Seharian penuh Yiran dan Raina berkeliling taman bermain tanpa benar-benar memikirkan waktu. Matahari yang sejak tadi berdiri tinggi di langit perlahan mulai bergeser, tetapi semangat keduanya seolah tidak ikut menurun sedikit pun. Meski musim liburan membuat tempat itu dipenuhi lautan manusia, suara tawa anak-anak, antrean panjang, dan langkah kaki yang berseliweran ke segala arah, anehnya semua keramaian itu justru terasa hidup.
Mereka mencoba semua wahana yang memungkinkan untuk dinaiki. Dari roller coaster yang membuat Raina berteriak sampai suaranya serak, rumah hantu yang membuatnya refleks mencengkeram lengan Yiran sepanjang perjalanan, sampai permainan sederhana yang sebenarnya tidak terlalu seru tetapi tetap mereka nikmati karena dilakukan bersama.
Tak banyak wahana yang berhasil mereka coba akibat antrian yang terlalu panjang, namun itu sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan mereka. Justru di sela-sela menunggu itulah banyak tawa tercipta. Kadang karena candaan receh Yiran, kadang karena ekspresi Raina yang terlalu jujur saat ketakutan atau terkejut.
Keduanya sama-sama tak ingat kapan terakhir kali mereka menghabiskan satu hari penuh hanya untuk bersenang-senang seperti ini.
Karena kebiasaannya yang gemar mencari rekomendasi makanan sebelum pergi ke suatu tempat, Yiran bahkan sudah membuat daftar panjang jajanan apa saja yang wajib dicoba di taman bermain itu. Di ponselnya terdapat catatan kecil lengkap dengan rating dan ulasan singkat yang ia baca semalam.
Setiap selesai menaiki satu wahana, mereka langsung membeli sesuatu untuk dimakan. Kadang sambil berjalan menuju antrian berikutnya, kadang sambil duduk beristirahat di bangku taman yang menghadap danau buatan di tengah area permainan.
“Beneran enak banget,” gumam Raina, memuji lagi rasa potato tornado yang mereka makan tadi.
Yiran meliriknya sekilas sambil membawa dua gelas minuman. “Kan aku bilang.”
Raina mendecih kecil. “Iya, iya, paling jago.”
Senyum tipis langsung muncul di bibir Yiran mendengar nada bicara Raina yang terdengar jauh lebih ringan dibanding biasanya.
Raina tiba-tiba terpaku ke sebuah kios makanan dengan aroma manis menyeruak sampai ke area jalan utama. Matanya langsung berbinar. “Beli itu yuk!” tunjuknya antusias ke kios churros.
Yiran yang sedang duduk di bangku dekat wahana menunduk membetulkan tali sepatunya bahkan belum sempat menjawab ketika Raina sudah buru-buru menambahkan, “Kamu tunggu di sini aja!”
Dan gadis itu langsung berlari kecil meninggalkannya.
Yiran mengangkat kepala beberapa detik kemudian. Angin sore meniup pelan rambut hitamnya saat matanya mengikuti sosok Raina yang kini berdiri di antrian churros dengan rambut yang bergerak-gerak tertiup angin. Ia duduk tegak sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sudut bibirnya terangkat pelan.
Sejak tadi ia diam-diam terus memperhatikan Raina. Cara gadis itu tertawa tanpa menahan diri, cara matanya menyipit ketika bahagia, sampai caranya berjalan cepat-cepat setiap melihat sesuatu yang menarik perhatian. Hari ini Raina terlihat sangat manis. Terlalu manis sampai Yiran beberapa kali harus memalingkan wajah karena jantungnya sendiri terasa aneh.
Namun senyum di wajahnya perlahan memudar.
Dahinya mulai berkerut saat melihat Raina sudah sampai di depan antrean dan tampak berbicara cukup lama dengan laki-laki penjaga kios. Bukan sekadar memesan makanan biasa. Dari kejauhan mereka terlihat seperti sedang mengobrol akrab. Tatapan Yiran berubah tajam. Rahangnya sedikit mengeras. Tanpa sadar ia langsung berdiri.
Pandangan Yiran tak salah, beberapa saat lalu saat sampai di depan antrian Raina memang menyapa si penjual churros dengan ramah, “Kak Riyan?” ucapnya saat melihat Riyan yang biasa ia lihat ada di kafe Daniel.
“Hai!” sapanya riang, sudah lama sejak terakhir Raina melihatnya, mereka tak pernah ia datang lagi ke kafe setelah tidak belajar bareng di coworking space.
“Oh, Hai!” balas Riyan canggung. Kaget tak menyangka bertemu dengan Raina disini dan lebih kaget karena gadis yang biasa kelihatan sangat diam dan introvert ini menyapa dia dengan ramah dan riang.
“Kerja disini, Kak?” tanya Raina setelah memesan churros untuknya dan Yiran.
Riyan mengangguk-angguk, “Part-time, pas dibutuhin aja.” Terangnya sambil menyiapkan pesanan.
“Ah,” Raina mengangguk-angguk, tiba-tiba teringat sebentar lagi dia juga akan lulus sekolah. Kuliah atau tidak, sepertinya Raina harus tetap coba mencari pekerjaan dalam waktu dekat. Entah mengapa sosok Riyan ini selalu memotivasinya untuk mulai cari kerja.
Penampilannya nyentrik dan berkarakter tapi mampu bekerja dimana-mana, menurut Raina patut diacungi jempol. Bagaimanapun juga stigma masyarakat Indonesia biasanya memandang sebelah mata orang-orang dengan penampilan seperti Riyan ini. Raina menduga pasti sebenarnya sulit bagi Riyan untuk mendapatkan pekerjaan.
“Kak, semisal aku butuh rekomendasi kerja, boleh minta, dong?” tanyanya sambil mengambil churros-nya yang sudah jadi.