Yiran duduk di depan meja makan bundar sambil mengoleskan mentega ke permukaan rotinya perlahan. Bunyi pisau kecil yang bergesekan dengan piring terdengar samar di tengah suasana rumah yang terlalu sunyi untuk ukuran pagi hari.
Meja makan itu besar. Namun terasa kosong. Di seberangnya, Sinta duduk sambil menyilangkan kaki. Tangan kirinya memegang roti, sementara tangan kanannya sibuk mengetik cepat di layar ponsel tanpa sekalipun mengangkat kepala.
Sudah hampir sepuluh menit mereka duduk saling berhadapan. Tak ada sapaan. Tak ada percakapan. Hanya bunyi sendok, notifikasi ponsel, dan denting gelas sesekali yang mengisi ruangan.
Beberapa saat kemudian, seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun berlari kecil memasuki ruang makan dengan rambut yang masih sedikit acak-acakan.
“Pagi, Kak!” Suara Dito terdengar riang saat ia menarik kursi kosong di antara Yiran dan Sinta.
Namun tak satupun dari kedua kakak tirinya membalas.
Senyum Dito sedikit turun, tetapi anak itu tetap duduk sambil mulai memainkan sendoknya sendiri.
Tak lama kemudian, Farida muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi. Wanita itu duduk di samping Dito, lalu matanya langsung bergerak ke arah Yiran yang sedang menenggak air minumnya sebelum berdiri dari kursi.
Melihat Yiran lagi-lagi hendak pergi tanpa banyak bicara, Farida berdehem pelan. “Yiran,” panggilnya.
Langkah Yiran berhenti sebentar. “Gimana sesi belajar barengnya?” tanya Farida sambil merapikan ujung lengan bajunya. “Udah ada kemajuan?”
Nada suaranya terdengar tenang, tetapi cukup menekan untuk membuat suasana makin tidak nyaman.
Yiran diam sepersekian detik. Namun ia tetap tidak menoleh. “Urusin aja beasiswanya.” Jawabannya pendek dan datar. Setelah itu ia langsung menyampirkan tas ke bahu lalu berjalan keluar rumah begitu saja.
Farida langsung mendecak pelan. “Bener-bener nggak ada sopannya…”
Di sisi lain meja, Sinta malah tertawa sinis kecil mendengar gumaman ibu tirinya itu.
Namun beberapa detik kemudian ia ikut bangkit dari kursi lalu mempercepat langkah menyusul Yiran keluar rumah.
“Beasiswa apaan?” tanyanya begitu berhasil menyamai langkah Yiran di halaman depan.
Namun Yiran hanya melirik sekilas tanpa menjawab apapun sebelum membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Sinta langsung mengerucutkan bibir kesal. Tadi ia memang ikut menertawakan Farida. Tapi dalam hati, ia setuju satu hal, Yiran memang menyebalkan.
Dengan dengusan kecil, Sinta berbalik lalu berjalan menyeberang ke arah sedan merah mencolok milik pacarnya yang sudah menunggu di depan rumah.
Dari dalam mobil, Yiran memperhatikan sekilas. Mobil merah itu selalu terasa terlalu terang dan menyakitkan mata setiap pagi. Namun setidaknya sejak Sinta pacaran dengan cowok itu, ia tak perlu lagi berangkat bersama kakak tirinya tersebut. Dan Yiran sangat nyaman dengan perubahan itu.
Mobil perlahan mulai berjalan meninggalkan rumah. Di depan, Pak Anto diam-diam melirik Yiran lewat spion tengah.
Cowok itu duduk seperti biasa, memasang earphone, menatap jendela, dan terlihat seolah membangun dinding tak terlihat di sekeliling dirinya sendiri.
Kadang Pak Anto merasa sayang.
Yiran pintar, tampan, dan sebenarnya tidak pernah membuat masalah besar. Tapi entah kenapa anak itu tumbuh jadi pribadi yang terlalu tertutup. Sambil menyetir, Pak Anto teringat cerita para pengurus rumah saat pertama kali ia mulai bekerja lima tahun lalu.
Keluarga itu memang terlihat normal dari luar. Rumah besar. Mobil bagus. Kehidupan berkecukupan. Namun di dalamnya, hubungan mereka berantakan.
Sinta lahir dari pernikahan pertama Axel. Perceraian pertama terjadi saat Sinta baru berumur lima tahun. Setelah itu Axel menikah lagi dengan ibu kandung Yiran, dan Yiran lahir setahun kemudian. Namun pernikahan kedua itu pun gagal saat Yiran masih tiga belas tahun. Setelah bertahun-tahun berganti pasangan, Axel akhirnya menikah lagi dengan Farida setahun lalu. Dan wanita itu datang bersama Dito, anak kandungnya dari pernikahan sebelumnya. Sejak itu, rumah ini terasa seperti kumpulan orang asing yang dipaksa hidup di bawah atap yang sama.
Sadar dirinya beberapa kali diperhatikan lewat kaca spion, Yiran akhirnya melirik balik. Pak Anto langsung salah tingkah dan buru-buru memusatkan pandangan ke jalan lagi. ***
Mata Kavi berkedip-kedip dengan cepat memandangi layar ponselnya. Ia membaca dengan seksama setiap tulisan dan komentar yang ada di postingan instagram seorang yang pastinya adalah siswa di sekolahnya. “Sial!” umpatnya, buru-buru berlari keluar kelas dan menyambangi kelas Lisa.
“Lisa!” panggilnya emosi.
Nanda, Meita dan Cindy sampai melotot kaget melihat Kavi yang berdiri di ambang pintu kelas mereka dengan mata menyala.
“Sini! Gue mo ngomong!” panggil Kavi.
Lisa yang sudah menduga apa yang akan Kavi bicarakan, bangkit dari kursinya malas-malasan. Bergerak menyambangi Kavi dan keduanya bergeser ke depan pintu ruang penyimpanan keperluan olahraga.
“Ini kerjaan lu?” Kavi menunjukkan layar ponselnya ke Lisa yang melirik ogah-ogahan.
“Bukan,” sahut Lisa singkat sambil melipat kedua tangannya di depan perut.