AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #14

14. Tak Rela

Yiran terdiam di balik meja terluar kantin, matanya tertuju ke kelas Raina yang pintunya terlihat dari tempatnya duduk. Satu per satu murid keluar dari sana, tapi ia tak menemukan sosok yang dicari.

Ia perlu segera bertemu Raina untuk memastikan perasaannya, apakah dia benar-benar suka dengan cewek ini atau tidak.

Matanya berkelebat saat melihat Tami dan Duna bergandengan berdua menuju kantin, biasanya Raina selalu ada di antara mereka. Yiran mengamati dengan seksama Tami dan Duna yang memasuki kantin dan menyambangi seseorang yang duduk di pojok ruangan.

Tami melepaskan tangan Duna dan bertolak pinggang sambil melototi Meita yang langsung meliriknya sambil mengerutkan dahinya. “Lu kan yang posting?” lontar Tami.

Bola mata Meita bergerak ke kanan dan kiri, “Lu ngomong apaan sih?” Ia berkelit.

“Nggak usah belaga gak tau deh!” Tami mendorong bahu Meita, “Gue peringatin lu ya, kalau lu gak hapus posting-an itu, gue laporin lu ke guru BK!” ancamnya sambil menunjuk wajah Meita. “Gue punya buktinya!”

Meita mengalihkan pandangannya, lalu menghentakkan kakinya dan beranjak pergi dari tempat duduknya dengan wajah cemberut.

“Cih!” cibir Tami saat Meita melewatinya dan kabur begitu saja.

Duna cengar-cengir, diam-diam mengacungkan jempol ke Tami yang menahan mulutnya untuk nyengir.

“Raina dimana?” suara berat Yiran tiba-tiba terdengar di belakang telinga.

Tami menengok dan terkesiap, belum pernah melihat wajah Yiran sedekat ini. Matanya berbinar dan senyum melengkung di bibirnya tenggelam mengagumi wajah tampan Yiran sambil tergagap. “Ke-kenapa?”

“Raina, dimana?” ulang Yiran.

“Nggak masuk hari ini,” sela Duna, sadar Tami kehilangan akal sehatnya dan tak bisa menjawab.

“Kemana?” tanya Yiran, mendekat kepada Duna. 

Dari jarak yang lebih dekat Duna ikut terkesima, menelan ludahnya sambil menjawab, “Nggak enak badan.” Ia asal menyahut.

Tanpa mengucap apa-apa lagi Yiran berbalik dan pergi.

Tami masih berdiri memandangi punggung Yiran yang menghilang perlahan, “Ampun, dia ganteng banget!” gumam Tami terpesona.

Tak menyahut, Duna menganggukkan kepalanya bersemangat. Tak bisa tak setuju.

“Lu tau kan,” Tami memiringkan kepalanya agar mulutnya lebih dekat dengan telinga Duna. “Aura-aura cowok pinter, ga ganteng aja udah ganteng. Ini dia, dah aura cowok pinter, ganteng pula!” Tami belum puas mengekspresikan kekagumannya pada wajah Yiran. Duna terus mengangguk-angguk setuju.

***

Raina berdiri melamun di pinggir jalan dengan jaket biru belel kebesaran. Kaos putih dan celana tidur hijau yang dipakainya sama sekali tidak cocok dengan warna jaket itu. Rambutnya dijepit asal, sementara wajahnya terlihat bahkan lebih kusut daripada penampilannya. Tatapannya kosong mengarah ke aspal jalan, hanya sesekali berkedip lambat.

Barusan ia mengantar Heru naik taksi.

Percakapan mereka di rumah tadi berlangsung singkat, tetapi selama berbicara Omnya itu terus berusaha menenangkan Raina dengan sikap positifnya. Meyakinkan bahwa kondisi ayah Raina baik-baik saja, sempat sakit, tapi hanya karena kelelahan. Selama lima bulan terakhir, ayahnya memang bekerja sangat keras di pabrik sepatu milik Heru.

Saat Raina menyinggung uang yang kemarin dititipkan lewat Gita, Heru buru-buru menjelaskan bahwa itu sebagian dari gaji ayahnya. Entah benar atau tidak. Raina tahu sejak dulu Heru selalu merasa berhutang budi pada ayahnya yang pernah membiayai dan membesarkannya saat remaja.

Meski semua terdengar baik-baik saja, hati Raina tetap tidak tenang sebelum melihat sendiri keadaan ayahnya. Masalahnya, ponsel sang ayah masih tidak bisa dihubungi sejak seminggu lalu, membuatnya makin ragu pada semua penjelasan tadi.

Ia juga tidak tega membahas soal rentenir yang datang ke rumah. Raina takut Heru akan merasa harus ikut membantu lagi. Untuk sementara, ia hanya bisa memaksa dirinya menepis semua pikiran buruk dan mencoba mencari jalan keluar dengan kepala dingin.

Setelah sadar terlalu lama berdiri di pinggir jalan, Raina akhirnya berbalik hendak masuk ke gang rumahnya lagi.

Namun baru setengah langkah, tubuhnya mendadak berhenti. Matanya bergerak pelan ke seberang jalan, memastikan sosok yang tadi sempat tertangkap sekilas oleh pandangannya.

Dan benar saja. Yiran berdiri di sana sambil menatap lurus ke arahnya.

Raina langsung terperangah. Ia mengucek matanya dengan punggung tangan, merasa mustahil melihat Yiran di tempat seperti ini, apalagi di jam segini. Tapi sosok itu mulai bergerak maju, menyeberangi jalan, lalu berjalan semakin dekat.

Dan semakin dekat Yiran datang, semakin jelas pula bahwa Raina tidak sedang berhalusinasi.

“Yiran?” panggil Raina bingung saat cowok itu menghampirinya.

Yiran sedikit menunduk, meneliti pergelangan kaki Raina yang masih dibalut perban tipis. Setelah itu tangannya terangkat, hendak mengecek suhu tubuh gadis itu dari dahinya. Namun Raina refleks mundur selangkah dengan mata membelalak.

Lihat selengkapnya