Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga, Raina melangkah keluar sambil menyesuaikan napasnya yang masih sedikit memburu setelah berjalan kaki dari sekolah. Gedung ini sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi entah bagaimana ia baru sadar ada tempat seperti ini di sekitar sekolahnya.
Koridor lantai tiga terlihat tenang dan rapi. Di kanan kirinya berjajar ruangan-ruangan berdinding kaca dengan lapisan putih buram di bagian tengah, membuat bayangan orang-orang di dalam hanya tampak samar. Suara pendingin ruangan bercampur bunyi ketikan keyboard terdengar pelan di beberapa ruangan yang ia lewati.
Ia terus berjalan sambil sesekali melirik nomor ruangan yang terpasang di dekat pintu. Sampai akhirnya, tak jauh dari lift di pojok koridor, ia menemukan nomor yang dikirim Yiran lewat chat.
Langkahnya langsung melambat. Dengan hati-hati Raina mendorong pintu ruangan itu pelan.
Udara dingin dari dalam langsung menyeruak keluar menyentuh kulitnya yang sedikit panas karena berjalan kaki di bawah matahari sore. Bahunya refleks terangkat kecil menikmati hawa sejuk tersebut sebelum matanya bergerak mengamati isi ruangan.
Ruangan itu tidak terlalu besar, mungkin sekitar sepuluh meter, hanya berisi dua meja panjang dan beberapa kursi dengan suasana yang jauh lebih sunyi dibanding area luar tadi. Dan di pojok dekat jendela, Yiran sudah duduk.
Cowok itu bersandar santai di kursinya dengan cahaya matahari sore jatuh miring menerpa sisi wajah dan kulitnya. Pantulan warna keemasan dari luar jendela membuat sosoknya terlihat terlalu mencolok di mata Raina sampai langkahnya sempat terhenti sepersekian detik.
Namun Yiran hanya diam memperhatikan.
Tatapannya mengikuti Raina yang buru-buru berjalan mendekat lalu langsung duduk di kursi seberangnya sambil mengeluarkan buku-buku dari dalam tas. Gadis itu sesekali melirik ke sekeliling ruangan dengan mata penuh rasa penasaran, jelas terlihat sedang mencoba memahami tempat asing yang baru pertama kali ia datangi.
Cara Raina menatap ruangan satu per satu sambil sedikit mendongakkan kepala membuat Yiran tanpa sadar memalingkan wajah ke arah jendela. Sudut bibirnya nyaris terangkat. Lucu.
“Anak sekolah juga boleh sewa tempat ini?” tanya Raina polos.
Yiran menarik napas kecil lebih dulu, menghapus sisa senyum di wajahnya sebelum akhirnya menoleh lagi dengan ekspresi datar seperti biasa. “Gue kenal sama yang punya.”
“Ohhhh…” Raina mengangguk-angguk, sambil mulai menjajarkan buku-buku di atas meja dengan rapi.
Di seberangnya, Yiran kembali diam-diam memperhatikan. Tatapannya tertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya sampai ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain begitu Raina terlihat sedikit saja hendak menoleh ke arahnya.
Suara pintu diketuk memecah kesunyian. Seorang cowok berusia dua puluh tahunan berkulit putih pucat yang badannya hampir sama jangkung dengan Yiran masuk sambil membawa baki dengan minuman di atasnya. Mendekati mereka lalu menaruh segelas es kopi di hadapan Yiran, dan milk tea di hadapan Raina. Raina mengerling kaget ke arah Yiran sambil berpikir, bagaimana bisa Yiran tahu dia suka milk tea.
Dari ekor mata Yiran yang sedang mengaduk-aduk kopi sadar akan pandangan Raina. Dalam hati merasa lega pilihannya tak salah, karena sebenarnya ia sempat ragu dan lama memutuskan harus menyiapkan minuman apa untuk Raina, sampai googling dulu minuman apa yang biasanya disukai oleh wanita.
“Halo adek cantik, siapa namanya?” Sapa cowok pengantar minuman dengan keramahan berlebihan yang tak terprediksi.
Raina nyengir kuda, sementara Yiran melemparkan lirikan sinis.
Melihat ekspresi Yiran, cowok itu yang langsung terkekeh. “Baru kali ini loh gue liat Yiran bawa cewek!” godanya.
“Apaan sih! Udah sana pergi!” usir Yiran sambil merengut.
Raina mengatupkan mulutnya rapat-rapat, di satu sisi ia berpikir apa hubungannya cowok ini dengan Yiran, di sisi lain kata-kata cowok ini membuatnya senang.
Cowok itu mengulurkan tangan ke Raina, “Daniel.” Ia memperkenalkan diri. “Kakak sepupunya Yiran.”
“Ah!” Saat Raina hendak menyambut tangannya untuk dijabat, Yiran malah menepis tangan Daniel cukup keras sampai cowok itu meringis kesakitan dan mengibas-ngibaskan tangannya di udara.
“Raina!” balas Raina sambil tersenyum ramah dan melambai-lambaikan tangan pelan.
“Udah sana!” usir Yiran lagi sambil mengerutkan dahi.
Daniel terkekeh makin menjadi, puas sudah menggoda adik sepupu yang jarang ditemui ini, “Iya, iya! Selamat belajar ya!” Pamitnya sambil keluar ruangan menyempatkan berseru, “Belajar yang bener!” sebelum menutup pintu.
Yiran mendengus dengan bibir berkerut, bergeleng-geleng sambil mengambil salah satu buku yang Raina jajarkan di atas meja dan membukanya asal.