejak melihat kejadian itu, pikiran Yiran benar-benar terasa kacau.

Ada banyak perasaan asing bercampur jadi satu di kepalanya, kesal, terganggu, penasaran. Padahal sebelumnya ia sempat berpikir mungkin hari-harinya di sekolah akan lebih menyenangkan kalau lebih mengenal Raina. Namun sekarang semuanya mendadak terasa merepotkan. Ia tak mau terlibat lebih jauh drama picisan diantara mereka.

Pintu kamarnya mendadak terbuka kasar, menghantam dinding dan menimbulkan bunyi keras yang menggema.

“Ran!”

Sinta berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut penuh kesal. Rambutnya diikat asal, sementara tangan kirinya bertolak pinggang seolah sudah menahan emosi sejak beberapa menit lalu.

“Jangan berisik bisa nggak sih?!” semburnya. “Gue lagi belajar!”

Bola tenis yang sejak tadi terus membentur dinding akhirnya ditangkap Yiran tanpa dipantulkan lagi. Namun dia tidak menoleh. Pandangannya kosong lurus ke depan seperti tidak benar-benar mendengar omelan kakak tirinya.

Lihat selengkapnya