AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #12

12. Skinship

Di tengah riuh kantin saat jam makan siang, ketika suara obrolan, denting sendok, dan tawa murid bercampur jadi satu, Raina berjalan membawa semangkuk bakso di kedua tangannya sambil mengikuti Tami dan Duna di depan.

Lalu tiba-tiba, sebuah kaki menjulur ke jalurnya.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Ujung sepatu Raina tersangkut, tubuhnya langsung oleng ke depan, dan sebelum sempat menyeimbangkan diri, ia jatuh tersungkur di lantai kantin.

Bruk.

Kuah bakso tumpah ke lantai. Mangkoknya menggelinding jauh sementara telapak tangan Raina menghantam keramik dingin nyaris bersamaan dengan wajahnya yang hampir ikut terbentur.

Suara kantin langsung berubah gaduh. Beberapa murid refleks berseru kaget. Sebagian lain malah tertawa. Raina mengangkat wajah perlahan dengan napas tercekat. Lututnya terasa perih, sementara telapak tangannya mulai panas karena gesekan dengan lantai.

“Raina!” Tami dan Duna langsung buru-buru menghampiri.

Keduanya membantu Raina bangkit sambil memapah tubuhnya berdiri sebelum lebih banyak orang menonton terlalu lama.

Saat berdiri, pandangan Raina otomatis bergerak ke arah tempat asal kaki tadi menjulur. Cindy dan Nanda duduk di sana. Keduanya cekikikan sambil pura-pura sibuk sendiri, bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Raina, seolah apa yang baru terjadi sama sekali bukan ulah mereka.

Rahangan Tami langsung mengeras. Namun sebelum emosinya meledak, Duna langsung menahan bahunya.

“Udah, udah…” bisik Duna. Ia tahu persis tatapan sahabatnya itu sudah siap mencari ribut. “Ayok, ayok!” Ia langsung menarik mereka pergi dari kantin, menjauh dari tatapan orang-orang yang masih terus memperhatikan dan berbisik-bisik.

Begitu sampai di kelas, Tami membanting duduknya kasar ke kursi. “Emang kurang ajar itu cewek!” umpatnya geram.

Di sebelahnya, Raina perlahan duduk sambil meringis kecil menahan nyeri. “Kenapa sih mereka masih ngincer gue aja…” gumamnya lirih. “Salah gue apa sama mereka…”

Tami yang masih mendidih baru sadar ekspresi wajah Raina berubah. “Kenapa?” tanyanya cepat sambil menunduk memperhatikan kaki Raina.

Pergelangan kaki kanan gadis itu mulai memerah dan sedikit membengkak.

Waktu jatuh tadi, seluruh beban tubuhnya tertahan di kaki itu. Dan karena beberapa tahun lalu kaki yang sama pernah cedera akibat jatuh dari sepeda, rasa sakitnya langsung muncul lagi sekarang.

“Kita ke UKS yuk!” Tami langsung berdiri sambil memegang lengan Raina.

Namun Raina buru-buru menggeleng. “Nggak usah… bentar lagi pelajaran mulai.

“Lu yakin?”

Raina mengangguk pelan meski wajahnya masih menahan sakit.

Tami akhirnya duduk lagi sambil melipat tangan di depan dada dengan wajah kusut penuh kesal. “Sebenarnya itu orang-orang pada kenapa sih…” gerutunya frustrasi.

Duna yang sejak tadi terlihat ragu-ragu akhirnya berdehem kecil. “Sebenernya…” katanya pelan, “gue tadi pagi denger sesuatu waktu di toilet.”

“Apa?” desak Tami cepat.

Duna melirik Raina sebentar sebelum lanjut bicara. “Kayaknya ada yang liat lu…”

“Gue?” Raina menunjuk dirinya sendiri bingung. “Dimana?”

“Di pinggir jalan…” jawab Duna hati-hati. “Sama Yiran. Beberapa hari lalu.”

Tami langsung memejamkan mata sambil mendesis kesal. “Sialan…”

Sementara Raina refleks memijat dahinya sendiri pelan.

“Kenapa nggak bilang dari pagi sih!” keluh Tami.

Duna langsung memasang wajah bersalah. “Maaf… gue nggak kepikiran bakal separah ini…”

“Pantesan aja mereka mulai lagi…” gumam Raina pelan.

Namun ucapan itu malah membuat emosi Tami naik lagi. “Ya tapi emang kenapa sih?!” protesnya keras. “Emang semua cowok ganteng di sekolah ini punya Lisa? Emang Yiran sukanya sama Lisa?”

“Lagian Yiran juga nggak suka sama gue…” Raina mencoba menenangkan suasana. “Kenapa mereka harus takut sih…”

Lihat selengkapnya